Demokrat Pamer Bakat Lukis-Lagu SBY: Hasto Insecure!

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Selasa, 26 Okt 2021 19:50 WIB
Kamhar Lakumani (Dokumentasi pribadi).
Kamhar Lakumani (Dok. Pribadi)
Jakarta -

Partai Demokrat (PD) memilih bersangka baik soal pernyataan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang mengatakan komunikasi politik Presiden Joko Widodo (Jokowi) tak bisa dengan mengarang lagu dan menulis buku tebal. Demokrat menilai, jika pernyataan Hasto ditujukan untuk Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY, Hasto insecure dan gagal move on.

"Tentang kekosongan posisi jubir presiden, ini sepenuhnya menjadi hak prerogatif Presiden Jokowi. Kami akan menghargai dan menghormati keputusan Presiden Jokowi siapa pun nantinya yang akan dipilih dan ditugaskan menempati posisi tersebut, termasuk jika Hasto yang mendapatkan penugasan tersebut," kata Deputi Bappillu PD, Kamhar Lakumani, kepada wartawan, Selasa (26/10/2021).

Jika ucapan politik karangan lagu Hasto ditujukan kepada SBY, menurut Kamhar, hal itu tak relevan. Kemampuan SBY di bidang seni, bagi Kamhar, adalah anugerah yang luar biasa.

"Terkait pernyataan Hasto, kami berbaik sangka bahwa itu bukanlah insinuasi terhadap Pak SBY, tidak pas dan tidak relevan. Adalah benar bahwa Pak SBY memiliki karya tulis berupa buku dan karya seni, tak hanya lagu saat ini juga berupa lukisan. Ini bakat luar biasa sekaligus tanda keseimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan yang optimal dari Pak SBY," ujarnya.

Kamhar kemudian menjelaskan bagaimana jubir Presiden era kepemimpinan SBY selama 10 tahun. Menurut Kamhar, jabatan jubir Presiden era Presiden SBY mumpuni dan justru populer di masyarakat.

"Menjadi tak relevan sindiran Hasto jika dikaitkan dengan keberadaan jubir kepresidenan, karena meskipun Pak SBY bukan yang pertama menggunakan jubir kepresidenan, namun di era Pak SBY-lah peran jubir kepresidenan menjadi sangat populer, yaitu Bang Andi Mallaranggeng dan Bang Dino Pati Jalal di periode pertama dan Bang Julian Aldrin Pasha di periode kedua. Mereka adalah intelektual-intelektual terkemuka dengan reputasi dan capaian yang mendapatkan pengakuan nasional dan internasional," ucap Kamhar.

Memilih gaya politik yang baik dan tak menjelekkan rezim yang berkuasa, Kamhar mengatakan Partai Demokrat bersangka baik terhadap pernyataan Hasto. Justru jika Hasto menegaskan ucapannya itu untuk SBY, Kamhar menilai Hasto gagal move on.

"Jadi kami positif thinking merespons pernyataan Hasto tersebut, karena jika dialamatkan ke Pak SBY, hanya semakin menegaskan bahwa Hasto insecure dan gagal move on. Kami berpegang pada fatsun etika politik berbangsa dan bernegara bahwa penguasa yang sedang berkuasa tak patut dan tak pantas untuk menjelek-jelekkan penguasa pendahulunya sebagaimana dulu ditunjukkan di masa pemerintahan SBY tak pernah menghakimi apalagi menjelek-jelekkan pemerintahan Bu Megawati," sebut Kamhar.

"Negara dan rakyat kita sedang diterpa berbagai persoalan akibat pandemi COVID-19, semestinya semua elemen bangsa bersinergi dan berkolaborasi mengatasi persoalan yang ada, bukan malah sebaliknya. Semoga Hasto terbuka hati dan pikirannya untuk mewujudkan suasana yang lebih teduh dan kondusif," imbuhnya.

Simak selengkapnya, di halaman selanjutnya: