Vonis Ditambah Jadi 5 Tahun Penjara, Eks Wali Kota Dumai Ajukan Banding

Raja Adil Siregar - detikNews
Selasa, 12 Okt 2021 12:19 WIB
Wali Kota nonaktif Dumai Zulkifli Adnan Singkah diperiksa KPK. Ia diperiksa terkait kasus suap yang menjerat dirinya.
Eks Wali Kota Dumai Zulkifli Adnan (Ari Saputra/detikcom)
Dumai -

Eks Wali Kota Dumai, Zulkifli Adnan Singkah, mendapat vonis lebih tinggi di kasus mafia anggaran. Pria yang akrab disapa Zul As itu pun memutuskan mengajukan kasasi.

"Setelah koordinasi dengan klien kami, Pak Zul As, kemarin, beliau memutuskan untuk kasasi," kata penasihat hukum Zul As, Wan Subantriarti, Selasa (12/10/2021).

Wan mengatakan kasasi rencananya akan diajukan dalam pekan ini. Hal ini dilakukan setelah ia dan tim melengkapi berkas untuk kasasi.

"Kami sedang lengkapi berkas, minggu ini kami ajukan. Tentu beliau keberatan sama putusan kemarin," katanya.

Diketahui Zul AS mendapat vonis lebih tinggi di kasus mafia anggaran yang diputus Pengadilan Tinggi, Selasa (5/10) lalu. Vonis Zulifli bertambah dari 2,5 tahun penjara menjadi 5 tahun penjara.

Vonis dibacakan 3 hakim Pengadilan Tinggi Pekanbaru, Panusunan Harahap selaku ketua serta 2 hakim anggota, Khairul Fuad dan Yusdirman. Vonis terhadap Zukifli dibacakan pada Selasa (5/10).

"Menjatuhkan pidana penjara selama 5 tahun terhadap terdakwa Zul AS berupa pidana penjara 5 tahun dan denda Rp 250 juta subsider 3 bulan kurungan," kata majelis.

Dalam putusannya, majelis hakim membatalkan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Tingkat Pertama pada Pengadilan Negeri Pekanbaru Nomor: Nomor 15/Pid.Sus-TPK/2021/PN.Pbr tanggal 12 Agustus lalu.

Zulkifli AS ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus dugaan suap mantan pejabat Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Yaya Purnomo. Zulkifli juga disangkakan menerima gratifikasi.

Kasus pertama, Zulkifli memberikan Rp 550 juta kepada Yaya untuk mengurus DAK pada APBN-P 2017 dan APBN 2018 untuk Kota Dumai. Sedangkan untuk perkara kedua, yaitu gratifikasi, Zulkifli menerima gratifikasi berupa uang Rp 50 juta dan fasilitas kamar hotel di Jakarta.

(ras/isa)