Round-Up

Pro-Kontra Wacana Ataturk Jadi Nama di Jakarta

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 19 Okt 2021 07:03 WIB
Izmir, Turkey - May 19 , 2019: Students are holding Turkish flags.  Celebrations of the 19 May 2019 Memoriam of Mustafa Kemal Ataturk, Youth and Sports Festival Izmir Konak Turkey. Republic Square.
Mustafa Kemal Ataturk, yang diusulkan Jadi Nama Jalan di DKI (Foto: Getty Images/CasPhotography)
Jakarta -

Wacana tokoh sekuler Turki, Mustafa Kemal Ataturk, yang akan dijadikan nama jalan di Jakarta menuai pro-kontra. Ada pihak yang menolak karena ketokohan Ataturk, tapi di sisi lain ada juga yang mendukung.

Pihak yang menolak salah satunya datang dari PKS DKI. PKS menilai Ataturk sebagai sosok kontroversial.

"Jika memang sangat merugikan dan menyakiti kaum muslim, lebih baik dibatalkan pemberian nama jalan tersebut," kata Ketua DPW PKS DKI Jakarta Khoirudin dalam keterangannya, Minggu (17/10).

Anggota Komisi C DPRD itu menyoroti kontroversi Ataturk yang disebut merugikan muslim selama memimpin negara Turki. Salah satunya mengalihfungsikan Masjid Hagia Sophia dari masjid menjadi museum pada 1935.

"Sangat diktator, dia juga membuat kebijakan mengubah Masjid Hagia Sofia menjadi museum, mengganti azan berbahasa Arab dengan bahasa lokal, melarang jilbab dipakai di sekolah, kantor-kantor yang bersifat kepemerintahan," terangnya.

Tidak hanya PKS DKI, Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga menolak wacana tersebut. MUI mengatakan, jika pemerintah merealisasikan wacana tersebut, hati umat Islam akan tersakiti.

"Kalau pemerintah tetap akan mengabadikan namanya menjadi salah satu nama jalan di Ibu Kota Jakarta, hal itu jelas merupakan sebuah tindakan yang tidak baik dan tidak arif, serta jelas-jelas akan menyakiti dan mengundang keresahan di kalangan umat Islam, yang itu jelas tidak kita harapkan." kata Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas dalam keterangan tertulis, Minggu (17/10).

Anwar Abbas mengatakan Mustafa Kemal Ataturk adalah seorang tokoh yang sudah mengacak-acak ajaran Islam. Anwar Abbas menyebut banyak perbuatan Ataturk yang bertentangan dengan ajaran Al-Qur'an dan Assunnah.

Anwar Abbas kemudian menyampaikan Ataturk adalah tokoh sekuler yang tak percaya ajaran Islam dapat membawa Turki menjadi negara maju. Anwar Abbas menyebut Ataturk sesat.

"Jadi Mustafa Kemal Ataturk ini adalah seorang tokoh, yang kalau dilihat dari fatwa MUI, adalah orang yang pemikirannya sesat dan menyesatkan. Oleh karena itu, kalau pemerintah Indonesia akan tetap menghormatinya dengan mengabadikan namanya menjadi nama salah satu jalan di Ibu Kota Jakarta, hal demikian jelas akan sangat-sangat menyakiti hati umat Islam," kata Anwar Abbas.

PWNU DKI nilai penolakan wacana tersebut berlebihan. Simak pada halaman berikut.