Ketua DPD Ajak Masyarakat Contoh Prinsip Kebajikan Prabu Siliwangi

Inkana Izatifiqa R Putri - detikNews
Sabtu, 23 Okt 2021 22:55 WIB
LaNyalla Serukan Maulid Nabi Harus Jadi Momentum Hijrah Umat Muslim
Foto: Dok. DPD
Jakarta -

Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Kegiatan ini diawali dengan mengunjungi Petilasan Prabu Siliwangi, di Desa Cikahuripan, Kecamatan Maleber.

LaNyalla menyampaikan kunjungannya ke Petilasan Prabu Siliwangi merupakan bentuk penghormatan kepada raja terdahulu. Menurutnya, raja-raja tersebut telah berperan dalam membangun peradaban di Jawa Barat.

"Beliau adalah salah satu raja yang membangun peradaban tatar Sunda. Tentu kita wajib menghormatinya," kata LaNyalla dalam keterangan tertulis Sabtu (23/10/2021).

LaNyalla menjelaskan Prabu Siliwangi telah mewariskan berbagai nilai kehidupan bagi penerusnya, generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Ia juga menyebut jalan hidup yang diwariskan mengandung nilai-nilai luhur dan kemuliaan yang berprinsipkan kebenaran dan harga diri.

"Jalan hidup seperti ini yang patut dicontoh oleh kita. Salah satunya adalah nilai bahwa untuk menggapai kemuliaan manusia harus bijak dan selalu dalam kebajikan," katanya.

LaNyalla menyebut terdapat beberapa prinsip nilai kebajikan yang diajarkan Prabu Siliwangi. Prinsip ini antara lain, 'pakena gawe rahayu' yang artinya membiasakan diri berbuat kebajikan, dan 'pakena kereta bener' atau membiasakan diri berbuat dalam kebenaran.

Sementara itu, Kepala Desa Cikahuripan, Caswadi mengungkapkan Desa Cikahuripan memiliki mata air Cikabuyutan. Konon, mata air tersebut dibuat oleh anak dari Prabu Siliwangi, yakni Raden Kian Santang. Dulunya, Caswadi mengungkapkan Raden Kian Santang sering bertapa di lokasi yang kini menjadi desa tempat ia menjabat.

"Saat bertapa itu Raden Kian Santang membutuhkan air. Lalu ditancapkan tongkat yang dibawanya ke sebuah batu yang berada tak jauh darinya. Seketika keluarlah air yang kini menjadi mata air Cikahuripan," cerita Caswadi.

Di mata air itu, lanjut Caswadi, Raden Kian Santang dan Prabu Siliwangi juga sering mandi di sela pertapaannya. Ia mengatakan tempat tersebut juga merupakan makam dari Raden Kian Santang.

"Raden Kian Santang menurut leluhur kami meninggal dan dikuburkan di sini. Eyang Kuwu Sukma Wijaya (Syekh Madulloh Iman) itu adalah Raden Kian Santang," paparnya.

Lebih lanjut Caswadi mengatakan Raden Kian Santang kerap menggunakan tongkat, yang konon merupakan pemberian dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Kala itu, kata Caswadi, Raden Kian Santang merupakan sosok yang sakti sehingga tak ada yang dapat mengalahkannya di Nusantara ini.Karena kesaktiannya, ia kemudian mencari seseorang yang dapat menandingi dan mengalahkan kesaktiannya hingga ke Mekkah.

"Lalu, berdasarkan cerita leluhur kami, Raden Kian Santang diminta ke Mekkah karena di sana ada orang sakti bernama Ali Bin Abi Thalib," paparnya.

Usai tiba di Mekkah, ungkap Caswadi, Raden Kian Santang berjumpa dengan seorang tua dan bertanya keberadaan Ali bin Abi Thalib.

Caswadi mengatakan orang tua tersebut meminta Raden Kian Santang untuk mengambilkan tongkatnya jika ingin bertemu Ali bin Abi Thalib. Namun, Raden Kian Santang tak kuasa mengangkat kakek tersebut, yang ternyata adalah Ali bin Abi Thalib, sahabat sekaligus menantu Rasulullah SAW.

"Tongkat itu kemudian dibawa pulang oleh Raden Kian Santang dan digunakan untuk mencari air saat bertapa di sini," pungkasnya.

Sebagai informasi, dalam kunjungannya ke Kuningan, LaNyalla juga melakukan ziarah makam Keramat Kasepuhan Cipinang Eyang Kuwu Sukma Wijaya (Syekh Madulloh Iman) yang berada tak jauh dari lokasi petilasan Prabu Siliwangi.

Dalam kunjungan kerja tersebut, LaNyalla didampingi sejumlah Senator, di antaranya Eni Sumarni (Jabar), Bustami Zainuddin (Lampung), Andi Muhammad Ihsan (Sulsel) dan Fachrul Razi (Aceh).

(prf/ega)