Polres Bandara Soetta Gagalkan Penyelundupan 3,2 Kg Sabu ke Mandalika NTB

Khairul Ma'arif - detikNews
Kamis, 21 Okt 2021 17:53 WIB
Konferensi pers Polresta Bandara Soetta perihal penggagalan penyeluncupan 3,2 kg sabu ke Mandalika, NTB, Kamis (21/10/2021).
Konferensi pers Polresta Bandara Soetta perihal penggagalan penyeluncupan 3,2 kg sabu ke Mandalika, NTB. (Khairul/detikcom)
Tangerang -

Satuan Reserse Narkoba Polresta Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) berhasil menggagalkan penyelundupan narkoba jenis sabu ke Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sabu yang hendak diselundupkan ke Mandalika tersebut memiliki berat 3,2 kilogram (kg).

"Tersangka berinisial ARP alias J ditangkap oleh Satnarkoba Polresta Bandara Soetta di Buaran Indah, Kota Tangerang. Keberhasilan Satnarkoba selamatkan generasi muda Indonesia sekira 34 ribu dari pemakaian barang haram ini," ujar Kapolres Bandara Soetta Kombes Edwin Hariandja di Mapolres Bandara Soetta, Kamis (21/10/2021).

Penggagalan penyelundupan disampaikan dalam konferensi pers hari ini. Polisi sebelumnya melakukan penyelidikan perihal penyelundupan narkoba jenis sabu ini selama 2 pekan.

Kasat Narkoba Polresta Bandara Soetta AKP Nasrandi mengungkapkan pembentukan tim khusus untuk mengungkap kasus ini. Nasrandi juga membeberkan cara pelaku menyembunyikan barang haram tersebut.

"Modus operandi belum terjadi, masih nunggu perintah dari pengendalinya. Namun, seperti biasa, barang bukti ditaruh di dalam tas yang dibungkus aluminum foil. Karena kejelian petugas, kegiatan ini (pengiriman) belum sempat dilaksanakan," katanya.

Pelaku yang ditangkap merupakan bagian dari jaringan Aceh. Pengakuan tersangka ARP, peredarannya di Jakarta sudah berjalan 6 bulan.

Sementara itu, penyelundupan ke wilayah timur Indonesia memang baru mendapatkan perintah dari pengendali. Nasrandi menduga barang ini akan dikirim ke Mandalika karena akan ada kegiatan besar di sana.

"Tetapi itu masih dugaan kami. Keterangan tersangka, dia dapat perintah persiapan diselundupkan di daerah Indonesia bagian timur," ungkap Nasrandi.

Tersangka mengaku mendapat upah Rp 25 juta per kilo jika barang bisa dikirim. Pelaku tinggal di Tangerang bersama keluarganya.

"Kami memakai Pasal 114 ayat 2 subsider Pasal 112 ayat 2 UU Nomor 35 Tahun 2009. Ancaman hukuman mati atau pidana seumur hidup atau paling singkat enam tahun dan paling lama 20 tahun," papar Nasrandi.

(zak/zak)