HNW Dukung Santri Hadirkan Islam Moderat di Indonesia

Inkana Izatifiqa R Putri - detikNews
Jumat, 22 Okt 2021 22:40 WIB
Wakil Ketua MPR HNW Hidayat Nur Wahid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid (HNW) mendukung komunitas santri menghadirkan Islam yang moderat. Dengan kiprah dan amal halih, HNW berharap para santri mampu memajukan umat dan membangun bangsa dengan mengisi berbagai posisi baik di eksekutif, legislatif, yudikatif, edukatif, bisnis, organisasi masyarakat maupun organisasi politik.

"Di era reformasi sekarang ini, tidak ada ruang yang tidak bisa diisi santri. Ada santri yang menjadi presiden, wapres, ketua MPR, pimpinan DPR, menteri, dubes, anggota TNI dan Polri. Santri juga ada yang jadi pimpinan ormas dan orpol maupun lembaga charity. Bahkan, tidak sedikit pula santri yang berhasil menjadi pengusaha sukses," ujarnya dalam keterangannya, Jumat (22/10/2021).

"Saat ini, kesempatan bagi santri untuk berperan itu semakin terbuka, tidak ada ketentuan perundangan yang menghambat kiprah Santri. Para Santri banyak yang mengisi posisi strategis tersebut, agar dijaga sebagai amanat, agar bisa dilanjutkan karena manfaat yang dirasakan oleh masyarakat," imbuhnya.

HNW mengatakan sejarah telah mencatat peran santri dalam menghadirkan dan menjaga kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sangatlah besar. Selain KH Hasyim Asy'ari, HNW mencatat terdapat para founding fathers Indonesia yang berlatar belakang pesantren, yakni KH Wahid Hasyim dan KH Masjkur, KH Kahar Mudzakkir dan Ki Bagus Hadikusumo, KH Ahmad Sanusi serta KH Abdul Halim, dan H Agus Salim dan M Natsir.

"Mereka telah berperan aktif bersama tokoh-tokoh Bangsa, merumuskan dasar dan konstitusi negara. Menyelamatkan Pancasila dan NKRI. Mereka adalah para santri baik karena pendidikan di Pesantren, maupun karena laku dan ilmunya yang mengamalkan ilmu-ilmu keislaman. Maka sudah sewajarnya apabila para santri mempelajari dan meneruskan kiprah para santri pahlawan bangsa, dalam konteks kekinian untuk menyongsong masa depan," ujarnya.

HNW mengatakan para santri dapat mengikuti jejak mereka dengan menjaga agar Indonesia merdeka dari bentuk neokolonialisme seperti liberalisme, hedonisme, sekularisme, separatisme, komunisme dan radikalisme. Ia juga berpesan agar para santri menyelamatkan Indonesia dari aliran yang bertentangan dengan Pancasila dan ajaran Islam.

"Selain paham-paham menyimpang di atas, neokolonialisme itu bisa juga berupa kemiskinan, ketidakadilan dan kebodohan. Santri harus berperan penting untuk menyelamatkan bangsa dan negara dari ancaman-ancaman neokolonialisme tersebut. Juga menyelamatkan Indonesia dari pemberontakan PKI, sebagaimana dilakukan oleh santri-santri NU dengan GP Anshornya dan Muhammadiyah dengan KOKAM/Pemuda Muhammadiyahnya," ujar HNW.

Terkait hal ini, Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini pun meminta pemerintah untuk menaruh perhatian serius soal kesejahteraan santri dan pesantren. Mengingat mereka juga berjasa dalam menjaga dan memajukan bangsa Indonesia.

"Misalnya dengan memaksimalkan Perpres Dana Abadi Pesantren agar Santri bisa mengakses pendidikan yang lebih berkualitas, agar bisa berperan lebih strategis lagi," ujarnya.

HNW berharap tidak ada lagi dikotomi terkait santri dan pesantren pasca diberlakukannya UU No. 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Para santri juga diharapkan dapat melanjutkan peran para ulama terdahulu dalam menjaga NKRI.

"Pesantren itu tempat belajar para santri, selain dari yang berorientasi salafiyah/tradisional kitab kuning, tetapi juga ada yang modern/mu'adalah/muallimin/kitab putih. Bahkan juga pesantren terpadu yang integrasikan pendidikan umum dengan agama Islam. Itu semua menurut UU Pesantren masuk dalam kategori pesantren. Namun, selama ini ada kesan bahwa Hari Santri hanya diperingati oleh santri, pesantren dan Ormas yang akrab dan menggunakan kitab kuning," ujarnya.

"Saya berharap ke depannya, santri dan pesantren yang berlatar belakang beragam tersebut dapat terus bekerja sama dan berkolaborasi dalam menghidupi dan memaknai Hari Santri, agar santri selalu siaga ilmu, jiwa dan raga. Untuk bisa lanjutkan peran bersejarah para ulama, yang sekarang juga banyak yang wafat karena COVID-19, agar eksistensi NKRI tetap terjaga dan bisa jaya raya dalam koridor yang diwariskan para ulama pejuang bangsa," pungkasnya.

(ncm/ega)