Alasan Pelaku Tutup Jalan ke Rumah Warga dengan Tembok di Medan

Datuk Haris Molana - detikNews
Kamis, 28 Okt 2021 19:43 WIB
Penampakan tembok tutupi akses ke rumah warga di Medan (Datuk-detikcom)
Penampakan tembok tutupi akses ke rumah warga di Medan. (Datuk/detikcom)
Medan -

Akses jalan menuju rumah salah satu warga di Medan, Sumatera Utara (Sumut), ditutup tembok setinggi 2 meter. Warga yang membangun tembok itu buka suara.

"Ya sebenarnya itu tanah, kita beli dari Bapak Samiun, orang kita Aceh, 5 setengah kali 24 meter itu tanah. Ada suratnya, itu suratnya SK Bupati," kata perwakilan pemilik kafe yang menembok, Syamsul Bayu, kepada wartawan, Kamis (28/10/2021).

"Tanah itu sama dengan di White Coffee sebelahnya itu satu surat. Jadi kami pecah, sebagian tanah itu milik kami. Tapi kemarin itu dikuasai oleh Ibu Sinurat. Dia bilang itu tanah Pemko, dia tanam pohon mangga, bunga-bunga, semua dia tanam di situ. Kami biarin, terakhir kami ambil alih itu tanah mau kami manfaatkan untuk parkir. Dia ribut bahwa itu tanah Pemko, tanah Pemko sampai ke DPRD juga," ucap Syamsul.

Syamsul mengaku saat di DPRD Medan bahwa tanah itu tidak pernah diganti rugi oleh Pemko Medan. Dia mengklaim tanah itu masih milik pihaknya.

"Di DPRD juga sudah dijelaskan itu juga bahwa itu tanah tidak pernah diganti rugi oleh Pemko Medan. Masih tanah Pak Gunaran. Udah dijelaskan di situ, udah selesai di DPRD," sebut Syamsul.

Syamsul menyebut pihaknya pun memiliki surat. Surat itu menerangkan bahwa tanah itu belum pernah dibebaskan oleh Pemko Medan. Masalah tanah itu pun sudah sampai ke pengadilan.

"Sampailah kami mengadulah ke pengadilan, sampai pengadilan kami menang di PN Medan. Jadi Ibu (Sinurat) itu dijatuhi hukuman selama 3 bulan pidana. Karena dia orang tua, kami tidak mau dia itu sampai masuk gara-gara ini. Kasihan kami lihat orang tua. Jadi, minta eksekusi itu dia menebang pohon-pohon yang dia tanam itu di tanah kami," ujar Syamsul.

Dalam eksekusi itu diminta untuk mengosongkan tanah, tetapi tidak dilakukan sehingga mereka membuat pernyataan agar dia setuju untuk dieksekusi.

"Jadi eksekusi itu diminta untuk membersihkan. Dia nggak bisa membersihkan, jadi dari kejaksaan buat surat pernyataan Ibu itu bahwasanya beliau setuju untuk itu dieksekusi," ujar Syamsul.

Selain itu, Syamsul mengklaim selama ini pintu keluar-masuk rumah tersebut bukan dari lokasi yang ditemboknya. Menurutnya, selama berada di situ, pemilik rumah keluar-masuk lewat pintu yang berada di Gang Dame.

"Perlu saya jelaskan semua, memang selama ini dia pintu keluar-masuk rumah dia itu tidak pernah dari Ring Road. Dari dulu, dari 40 tahun, pun dia tinggal di situ itu dari Gang Dame dia keluar-masuknya," sebut Syamsul.

Menurut Syamsul, pintu yang arah ke Ringroad baru-baru saja dibuatnya. Dia pun tak menampik sempat melayangkan gugatan secara perdata ke pengadilan.

"Itu kan pertama itu, Pak Gunaran jual ke saya. Karena dikuasai oleh Ibu Sinurat itu tanah itu saya nggak mau, saya gugat ke pengadilan ditolak saya karena data-data tidak lengkap," ucap Syamsul.

Kemudian, masalah itu dilanjutkan ke pengadilan lagi oleh pemilik sebelumnya, Gunaran, secara pidana dan dimenangkan olehnya. Syamsul pun menjelaskan pihaknya memiliki izin atas tembok yang dibangunnya itu. Dia mengklaim izinnya itu dikeluarkan oleh pemerintah.

"Kita punya izin, maka di DPR bilang itu mereka punya izin nggak bisa dibongkar. Dari Pemko Medan. Bina marga untuk buat jembatan. Tidak bisa mereka bongkar," ujar Syamsul.

"Jadi di sepanjang Jalan Ring Road itu udah buat jembatan semua, kalau dibongkar punya saya, dibongkar itu mulai dari Gatot Subroto sampai Ngumban Surbakti," tegas Syamsul.

Lihat juga video ''Perselisihan' di Balik Jalan Pekanbaru yang Ditutup Tembok':

[Gambas:Video 20detik]