ADVERTISEMENT

Tambang Emas di Kalteng Longsor Usai Hujan, 6 Penambang Tewas

Antara - detikNews
Jumat, 29 Okt 2021 13:35 WIB
Jenazah 6 penambang tradisional yang tewas tertimbun longsor di Desa Tumbang Torung, Kecamatan Bukit Santuai, Kotawaringin Timur, dievakuasi (ANTARA/HO-BPBD Kotim)
Jenazah enam penambang tradisional, yang tewas tertimbun longsor, di Desa Tumbang Torung, Kecamatan Bukit Santuai, Kotawaringin Timur, dievakuasi (ANTARA/HO-BPBD Kotim)
Kotawaringin Timur -

Enam penambang tradisional di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah (Kalteng), tewas akibat tertimbun longsor. Saat ini sejumlah instansi berupaya mengevakuasi korban.

"Informasi yang kami dapat, ada enam orang yang meninggal dunia. Semua sudah ditemukan," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur, Rihel, seperti dilansir Antara, Jumat (29/10/2021).

Rihel mengatakan informasi sementara, peristiwa nahas tersebut terjadi pada Kamis (28/10) sekitar pukul 12.00 WIB. Saat itu ada 11 orang yang sedang menambang emas di lokasi itu.

Beberapa saat sebelum kejadian, lokasi tempat para korban mencari emas sedang dilanda hujan. Belum diketahui persis kronologi kejadian penambang tertimbun longsor.

Diduga hujan menyebabkan tanah menjadi labil akibat diguyur hujan hingga memicu longsor dan menimpa para penambang. Dari 11 penambang, enam orang tertimbun longsor, sedangkan lima orang lainnya selamat.

Enam penambang yang tertimpa longsor itu ditemukan beberapa saat kejadian. Keenam korban ditemukan tak bernyawa.

Keenam korban meninggal tersebut adalah Dibau (46) asal Desa Sungai Ubar, Ahmadi (39) asal Desa Sungai Paring Kecamatan Cempaga, MA Jimi asal Desa Sungai Ubar, Hendri (35) asal Desa Tumbang Boloi, Supiansyah (46), dan Edut asal Desa Dirung Kecamatan Murung.

Saat ini jenazah keenam korban masih di lokasi. Pihak kepolisian terdekat bersama pemerintah kecamatan setempat sedang menuju ke tempat kejadian yang lokasinya cukup jauh dan aksesnya sulit.

Berdasarkan sebuah aplikasi, Kecamatan Bukit Santuai berjarak sekitar 196 kilometer dari Sampit, ibu kota Kabupaten Kotawaringin Timur, dengan waktu tempuh sekitar 6 jam. Namun, jika kondisi hujan seperti saat ini, perjalanan bisa menjadi lebih lama karena sebagian jalan menjadi becek dan licin.

"Saat ini posisi jenazah masih di desa tersebut sambil menunggu pihak kepolisian yang meluncur dari Kuala Kuayan menuju lokasi kejadian. Beberapa pihak keluarga juga sudah ada yang mendapat kabar tersebut," kata Rihel.

(jbr/idh)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT