Waket MPR Dengar Keluhan Petani soal Biaya Mahal Sertifikasi Bibit

Inkana Izatifiqa R Putri - detikNews
Selasa, 26 Okt 2021 19:05 WIB
Lestari Moerdijat
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat melakukan dialog dengan para petani milenial di Marobo Hill, Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Dalam perbincangannya, salah satu petani milenial, Umbar mengeluhkan kendala proses sertifikasi bibit tanaman hasil kebun bibit para petani.

Ia menyebut proses sertifikasi bibit tanaman memerlukan biaya mahal sehingga banyak petani tidak mampu. Ia pun menjelaskan selama ini yang diuntungkan hanya kontraktor yang memiliki sertifikat proyek pengadaan bibit tanaman hortikultura. Bahkan, para kontraktor kerap menekan harga hingga Rp 3.000 per bibit, sementara harga normal di tingkat petani Rp 5.000 per bibit.

Merespons hal ini, Lestari meminta para pemangku kepentingan untuk responsif dalam memberdayakan masyarakat. Terutama mereka yang memiliki potensi pengembangan usaha di sejumlah sektor di daerah, termasuk pertanian.

"Berbagai langkah pemberdayaan masyarakat lewat pengembangan sektor pertanian sangat menjanjikan, karena itu perlu langkah yang strategis untuk mengatasi berbagai hambatan yang terjadi," kata Rerie, sapaannya, dalam keterangannya, Selasa (26/10/2021).

Terkait hal ini, Rerie menegaskan agar pemangku kepentingan dapat segera mengatasi sejumlah persoalan tersebut. Dengan demikian berbagai potensi di masyarakat dapat segera mendatangkan manfaat.

Dalam kesempatan tersebut, Rerie pun berpesan agar proses sertifikasi benih produksi petani milenial ini didampingi hingga tuntas. Dengan demikian, kelompok tani lainnya bisa mencontoh prosesnya.

Direktur Perbenihan Hortikultura Kementerian Pertanian, Inti Pertiwi Nashwari pun mengatakan pihaknya akan segera menyelesaikan hambatan terkait proses sertifikasi benih tanaman hingga tuntas.

Ia menyebut dalam proses sertifikasi benih tanaman petani tidak akan dipungut biaya. Menurutnya, semakin banyak penangkar benih yang bersertifikat tentunya akan mempercepat pengembangan tanaman hortikultura di Indonesia.

Di sisi lain, Wakil Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Syaharuddin Alrif mengungkapkan Luwu Utara memiliki sejumlah potensi pertanian yang dapat ditingkatkan. Hal ini meliputi kakao, porang dan tanaman sayuran.

Sementara itu, pembimbing petani milenial, Masnah mengungkapkan pihaknya masih memerlukan berbagai dukungan untuk meningkatkan minat milenial di sektor pertanian. Adapun dukungan tersebut berupa sarana pelatihan, beasiswa dan bantuan peralatan.

Sementara saat kunjungan Lestari ke Lembaga Pengembangan Teknologi Tepat Guna Masyarakat Lokal Indonesia (LPTTG Malindo), di Masamba, Senin (25/10), Direktur LPTTG Malindo, Sakaruddin mengungkapkan pihaknya telah menggelar berbagai pelatihan untuk mendorong sektor pertanian. Salah satunya melalui pelatihan cara memproduksi makanan ringan dari bahan baku buah yang dikeringkan.

"Pilihan memproduksi buah yang dikeringkan itu, karena nilai tambah yang dihasilkan bisa di atas 100% dengan masa untuk pemasaran yang panjang," tutupnya.

(ncm/ega)