Sektor Industri Ini Bisa Jadi Peluang untuk Pensiunan Pelaut

Khoirul Anam - detikNews
Rabu, 30 Jun 2021 17:16 WIB
Pelaut
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Kepala Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Laut, Sahattua P Simatupang mengungkapkan pentingnya pendidikan lanjutan bagi para pelaut untuk menjawab tantangan yang akan dihadapi seperti permintaan tenaga kerja di berbagai sektor.

Adapun peluang untuk para pelaut yang sudah tak produktif adalah eksplorasi pertambangan, pertanian, kehutanan, dan pabrik.

"Nah, peranan pelaut tentu saja akan ada baik itu dengan autonomous ship atau dengan konvensional ship," ungkapnya dalam peluncuran Asynchronous Executive Class, Balai Besar Pendidikan Penyegaran dan Peningkatan Ilmu Pelayaran (BP3IP), Rabu (30/6/2021).

Sahattua memperkirakan setiap tahunnya ada sebanyak 20.000 pelaut yang berusia 40 tahun dari 300.000 pelaut yang bekerja di kelautan internasional. Hal ini menyebabkan mereka berpindah pekerjaan di wilayah daratan karena mengalami kelemahan fisik atau sebagainya.

Dia menjelaskan, dengan melanjutkan pendidikan para pelaut nantinya mendapatkan kesempatan bekerja di pabrik atau di pertambangan. Selain itu para pelaut juga memiliki kesempatan untuk bekerja di perusahaan pelabuhan, perusahaan pelayaran, dan organisasi di bidang keselamatan keamanan dan unit pelaksanaan teknis maritim.

"Ke depan akan ke situ. Saya kira, kitalah yang merencanakan ke depan seperti apa SDM itu kita serap untuk membangun Indonesia," lanjutnya.

Lebih jauh, dia juga memaparkan para pelaut perlu memanfaatkan teknologi dalam menghadapi tantangan kariernya.

"Artinya, yang dididik dari BP3IP, dari perguruan tinggi pelayaran lainnya, itu adalah SDM yang sudah spesifik yang bisa dikembangkan untuk membantu industri, bukan hanya di laut," tutur Sahattua.

Di samping itu, Sahattua juga memaparkan tantangan bagi manusia di era pesatnya perkembangan teknologi digital. Ia mencontohkan drone yang bisa digunakan untuk membawa makanan ke satu lokasi.

"Jadi menghilangkan rantai pasok yang cukup banyak," katanya.

Dalam menyikapi tantangan tersebut, ia mengatakan perlunya membatasi penggunaan teknologi dengan cara-cara terkini. Menurutnya, yang perlu dilakukan adalah membuat desain atau strategi yang sesuai sehingga SDM tidak tergantikan teknologi.

(prf/ega)