Khawatir Banjir Lebih Parah, Warga Bekasi Tolak Proyek Crossing Tol Becakayu

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Kamis, 28 Okt 2021 16:35 WIB
Khawatir Banjir Lebih Parah, Warga Bekasi Tolak Proyek Duplikasi Tol Becakayu (Foto: dok Istimewa)
Khawatir Banjir Lebih Parah, Warga Bekasi Tolak Proyek Duplikasi Tol Becakayu (Dok. Istimewa)
Bekasi -

Proyek penyaluran air dari proyek duplikasi crossing Tol Becakayu dan Saluran Tarum Barat ke Kali Bumi Satria Kencana (BSK) mendapat penolakan dari warga. Penolakan itu datang dari warga RW Kayuringin Jaya dan BSK, Bekasi, Jawa Barat.

Warga menolak proyek penyaluran air itu karena berisiko menyebabkan banjir yang lebih parah di permukiman mereka. Sebab, selama ini 10 RW di wilayah Kayuringin Jaya selalu menjadi langganan banjir dengan ketinggian hingga 2 meter.

"Selama ini Kayuringin Jaya selalu kebanjiran dengan ketinggian genangan air sekitar 1,5 meter sampai 2 meter. Kegiatan (penolakan) ini terus kita perjuangkan untuk tidak memperparah wilayah di Kayuringin," ujar Tim Teknis dari Forum RW BSK Kayuringin Jaya, Nana Supriatna, dalam keterangan tertulis, Kamis (28/10/2021).

Nana menjelaskan, pembangunan proyek tersebut tidak menyelesaikan masalah banjir yang selalu melanda wilayahnya jika hujan dengan intensitas tinggi datang. Dengan proyek penyaluran air itu, menurutnya, debit air di Kali BSK akan makin tinggi dan berisiko meluap lebih cepat ke rumah warga.

"Saluran dari kali Bumi Satria Kencana (BSK) yang menuju Kali Bekasi tepatnya di pintu air Islamic Center ketinggiannya selevel/sama rata dengan permukaan Kali Bekasi, sehingga apabila Kali Bekasi sudah penuh, maka pintu air di Islamic Center harus ditutup, karena kalau tidak ditutup akan menyebabkan banjir besar di wilayah area GOR Chandrabaga, jalan Juanda dan permukiman di wilayah 26 RW BSK Kayuringin Jaya," tutur dia.

Nana menekankan, warga sejatinya tidak menolak proyek yang dibangun oleh pemerintah. Warga hanya ingin penyaluran air dari proyek duplikasi crossing Tol Becakayu dan Saluran Tarum Barat ke Kali BSK itu tidak dilakukan sampai ada solusi terkait banjir di wilayahnya.

"Berdasarkan rekomendasi konsultan amdal proyek Duplikasi Crossing Tol dan Tarum Barat bahwa air buangan dari arah selatan (hulu) tidak memungkinkan untuk dialirkan ke Kali BSK/Rawa Tembaga (hilir), mengingat kali alam ini sudah tidak optimal untuk menampung debit air yang besar dan solusi yg terbaik adalah dialirkan menyusur sisi Kalimalang menuju Kali Bekasi (rumah pompa Giant) yang dibantu didorong dengan menggunakan 3-4 pompa, jadi sisi hulu tidak banjir dan sisi hilir (wilayah 10 RW Kayuringin Jaya) banjirnya tidak semakin parah," papar Nana.

"Warga hanya meminta airnya dialirkan menyusur sisi Kalimalang menuju Kali Bekasi (rumah pompa Giant) yang dibantu didorong dengan menggunakan 3-4 pompa, jadi sisi hulu tidak banjir dan sisi hilir (wilayah 10 RW Kayuringin Jaya) banjirnya tidak semakin parah," lanjutnya.

Lebih lanjut Nana mengungkapkan, warga dan Pemkot Bekasi sebelumnya telah melakukan pertemuan pada 26 Oktober lalu guna menyelesaikan persoalan ini. Namun Pemkot Bekasi tetap berkukuh untuk melanjutkan proyek penyaluran air itu.

(mae/fjp)