Video 20Detik

Momen Saat Petugas Cabut Stiker Jaga Jarak di Masjidil Haram

dtv - detikNews
Minggu, 17 Okt 2021 10:59 WIB
Jakarta -

Pemerintah Arab Saudi mulai melonggarkan protokol kesehatan COVID-19 terkait aturan jaga jarak di Masjidil Haram, Mekah. Terlihat dalam unggahan Instagram @haramain_info stiker penanda jaga jarak mulai dicabut.

"Momen indah di Masjid Al Haram setelah penghapusan stiker dan penyekatan jaga jarak" tulis di dalam akun Instagram @haramain_info, Minggu (17/10/2021).

Pemerintah Arab Saudi telah memberlakukan kapasitas penuh di tempat ibadah tersebut. Tetapi aturan itu ditujukan kepada jemaah yang sudah menerima dua dosis vaksin COVID-19.

Jemaah yang sudah menerima dosis vaksin lengkap tetap diminta memakai masker selama di Masjidil Haram. Mereka juga diminta menggunakan aplikasi yang ditetapkan pemerintah untuk memantau kesehatan jemaah serta izin untuk salat dan umroh atau mengunjungi Al Rawdah.

Sumber resmi di Kementerian Dalam Negeri menyatakan persetujuan Raja untuk keputusan baru didasarkan pada rekomendasi yang diajukan oleh otoritas kesehatan.

Berikut keputusan pelonggaran pembatasan yang diumumkan oleh kementerian:

1. Tidak wajib memakai masker di tempat terbuka, kecuali di beberapa tempat yang dikecualikan, tetapi wajib memakai masker di dalam ruangan.

2. Tindakan pencegahan bagi mereka yang menerima dua dosis vaksin Coronavirus dilonggarkan sebagai berikut:

- Izin penggunaan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi dengan kapasitas penuh namun wajib menggunakan masker bagi pekerja dan pengunjung setiap saat di seluruh koridor masjid. Izin untuk melakukan umroh atau salat di Masjidil Haram atau Rawda Syarif di Masjid Nabawi akan terus dikeluarkan melalui pengangkatan melalui aplikasi Eatmarna atau Tawakkalna sebagai bagian dari langkah-langkah untuk mengontrol jumlah umat beriman.

-Membiarkan penggunaan kapasitas penuh dalam pertemuan sosial di tempat umum serta di restoran, bioskop, sarana transportasi dan sejenisnya, dan itu tanpa menjaga jarak sosial.

- Mengizinkan mengadakan dan menghadiri acara di aula pernikahan dan tempat lain tanpa batasan jumlah tetapi menekankan penerapan tindakan pencegahan mengingat keseriusan perilaku yang terkait dengannya.


3. Imunisasi dengan dua dosis vaksin diperlukan untuk memasuki semua fasilitas dan kegiatan sebagaimana dimaksud pada angka 2 di atas, kecuali yang tidak termasuk dan yang diberikan pengecualian, sesuai dengan yang tertera pada aplikasi Tawakkalna. Mereka juga harus mematuhi semua tindakan pencegahan, termasuk memakai masker.

4. Penerapan physical distancing dan penggunaan masker tetap dilakukan di lokasi-lokasi yang tidak dilakukan pemeriksaan status kesehatan melalui aplikasi Tawakkalna.

5. Otoritas Kesehatan Masyarakat (Weqaya) bertugas menyiapkan protokol pencegahan yang harus dipatuhi untuk semua kegiatan yang disebutkan dalam angka 2.

6. Semua entitas sektor publik dan swasta harus memeriksa status kesehatan kekebalan pada aplikasi Tawakkalna untuk semua orang yang ingin memasuki tempat mereka. Mereka juga harus menindaklanjuti kepatuhan terhadap tindakan pencegahan dan protokol pencegahan yang diambil oleh otoritas terkait untuk membendung penyebaran virus corona, termasuk memakai masker.

7. Otoritas terkait harus mengambil tindakan hukuman terhadap pelanggar tindakan pencegahan dan protokol pencegahan yang diumumkan sebelumnya oleh otoritas terkait untuk menghadapi pandemi.

8. Kementerian Kesehatan akan menindaklanjuti jumlah kasus terinfeksi virus corona yang diterima, terutama di unit perawatan intensif, dan menyerahkan laporan kepada otoritas terkait jika diperlukan untuk memperketat tindakan pencegahan di kota, provinsi, atau wilayah di seluruh Kerajaan.

(rmi/rmi)