Hadapi La Nina, BMKG Tangerang: Bersihkan Saluran Air-Siapkan Mitigasi Banjir

Khairul Ma'arif - detikNews
Rabu, 27 Okt 2021 11:38 WIB
Warga menggunakan payung saat hujan mengguyur Stasiun MRT Dukuh Atas BNI, Jakarta, Kamis (13/8/2020). Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika ( BMKG), meski puncak kemarau terjadi pada Agustus ini, sebagian wilayah Jabodetabek diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang karena adanya fenomena gelombang atmosfer (Rossby Ekuator) di wilayah Indonesia bagian barat. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww.
Ilustrasi hujan deras (ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)
Tangerang -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kota Tangerang mengimbau masyarakat waspada menghadapi fenomena La Nina menjelang akhir tahun hingga awal 2022. Data suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur terbaru menunjukkan nilai anomali telah melewati ambang batas La Nina. Singkat kata, berpotensi bencana.

"Kondisi ini berpotensi terus berkembang dan kita harus segera bersiap dengan datangnya La Nina, yang diperkirakan akan berlangsung dengan intensitas lemah hingga sedang, setidaknya hingga Februari 2022," ungkap Kepala BMKG Kota Tangerang Suwardi dari keterangan yang diterima wartawan, Senin (25/10/2021).

Suwardi menjelaskan diperkirakan sebagian wilayah Indonesia masuk musim hujan mulai bulan ini, termasuk Kota Tangerang. Sementara itu, berdasarkan kejadian La Nina 2020 dan hasil kajian BMKG, curah hujan akan mengalami peningkatan pada November hingga Januari.

Dia menyebut La Nina tahun ini diprediksikan relatif sama dengan tahun lalu, yang berdampak pada peningkatan curah hujan 20-70 persen di atas normalnya. Menurut dia, pencegahan dan mitigasi bencana sudah harus mulai dilakukan, semisal dengan membersihkan lingkungan, gorong-gorong, atau saluran air.

Diperlukan juga persiapan skema-skema penanganan jika terjadi bencana alam seperti banjir.

"Dari potensi peningkatan curah hujan pada periode tersebut. Maka masyarakat Kota Tangerang perlu waspada dan siap siaga terhadap potensi lanjutan dari curah hujan tinggi yang berpotensi memicu bencana hidrometeorologi. Harus kita antisipasi bersama-sama," pungkas Suwardi.

(aud/aud)