IPW Apresiasi Telegram Kapolri: Paradigmanya Bersih-bersih

Audrey Santoso - detikNews
Jumat, 22 Okt 2021 07:40 WIB
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memimpin rapat Forkopimda di Jambi
Foto: Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (dok. Polri)
Jakarta -

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dinilai tengah menegakkan konsep Prediktif, Responsibilitas, Transparansi, Berkeadilan (Presisi) menyikapi berbagai masalah pelanggaran yang dilakukan anggotanya. Sikap Sigit dinilai berbeda dari kapolri-kapolri sebelumnya.

"Paradigma yang dibangun Pak Listyo Sigit ini paradigma yang berbeda loh dengan yang sebelumnya. Paradigma yang dibangun adalah paradigma ingin membersihkan oknum-oknum Polri, membersihkan dari pelanggaran-pelanggaran," kata Ketua IPW, Sugeng Teguh Santoso kepada wartawan, Selasa (19/10/2021).

Menurut Sugeng, belum pernah ada surat telegram Kapolri yang terbit karena keluhan masyarakat. Sugeng menyebut Sigit menunjukkan keseriusan untuk membersihkan Polri.

"Sebelumnya nggak ada telegram-telegram rahasia diterbitkan untuk merespons isu di masyarakat seperti saat ini. Nggak ada penindakan cepat, tidak. Baru sekarang ini. Paradigmanya ini berbeda nih, dia ingin membersihkan," ujar Sugeng.

Dia juga menilai respons Kadiv Propam Polri, Irjen Ferdy Sambo cepat terkait pelanggaran anggota. Sugeng berpendapat Propam Polri merupakan kekuatan utama Sigit untuk membenahi penyimpangan di Korps Bhayangkara.

"Saya kasih juga apresiasi sama Propam karena merespons keluhan masyarakatnya cepat. Itu juga jadi kekuatan utama Pak Sigit dalam pembersihan ini. Jadi Kadiv Propamnya itu, Ferdy Sambo cepat responsnya," ucap Sugeng.

Sugeng menekankan sikap Sigit yang keras terhadap setiap pelanggaran anggotanya harus konsisten. Sugeng yakin konsep Presisi yang terus dipraktikkan akan mengubah Polri menjadi lebih baik ke depan.

"Harus konsisten menurut saya, dia (Sigit) harus konsisten dalam masa jabatannya. Ini akan punya pengaruh kalau diteruskan lagi, entah kapolrinya siapa nanti. Harapan kita (Polri) akan lebih baik," ungkap Sugeng.

Sugeng menuturkan Sigit tengah membuktikan hukum tak tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Meski demikian, lanjut Sugeng, tiap langkah yang diambil memiliki konsekuensi.

"Kapolri juga pernah bilang jangan tajam ke bawah, tumpul ke atas, itu pernyataan beliau tuh 'jangan tajam ke masyarakat, tumpul ke petugas' Ini ngeri-ngeri sedap di internal. Dia harus tegar. Kan ujiannya sudah pernah terjadi dalam kasusnya Napoleon Bonaparte," terang Sugeng.

"Dia bilang dia sudah buktikan bahwa tidak pandang bulu dalam bertindak, sudah jelas itu. Kalau dia nggak benar-benar bersih saja, sudah berbalik itu. Repot dia kalau semisal nggak benar-benar bersih. Tapi kan apa kita lihat? Kasusnya berjalan dan transparan," sambung Sugeng.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya.