LaNyalla Harap UNUSA Ikut Kontribusi Tingkatkan Pembangunan Kesehatan RI

Inkana Putri - detikNews
Sabtu, 16 Okt 2021 18:25 WIB
Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti
Foto: DPD
Jakarta -

Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, menghadiri pengukuhan Profesor Dr Mulyadi, dr, Sp.P(K), FISR sebagai Guru Besar bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) hari ini. LaNyalla berharap ke depannya, Mulyadi dapat memanfaatkan ilmunya untuk kemajuan bangsa Indonesia.

"Saya ucapkan selamat kepada Profesor Mulyadi, yang hari ini dikukuhkan sebagai Guru Besar di bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. Semoga ilmu dan keahlian yang dimiliki dapat bermanfaat bagi nusa dan bangsa," kata LaNyalla dalam keterangan tertulis, Sabtu (16/10/2021).

Di kesempatan tersebut, LaNyalla berharap UNUSA dapat berkontribusi meningkatkan pembangunan sektor kesehatan melalui berbagai fakultas miliknya.

Sebab, Senator asal Jawa Timur ini menilai sektor kesehatan menjadi garda terdepan di masa pandemi COVID-19. Terlebih ilmu Pulmonologi merupakan salah satu ilmu kedokteran yang fokus menangani gangguan pada sistem pernapasan, seperti yang diserang oleh virus COVID-19.

"Semoga kehadiran Profesor Mulyadi sebagai Guru Besar di UNUSA, dapat semakin memberi kontribusi nyata bagi perbaikan negeri ini ke depan," katanya.

Menurut LaNyalla, ketahanan sektor kesehatan Indonesia masih rapuh. Adapun hal ini terlihat secara jelas dari minimnya penanganan kesehatan di Indonesia saat terjadi ledakan kasus COVID-19.

"Saat ledakan korban COVID-19, rumah sakit sangat kewalahan, tenaga medis, fasilitas kesehatan dan alat medis banyak alami kekurangan. Selain itu ternyata industri alat kesehatan kita masih didominasi produk impor. Di sisi lain, karya-karya anak bangsa yang memproduksi alat pendukung medis belum diakui negara. Dari ventilator sampai vaksin Merah Putih dan Vaksin Nusantara," lanjutnya.

Sementara itu, dalam pidatonya, Mulyadi menyoroti soal tantangan pendidikan dokter dan rumah sakit pendidikan dalam menghadapi kondisi pandemi. Menurutnya, dampak pandemi bagi dunia akademik kedokteran menjadi sebuah mimpi buruk.

Terkait hal ini, Mulyadi pun menilai praktek langsung dalam pendidikan kedokteran menjadi hal penting. Meski demikian, hal tersebut tidak terealisasi oleh adanya batasan akibat pandemi.

"Padahal untuk menghasilkan gladiator atau petarung-petarung yang terjun ke medan perang perlu praktek dan belajar secara langsung. Tidak ada guru yang lebih baik tanpa secara langsung menangani pasien. Makanya pendidikan kedokteran secara online adalah tidak mungkin. Tapi di kondisi pandemi ini menjadi dilema. Untunglah saat ini sudah bisa dilakukan pelajaran secara langsung meski terbatas," katanya.

Dalam kesempatan itu, Mulyadi juga mengapresiasi LaNyalla atas segala motivasinya. Mulyadi menyebut LaNyalla selalu mengingatkan dirinya untuk menjalankan ibadah, berikhtiar dan berdoa.

"Saya juga mengingat orang tua Pak LaNyalla, Bapak Mahmud Mattalitti. Tahun 1981 saat saya datang pertama kali ke Surabaya, kuliah di Unair, saya bertemu beliau. Saya sebagai anak dari desa terpencil di Aceh Selatan diberi nasehat yang membuat saya kuat dan berdiri sampai sekarang. Beliau mengatakan laki-laki tidak boleh takut, harus jadi pemberani dan tidak boleh ragu-ragu. Itu sebagai modal untuk keberhasilan nanti. Dan benar apa yang dikatakan tersebut. Terbukti saya bisa mencapai posisi seperti sekarang. Alhamdulillah," pungkasnya.

Sebagai informasi, dalam acara tersebut hadir juga Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar, Gubernur Aceh Nova Iriansyah, Ketua Yayasan UNUSA Profesor Muhammad Nuh, Rektor UNUSA Profesor Achmad Jazidie dan para anggota Senat Terbuka dan Sivitas Akademika UNUSA.

(fhs/ega)