Ketua DPD Ajak Pengusaha Cermati Dinamika Politik dan Ekonomi Global

Angga Laraspati - detikNews
Rabu, 27 Okt 2021 18:01 WIB
Ketua DPD Ajak Pengusaha Cermati Dinamika Politik dan Ekonomi Global
Foto: Dok. DPD RI

Menurutnya, pertumbuhan penduduk usia produktif diprediksi akan mencapai 64 persen dari total penduduk yang diproyeksikan sebesar 297 juta jiwa, angkatan kerja Indonesia akan mencapai 71 persen. Ia juga mengatakan saat bersamaan dunia juga berubah drastis dengan penduduknya menjadi 9,45 miliar manusia.

"Output negara berkembang 71 persen dari total output dunia dengan Asia sebagai pendorong utama sebesar 54 persen. Perdagangan global diprediksi tumbuh 3,4 persen per tahun. Negara berkembang menjadi poros perdagangan dan investasi dunia dengan pertumbuhan 6 persen per tahun. Dominasi mata uang dunia bergeser dari dolar AS menjadi multi mata uang," ucapnya.

"Tren perubahan teknologi didominasi oleh teknologi informasi dan komunikasi, bioteknologi dan rekayasa genetik, smart technology, energi terbarukan, otomasi, serta artificial intelligence," lanjutnya.

Tantangan yang harus dicermati pengusaha selanjutnya adalah ancaman pemanasan global juga semakin besar. Jika tidak diimbangi dengan langkah dan upaya yang konkrit, maka peningkatan suhu bumi akan mencapai 3 hingga 3,5 derajat celcius.

Peta geopolitik juga mengalami perubahan, dengan meningkatnya peranan China dan kerentanan di kawasan Timur Tengah, serta meningkatnya kelas baru dan kelompok tertentu di Asia.

LaNyalla menegaskan untuk memberikan kemudahan bagi dunia usaha dalam membaca peluang dan tantangan, negara juga harus hadir. Karena menjaga iklim dunia usaha dan industri tidak bisa hanya diserahkan kepada KADIN.

"Tidak bisa negara hanya memberi kemudahan berusaha, tanpa memberikan arahan dan pendampingan. Terutama bagi UMKM. Termasuk memberikan informasi yang jelas dan terukur tentang market size. Jangan dibiarkan atau malah pengusaha didorong untuk membuka sebanyak-banyaknya usaha yang sama, tetapi market size sudah terisi penuh," urai LaNyalla.

Menurutnya kehadiran negara untuk memastikan dominasi produk yang ada di market place bukan barang impor. Karena fakta hari ini, tegas Lanyalla, hampir semua marketplace yang ada, seperti Tokopedia, Shopee, Lazada, dan lainnya, 90 persen menjual barang impor.

"Penjualnya orang lokal, produknya impor. Ini tentu membuat prihatin, mengingat nilai transaksi belanja online kita, telah mencapai angka di kisaran 266 triliun rupiah. Dari angka itu, para penjual atau drop shipper di marketplace hanya mengambil margin dari harga jual sementara nilai tambah utamanya, ada pada produsen di luar negeri," jelasnya.

Dengan perubahan dan situasi yang disruptif, menurut LaNyalla masih banyak yang harus dikerjakan dalam menyongsong masa depan dunia usaha dan dunia industri di Indonesia. Sehingga dalam beberapa kesempatan dirinya selalu mengungkapkan pentingnya membangun kekuatan dan kedaulatan di sektor-sektor strategis, terutama ketahanan Sektor Pangan.

"Termasuk melakukan upaya sistematis untuk menjadikan Desa, sebagai wilayah terkecil, menjadi kekuatan ekonomi. Jangan sampai kita mengalami bencana demografi, dimana saat memasuki era ledakan jumlah penduduk usia produktif, lapangan pekerjaan tidak mampu untuk menyerap," tuturnya


(akd/ega)