Orang Minang Menjawab Keraguan soal Pancasila

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 24 Okt 2021 01:50 WIB
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila akan digelar di Lubang Buaya, Jakarta Timur, 1 Oktober mendatang. Begini suasana di kawasan Monumen Pancasila Sakti.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Mantan Kepala BPIP (Badan Pemnbinaan Ideologi Pancasila) Prof Yudi Latief menyatakan bahwa Pancasila dan masyarakat Minang tak bisa dipisahkan. Menurutnya, masyarakat Minang telah mempraktekkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

"Dan Pancasila yang mana lagi hendak kalian dustakan," kata Yudi Latif dalam seminar bertema Bagaimana Orang Minang Mempraktekkan Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari, seperti dalam keterangan yang detikcom terima, Sabtu (23/10/2021).

Yudi mengatakan, akar ada tiga akar Pancasila. Pertama keagamaan, kedua kebangsaan atau nasionalisme, dan ketiga sosial ekonomi.

"Nah, ketiga akar ini sudah terwakili oleh tokoh-tokoh Minangkabu di sepanjang sejarah bangsa Indonesia ini," ujar Yudi.

Yudi Latief menyebutkan beberapa tokoh minang yang mewakili akan pancasila. Ada Agus Salim, Buya Hamka, Sutan Mansyur di sisi keagamaan. Syafruddin Prawiranegara di sisi nasionalisme kebangsaan. Kemudian ada Mohammad Hatta, Tan Malaka di sisi ekonomi sosial.

Kemudian, Ketua Fraksi PKS MPR RI, Tifatul Sembiring mengungkit polemik ungkapan politikus PDIP Puan Maharani. Saat mengumumkan cagub dan cawagub PDIP di Sumatera Barat (Sumbar), Puan berharap Sumatera Barat menjadi Provinsi yang mendukung Pancasila.

"Husnuzhon saya, sebenarnya maksud Ibu Puan bukan itu, mungkin, berharap kualitas pemahaman Pancasila orang Minang semakin ditingkatkan", jelas Tifatul.

Sementara itu, budayawan Minang Datuk Parpatih mengungkapkan bahwa pancasila adalah merupakan saripati ajaran Islam. "Dan orang Minangkabau punya prinsip adat basandi syarak dan syarak beasandi kitabullah," katanya.

Artinya orang Minang itu berpedoman kepada syariat Islam, berakidah tauhid, monoteisme dan jelas ber-Ketuhanan Yang Maha Esa.

"Bagi kami orang Minang, agama itu yang diadatkan, bukan adat yang diagamakan," tegasnya.

Datuk Parpatih kemudian menyingung orang yang meragukan ke-Pancasila-an orang Mnang. "Maaf, dengan meminjam motto Semen Padang: "Kami telah berbuat sebelum orang lain memikirkannya," ujarnya.

Simak juga 'Presiden Jokowi Lantik Megawati Jadi Ketua Dewan Pengarah BRIN':

[Gambas:Video 20detik]



(aik/aik)