Tolong! Pria di Dompu NTB Alami Tumor Ganas di Perut Hidup Sebatang Kara

Faruk Nickyrawi - detikNews
Senin, 25 Okt 2021 14:05 WIB
Irfan (37) di Kabupaten Dompu, NTB menderita tumor ganas di perut dan hidup sebatang kara. (Faruk/detikcom)
Foto: Irfan (37) di Kabupaten Dompu, NTB menderita tumor ganas di perut dan hidup sebatang kara. (Faruk/detikcom)
Dompu -

Nasib malang menimpa Irfan (37) di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dia menderita tumor ganas di perut dan hidup sebatang kara.

"Sudah 2 tahun waktu saya di Malaysia, begitu saya diberitahu kalau saya ada tumor, langsung saya pulang ke Indonesia," cerita Irfan saat ditemui detikcom di RSUD Dompu, Senin (25/10/2021).

Di Dompu Irfan tinggal di Desa Daha, Kecamatan Hu'u. Dia merupakan seorang duda yang hidup sebatang kara dengan seorang putri yang baru berusia 8 tahun.

Irfan mengakui dirinya sangat membutuhkan bantuan untuk pengobatannya. Sebab, untuk pengobatannya pun dia tidak memiliki BPJS.

Irfan mengalami tumor sejak dirinya masih bekerja di kebun sawit di negara Malaysia dua tahun yang lalu. Dia tak punya pilihan selain pulang kembali ke Indonesia setelah divonis idap kanker.

Dia pulang ke Indonesia pun tak membawa apa-apa untuk bekal hidup di desanya. Dia menyadari di kampungnya tak lagi memiliki istri dan hanya ada seorang putri dan keluarga.

Selama dua tahun mengidap kanker, Irfan hanya dirawat sekedarnya di rumahnya dan diobati dengan obat tradisional oleh keluarga. Selama ini, Irfan mengaku perutnya sampai bocor akibat kanker yang dialami.

"Tidak pernah dirawat di rumah sakit. Hanya sakit di rumah obati pakai obat tradisional kita disini. Dulu pernah bocor disini, tapi Alhamdulillah lukanya sudah membaik tapi sekarang perut saya membengkak," ujar Irfan sambil menunjuk bekas luka bocor di perutnya.

Irfan mengaku, selama dirawat di rumah dirinya bahkan tidak pernah mendapatkan perawatan maksimal dari petugas kesehatan Puskesmas Desa maupun Puskesmas Kecamatan di wilayahnya.

"Tidak pernah, kalaupun ada mereka hanya memberikan resep obat untuk saya beli dan tebus sendiri," ucapnya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh kakak perempuan Irfan, Intan (43). Dia harus pergi membujuk para petugas Puskesmas untuk melihat adiknya itu. Itu pun tidak pernah melihat langsung di rumah hanya memberi resep obat untuk dibeli sendiri.

"Kita harus bujuk dan memanggil baru mereka mau menengok adik saya. Ketika kita meminta obat di Puskesmas, mereka hanya memberi kertas untuk obat dan kami beli sendiri," tutur Intan.

Irfan kebingungan di tengah keadaannya. Dia mengharapkan adanya bantuan dari orang agar dirinya bisa mendapatkan kartu BJPS. Kini dirinya tengah dirawat di RSUD Dompu berbekal uang Rp 500 ribu dari anggota keluarganya.

Dia baru dirawat sehari di rumah sakit dan masih menunggu hasil pemeriksaan dokter. Hingga kini dia belum mendapatkan jawaban apakah penyakitnya harus dioperasi. Kalaupun begitu, dia juga kebingungan mendapatkan biaya dari mana untuk keperluan operasi.

(nvl/nvl)