Minat Jadi Pelaut? Bisa Keliling Dunia Gratis-Gaji Dibayar Dolar

Angga Laraspati - detikNews
Kamis, 21 Okt 2021 18:40 WIB
Pelaut
Ilustrasi/Foto: shutterstock
Jakarta -

Bercita-cita atau punya minat jadi pelaut? Perlu diketahui, menjadi pelaut bisa membuat kamu keliling dunia hingga gaji dibayar pakai dolar.

Hal ini yang diceritakan oleh salah satu Alumni Balai Besar Pendidikan Penyegaran dan Peningkatan Ilmu Pelayaran (BP3IP), Hendrik Viktor. Pria 43 tahun ini membagikan kisahnya usai mendapat pelatihan di BP3IP.

Kisah tersebut bermula dari keinginan Hendrik untuk menjadi seorang pelaut di tahun 1998. Kala itu, ia mendengar potensi gengsi yang bisa ia dapatkan ketika menjadi pelaut.

"Dulu itu pengen jadi pelaut karena denger dari orang-orang kalau digaji dolar. Nah, dari situ mulai ada keinginan, gimana nih caranya jadi pelaut," ungkap Hendrik kepada detikcom, Kamis (21/10/2021).

Hendrik pun menuturkan saat itu ia harus mempersiapkan dokumen-dokumen seperti paspor, buku pelaut, surat keterangan pelaut (SKP), dan dokumen serta sertifikat yang dibutuhkan.

Di tahun 1999 ia mendapat kesempatan untuk berlayar bersama satu kapal niaga (logistik) di Sunda Kelapa. Pada saat itu, Hendrik yang menjadi juru minyak (oiler) dibayar hanya Rp 150.000 per bulannya.

Singkat cerita di tahun 2000 ia mendapatkan peluang untuk menjadi kru kapal tugboat, atau kapal penarik tongkang. Gajinya pun naik menjadi Rp 500.000 per bulan. Setelah beberapa bulan, ia mengadu nasib ke Batam dan berkesempatan bekerja di salah satu kapal survei minyak milik Singapura.

"Saat itu tetap jadi juru minyak (oiler), itu di kapal survei. Itu terima gaji pertama dalam bentuk dolar Amerika, yaitu US$ 450. Itu emang sudah wowlah," ungkapnya.

Singkat cerita, ia mengenyam pendidikan tingkat awal di BP3IP untuk meningkatkan kualitasnya sebagai seorang pelaut di tahun 2001 selama 1 minggu. Ia kembali melaut selama 2 tahun, dan kembali lagi untuk mengambil pendidikan Ahli Teknika Tingkat (ATT) 5.

Setelah selesai, ia kembali melaut dalam jangka waktu 3 tahun dan sukses mendapatkan pekerjaan baru dengan gaji yang meningkat hingga US$ 900. 1 tahun kontrak di perusahaan baru tersebut, ia kembali ke BP3IP untuk sekolah ATT 4 selama 6 bulan.

Ia pun kembali ke perusahaannya dengan tetap menjadi oiler. Sebab, di perusahaan tempat ia bekerja, syarat untuk menjadi seorang engineer harus memiliki ATT 3. Akhirnya di tahun 2009, Hendrik kembali ke BP3IP untuk mengambil ATT 3 selama 7 bulan.

Usai mendapatkan ATT 3, ia pun kembali ke perusahaan yang sama dan langsung dipercaya menjadi seorang third engineer. Gajinya pun langsung meroket hingga US$ 3.300. Setelah beberapa kontrak ia pun dipercaya menjadi Chief Engineer.

Klik halaman selanjutnya >>>

Kini, Hendrik sudah malang melintang di berbagai kapal. Sekarang, Hendrik sudah bisa keliling dunia dengan gratis dan dibayar dengan dollar. Hendrik pun mengatakan saat ini bayaran yang ia terima di kisaran US$ 7.300.

"Jadi pelaut itu enak, udah bisa keliling dunia gratis, dibayar lagi. Kalau secara general, gaji jadi pelaut itu untuk tingkat nahkoda atau chief engineer US$ 5.000 - US$ 10.000. Tapi tergantung dari kapal dan perusahaannya," tutur Hendrik.

Sementara itu, Kepala Bidang Penyelenggara Pendidikan BP3IP Marcello Lopulalan lulusan dari BP3IP memiliki peluang kerja yang luas. Mereka bisa bekerja di semua jenis kapal, mulai dari kapal tongkang hingga kapal pesiar.

Hanya, jenis-jenis kapal tertentu mengharuskan pekerjanya memiliki sertifikat tambahan. Sertifikat tersebut diambil oleh para pekerja di Singapura hingga Eropa, khususnya kapal-kapal di operasi pengeboran minyak.

"Itu mereka dasarnya dari sini (BP3IP), sertifikat tambahannya bisa mereka ambil di Singapura atau ambil di Eropa. Jadi biasanya perusahaan akan menyekolahkan atau para pekerja bisa membayar sendiri," jelas Marcello.

Soal gaji, Marcello menjelaskan para pelaut bisa mendapatkan gaji yang bervariasi tergantung dari kapal hingga tempat ia bekerja. Seperti Hendrik, menurut Marcello, yang bermain ke luar itu memang memiliki gaji yang besar.

Jadi tak menutup kemungkinan, para pelaut juga memiliki gaji yang biasa-biasa saja atau bahkan kadang-kadang kurang dari UMR. Hal tersebut terjadi karena mereka bekerja bermain di dalam negeri, seperti pelayaran sungai.

"Tapi kalau dia bermain di luar, itu memang lebih dari cukup (gajinya)," imbuhnya.

Marcello pun mengatakan BP3IP tetap akan membuka kelas untuk pelaut yang ingin meningkatkan skill melautnya. Tetapi, masa pandemi membuat BP3IP hanya membuka 1 kelas di tiap tingkat.

"Setiap bulan kami melakukan penerimaan, itu 10 kelas maksimal. Tingkat 1 dua kelas, tingkat 2 dua kelas, sampai tingkat 5. Kenapa? Karena kita tidak ingin menciptakan pengangguran. Sebab, karena pandemi banyak kapal yang tidak jalan, sehingga kami tidak ingin membuka sebanyak itu," paparnya.

(akn/ega)