Propam Akan Periksa Kasat Reskrim Siantar soal Anak Di-KDRT Jadi Tersangka

Ahmad Arfah Fansuri Lubis - detikNews
Kamis, 21 Okt 2021 18:22 WIB
one caucasian couple man and woman expressing domestic violence in studio silhouette   on white background
Ilustrasi KDRT (Dok. iStock)
Medan -

Kasus anak korban KDRT jadi tersangka setelah dilaporkan balik oleh ayahnya di Pematangsiantar, Sumatera Utara (Sumut), berbuntut panjang. Kasat Reskrim Polres Pematangsiantar akan dimintai keterangan Polda Sumut terkait hal itu.

"Kasat Reskrim akan dimintai klarifikasi oleh Propam," kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Hadi Wahyudi kepada wartawan, Kamis (21/10/2021).

Hadi mengatakan status tersangka anak berinisial MF itu sudah dihentikan karena laporan balik dari ayahnya dicabut. Meski laporan sudah dicabut, Propam tetap melakukan penyelidikan terhadap jajaran penyidik di Polres Pematangsiantar yang menangani perkara ini.

"Terlepas dari laporan yang sudah dicabut," tuturnya.

Sementara laporan MF kepada ayahnya, Ipda PJ kasus KDRT masih terus diproses. Hadi mengatakan kasus itu sudah dilimpahkan ke kejaksaan.

"Kemudian Bapaknya, atas laporan ibunya sudah tahap satu di kejaksaan," jelas Hadi.

Sebelumnya, MF ditetapkan sebagai tersangka dari laporan balik ayahnya Ipda P. Penetapan tersangka ini dilakukan setelah MF melaporkan ayahnya itu dalam kasus KDRT.

"Hal ini tentunya sangat ironis bagi kami di Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Sumut. Bayangkan, anak di bawah umur yang menjadi korban kekerasan ayah kandungnya sendiri malah menjadi tersangka atas laporan balik ayahnya yang notabene merupakan oknum anggota Polri berpangkat Ipda di Polres Pematangsiantar," kata Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Sumut, Komalasari, Minggu (17/10).

Laporan MFA kepada ayahnya itu bernomor LP/2332/XII/2020/SUMUT/SPKT tanggal 3 Desember 2020. Komalasari menilai laporan mereka ke Polres Pematangsiantar itu tidak ditindaklanjuti. Untuk itu, mereka membuat laporan ke Polda Sumut.

Sementara laporan dari Ipda PJ kepada MFA bernomor LP/27/I/2021/SU/STR tanggal 14 Januari 2021. MFA kemudian ditetapkan sebagai tersangka pada 8 Oktober 2021. Dia menilai penetapan ini tidak tepat.

"Dari proses panjang laporan kasus kekerasan terhadap anak dan KDRT yang dialami korban MFA ini, kemudian muncul laporan balik dari pelaku yang kita simpulkan sebagai rekayasa dengan tujuan untuk menghentikan laporan Y dan MFA terhadap pelaku," tutur Komalasari.

"Terlebih luka yang dialami pelaku dalam laporannya pada tanggal 14 Januari 2021 itu soal peristiwa yang terjadi pada 2 Desember 2020, kan aneh kalau laporan itu diterima," imbuh Komalasari.

MF kemudian ditetapkan sebagai tersangka. Setelah MF menjadi tersangka, polisi mengatakan ayah dari MF yang membuat laporan sudah mencabut laporannya itu.

"Ini Pak P sendiri sudah mencabut laporan pengaduannya kepada anaknya," kata Kapolres Pematangsiantar AKBP Boy Sutan Siregar saat dimintai konfirmasi, Senin (18/10).

(aud/aud)