Modal Golkar Gaet Pemilih Muda: Merit System Tak Bergantung Figur

Tim detikcom - detikNews
Senin, 18 Okt 2021 18:17 WIB
Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto menyebut Golkar dan Demokrat akan mengusung 33 pasang calon di Pilkada Serentak 2020. Lalu bagaimana di Jawa Timur?
Golkar (Faiq Azmi/detikcom)
Jakarta -

Partai Golkar punya target tinggi untuk Pemilu 2024: menjadi pemenang. Target tinggi Golkar itu memunculkan beragam pendapat. Satu hal yang diyakini, Golkar bisa menggaet pemilih muda dengan modal cukup, tak bergantung pada figur.

Adalah peneliti BRIN, Siti Zuhro, yang menilai suara pemilih muda penting bagi partai politik di Pemilu 2024. Golkar pun dinilai perlu memerhatikan segmen ini.

"Golkar harus memahami perilaku pemilih di Pemilu 2024, karena memang eranya sudah berganti, zamannya sudah berubah. Yang kedua, era new normal, disrupsi digital, dan juga Society 4.0, itu mensyaratkan semua partai politik harus berubah, termasuk Golkar," kata Siti dalam seminar daring nasional 'Dua Dasawarsa Kemenangan Golkar 2004-2024', Sabtu (16/10/2021).

Selain itu, Siti Zuhro menilai Golkar harus mempertimbangkan pemilih muda serta menarik pemilih pemula. Pemilih muda dan pemilih pemula, menurut Siti Zuhro, tak menyukai retorika.

"Ciri pemilih pemula atau muda itu ternyata tidak menyukai retorika. Jadi mereka ini lebih rasional. Dan diperkirakan pemilih muda dan pemula ini di Pemilu 2024 nanti itu berjumlah 60 persen dari total pemilihan kita," ujar Siti Zuhro.

Golkar diprediksi tidak kesulitan menggaet pemilih muda karena partai berlambang pohon beringin ini tak bergantung pada figur. Sebagai gambaran, beberapa partai politik saat ini bergantung pada figur, sebut saja PDIP dengan Megawati Soekarnoputri sebagai figurnya, Partai Gerindra dengan ketua umum Prabowo Subianto, NasDem yang dipimpin Surya Paloh, hingga Partai Demokrat yang lekat dengan sosok presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Golkar, yang tak bergantung pada figur, membuat mereka bisa bertahan selepas era Presiden Soeharto. Siti menyebut Golkar sebagai partai yang kokoh. Bukti kemenangan Golkar di 2004 dan selalu menjadi runner up di tiga pemilu berikutnya disebut Siti sebagai bukti keandalan kader-kader Golkar merebut hati rakyat.

"Saya mencatat Golkar mampu menunjukkan partainya itu tidak ditinggalkan rakyat, kan masih menjadi dambaan pemilihnya. Ini ditunjukkan dengan Pemilu '99, Golkar tidak terlempar, masih terpilih di tiga besar, di nomor dua, luar biasa itu," kata Siti Zuhro dalam seminar daring nasional 'Dua Dasawarsa Kemenangan Golkar 2004-2024', Sabtu (16/10/2021).

"Tapi, sebagai partai, Golkar itu perannya di politik kancah nasional dan daerah itu tercatat masih signifikan, dan sangat menentukan," tambahnya.

Pendapat serupa disampaikan cendekiawan muslim sekaligus guru besar UIN Syarif Hidayatullah, Azyumardi Azra. Azyumardi pun merinci parameter yang menunjukkan Golkar sebagai partai modern. Salah satunya eksistensi partai yang diisi banyak teknokrat dan kader dengan sistem merit atau berbasis kemampuan. Dia mengatakan sampai dengan saat ini sistem politik di Golkar terbilang demokratis dan tidak ada dinasti ataupun oligarki.

"Dinasti itu artinya dikuasai oleh anak cucu dan oligarkis itu dikuasai oleh elite politik yang terbatas. Kalau Golkar nggak! Kita bisa melihat siapa saja sebetulnya bisa menjadi pemimpin di Golkar, bisa mengalami mobilitas politik di Golkar," katanya.

Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah menyebut hal ini sebagai nilai tambah bagi partai berlogo beringin yang saat ini dipimpin oleh Airlangga Hartarto itu ketimbang partai-partai lain. Selain dinamis, lanjut dia, Golkar sangat terbuka bagi kader mana pun untuk memimpin partai tersebut.

Bagi Azyumardi, poin-poin ini menjadi nilai tambah bagi Partai Golkar. Terutama dalam menggaet suara anak-anak muda yang kritis terhadap keberadaan politik dinasti dan oligarki di Indonesia.

"Satu keunggulan yang saya kira bisa dijual dipasarkan oleh Golkar dalam masa-masa sekarang ini, terutama kepada generasi milenial, bahwa Golkar ini adalah partai merit bukan partai dinasti," katanya.

(gbr/tor)