Akankah Ada Sanksi untuk Puan yang Didukung Jadi Capres?

Arief Ikhsanudin - detikNews
Kamis, 14 Okt 2021 07:01 WIB
PDIP akan menggelar Rakornas untuk menyambut HUT ke-46 pada Kamis (10/1/2019) mendatang. Ratusan bendera PDIP merahkan jalanan Jakarta.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto beberapa waktu lalu mengumumkan perihal sanksi untuk kader yang menyebut capres-cawapres sebelum ada keputusan dari ketua umum. Bahkan, kader yang didukung untuk maju di Pilpres 2024, meski bukan dia yang menyebutkan juga akan diberi sanksi.

Beberapa hari lalu, pendukung Puan Maharani di wilayah Malang, Jawa Timur, mendeklarasikan Gema Puan, yang bertujuan untuk memberikan dukungan kepada Ketua DPP PDIP itu maju menjadi capres 2024.

Akankah PDIP memberikan sanksi ke Puan, sebagaimana pengumuman yang disampaikan Hasto?

"Ya bagaimana, Puan kan putri mahkota, masak iya mau ditindak sama seperti Ganjar (Ganjar Pranowo)," kata pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio kepada wartawan, Rabu (13/10/2021).

Hendri menilai dalam hal dukung-mendukung ini Puan lebih diuntungkan. Ganjar dinilai harus menyadari posisinya.

"Jadi dalam politik, ada perbedaan dan ini lebih menguntungkan Puan. Lagian, Ganjar juga sebaiknya tahu diri," ucap Hendri.

Terpisah, peneliti dari Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam menjelaskan bahwa PDIP merupakan partai dengan model demokrasi terpimpin. Umam menyebut PDIP tidak memberikan ruang kepada kadernya untuk berbeda pandangan dengan pimpinannya.

"Sebagai anak biologis sekaligus kepanjangan tangan Megawati, Puan dianggap sebagai salah satu pemilik saham politik mayoritas di PDIP. Dengan model demokrasi terpimpin, yang tidak memberikan ruang kebebasan bagi para kadernya untuk berbeda pandangan dengan pemimpinnya," terang Umam.

"Wajar kalau elite PDIP lainnya tutup mata pada perilaku pendukung Puan yang belakangan semakin vulgar menyerang kompetitor dengan istilah-istilah yang cukup kasar," imbuhnya.

Istilah kasar yang dimaksud Umam adalah sebutan celeng kepada kader PDIP yang mendeklarasikan Ganjar sebagai capres. Menurut Umam, baik Ganjar atau Puan memiliki pendukung yang loyal.

"Baik Puan dan Ganjar, masing-masing memiliki basis pemilih loyal di internal PDIP. Kedua kubu itu semakin vulgar konfrontasinya, mengingat kubu Puan ingin semua elemen kekuatan politik tertib di bawah kontrol demokrasi terpimpin yang dikendalikan ibunya, Megawati, dengan Puan sebagai kepanjangan tangan dalam pengambilan keputusan strategis," paparnya.

Selain itu, Umam juga menyoroti perihal sikap Ganjar. Dia menduga Ganjar ingin tetap peluangnya maju di Pilpres 2024 tetap terbuka.

"Ganjar seharusnya punya kendali langsung untuk mengerem mesin politik pendukungnya. Jadi, sikap diam Ganjar bisa jadi ditujukan sebagai langkah mitigasi untuk tetap membuka peluang nyapres yang kian menyempit, akibat tidak matched-nya komunikasi politik Ganjar dengan elite PDIP," sebutnya.

Lihat Video: PDIP Kebumen Jelaskan Soal Dukung Puan Jadi Capres

[Gambas:Video 20detik]



(aik/aik)