Kisah Ibunda Bung Karno Tak Mau Injakkan Kaki di Istana Negara

Danu Damarjati - detikNews
Sabtu, 23 Okt 2021 17:20 WIB
Sukarno dan Ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. (Dok ANRI)
Sukarno dan Ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai. (Dok ANRI)
Jakarta -

Sosok ibunda Bung Karno, yakni Ida Ayu Nyoman Rai, sedang dibicarakan publik lantaran cucunya, Sukmawati Soekarnoputri, berpindah agama. Terlepas dari soal pindah agama Sukmawati, ada catatan menarik soal Ida Ayu Nyoman Rai.

Semasa hidupnya, Ida Ayu Nyoman Rai tidak pernah menginjakkan kaki di Istana Negara, padahal putranya adalah Presiden Pertama Republik Indonesia. Kenapa gerangan?

"Di hari tuanya ketika Sukarno telah menjadi 'orang pertama' di Republik Indonesia, Nyoman Rai Srimben tidak pernah mau menginjakkan kakinya di Istana Negara," demikian catatan yang tertulis di situs web Kepustakaan Presiden yang dikelola Perpusnas, diakses detikcom pada Sabtu (23/10/2021).

Tulisan di situs web Kepustakaan Presiden dikutip dari 'Ibu Indonesia dalam Kenangan' karya Nurinwa, Ki S Hendrowinoto, dkk, diterbitkan oleh Bank naskah Gramedia, bekerja sama dengan Yayasan Biografi Indonesia, pada 2004.

Tidak ada keterangan lebih lanjut soal kenapa Ida Ayu Nyoman Rai tidak mau menapakkan kakinya di Istana Negara. Selanjutnya, detikcom mencoba bertanya kepada orang yang tahu soal sejarah Sukarno.

Ada Roso Daras, yang merupakan ahli sejarah Bung Karno, penulis buku-buku soal Bung Karno, termasuk 'Total Bung Karno: Serpihan Sejarah yang Tercecer'. Dia membuka catatan soal ibunda Sukarno yang tidak pernah menginjakkan kaki di Istana Negara. Roso Daras telah bertanya kepada penjaga Istana Gebang Blitar, kediaman keluarga Bung Karno di Blitar, namanya adalah Pak Gudhel.

"Antara lain karena alasan usia (Ida Ayu Nyoman Rai)," kata Roso Daras.

Ida Ayu Nyoman Rai lahir pada 1881. Usianya sudah 64 tahun saat Sukarno memproklamasikan Republik Indonesia.

"Alasan kedua, memang permintaan Bung Karno agar ibundanya tidak perlu ke Istana jika tidak sangat urgen. Kata Bung Karno, 'Ibu panggil saya saja, maka saya akan pulang ke Blitar'," demikian kata Roso Daras.

Roso Daras punya catatan soal kakak Sukarno, yakni kakak kandung perempuan Bung Karno bernama Raden Soekarmini, lebih dikenal dengan nama Bu Wardoyo. Suatu saat, Bu Wardoyo pernah dimarahi Bung Karno karena datang ke Istana menenteng pengusaha dan meminta proyek.

"Sejak saat itu Soekarmini atau Bu Wardoyo juga dilarang ke Istana kalau tidak urgen sekali dan sama sekali tidak boleh membawa pengusaha untuk urusan proyek," kata Bung Karno.

Meski begitu, Roso Daras tidak bisa menarik kesimpulan pasti soal sebab Ida Ayu Nyoman Rai tidak mau menginjakkan kaki di Istana Negara. Namun, dia menduga, Bung Karno mencoba menjaga agar tidak ada unsur korupsi kolusi nepotisme (KKN) dalam menjalankan pemerintahan.

"Esensinya, dalam bahasa sekarang barangkali Bung Karno sama sekali tidak ingin ada tudingan KKN, terutama dari lawan-lawan politiknya," kata Roso Daras.

Ida Ayu Nyoman Rai lahir di Bali pada 1881 dan meninggal dunia pada 12 September 1958. Dia menikah dengan Raden Soekemi Sosrodihardjo.

"Menikah 1898, anak pertama lahir 1899, tahun 1900 pindah ke Surabaya, tahun 1901 lahir Sukarno," kata Roso Daras.

Sukarno dan ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben. (Dok ANRI)Sukarno dan ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben. (Dok ANRI)

Sebelumnya, putri Bung Karno, yakni Sukmawati Soekarnoputri, memilih pindah agama ke Hindu. Sosok neneknya menjadi inspirasi berpindah keyakinan.

"Iya (alasannya karena sosok nenek). Ibunya Bung Karno kan Ida Nyoman, bangsawan Bali," kata pengacara Sukmawati, Witaryono Reksoprojo, Jumat (22/10) kemarin.

Saksikan juga: Jejak Langkah dr. Boyke, Sang Edukator Seks Indonesia

[Gambas:Video 20detik]



(dnu/idh)