Jokowi di KTT ASEAN: Rivalitas Kekuatan Besar Makin Mengemuka

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Selasa, 26 Okt 2021 14:26 WIB
Presiden Jokowi
Presiden Jokowi (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin ASEAN menjadi lokomotif stabilitas dan kesejahteraan kawasan. Jokowi mengatakan tahun ini bukan tahun yang mudah bagi ASEAN.

"Kita hidup dalam situasi yang sangat dinamis, di mana rivalitas antara kekuatan besar menjadi makin mengemuka," ujar Jokowi saat menghadiri KTT ASEAN Ke-39 secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor seperti disampaikan dalam keterangan tertulis Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Selasa (26/10/2021).

Jokowi meminta ASEAN tidak hanyut akan jargon-jargon yang membuat terlena. Jokowi mengajak semua pihak memperkuat persatuan ASEAN.

"Kita harus bekerja keras untuk memperkuat kesatuan dan sentralitas ASEAN. Kita harus segera memperkuat kapasitas dan efektivitas kelembagaan ASEAN," kata Jokowi.

Atas hal itu, Gugus Tugas Tingkat Tinggi yang akan mulai bekerja tahun depan dalam mengembangkan Visi ASEAN pasca-2025 juga perlu membahas rekomendasi penguatan ASEAN. Jokowi berharap pada akhir tahun depan Indonesia dapat menerima rekomendasi tersebut dan mengambil keputusan untuk penerapannya pada 2023.

"Dengan demikian, ASEAN akan siap dan segera lepas landas untuk mewujudnyatakan Visi Baru pasca-2025. Indonesia telah menyampaikan concept paper bagi pembahasan mengenai penguatan ASEAN. Saya sangat menghargai dukungan para pemimpin ASEAN terhadap inisiatif Indonesia ini," ujar Jokowi.

Jokowi Sayangkan Uluran Tangan ASEAN Tak Disambut Myanmar

Jokowi menyayangkan uluran bantuan dari ASEAN tak disambut Myanmar. Jokowi mengingatkan kembali, saat ada pertemuan Leaders' Meeting di Jakarta pada 24 April lalu, dirinya melihat optimisme bahwa sebagai satu keluarga, ASEAN akan dapat membantu Myanmar keluar dari krisis politiknya.

"Sayangnya, uluran tangan keluarga ini tidak disambut baik oleh militer Myanmar. Akses yang diminta oleh Utusan Khusus ASEAN sampai saat-saat akhir KTT masih belum diberikan oleh militer Myanmar," ucap Jokowi.

Keputusan ASEAN mengundang Myanmar pada tingkat nonpolitik dan memberikan kesempatan bagi Myanmar guna menyelesaikan isu dalam negerinya terlebih dahulu merupakan keputusan yang berat tapi memang harus dilakukan.

"Di satu pihak kita tetap menjaga penghormatan terhadap prinsip non-interference, namun di pihak lain, kita juga berkewajiban menjunjung tinggi prinsip-prinsip lain dalam Piagam ASEAN, seperti demokrasi, good governance, penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan pemerintah yang konstitusional," kata Presiden.

"Keputusan ini juga memberikan ruang bagi ASEAN untuk tetap menjalankan kemajuan-kemajuan, sebagaimana janji kita kepada rakyat ASEAN. Namun uluran tangan tetap harus ditawarkan kepada Myanmar, termasuk pemberian bantuan kemanusiaan kepada rakyat Myanmar."