DPRD Sulbar Minta Pemprov Lindungi TKW Terancam Hukuman Mati di Malaysia

Abdy Febriady - detikNews
Selasa, 12 Okt 2021 09:42 WIB
TKW yang terancam hukuman mati gegara tepergok bawa narkoba
TKW yang terancam hukuman mati gegara tepergok bawa narkoba (Foto: dok. Istimewa)
Mamuju -

Wakil Ketua DPRD Sulawesi Barat (Sulbar) Usman Suhuriah meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) proaktif melindungi tenaga kerja wanita (TKW) berinisial SA (35) yang terancam hukuman mati di Malaysia. SA kedapatan membawa barang diduga narkoba saat hendak pulang ke Indonesia.

"Meminta kepada Pemprov Sulbar mengambil langkah strategis untuk melindungi WNI asal daerah ini di mana pun, apalagi berada di luar negeri, yang menghadapi masalah hukum karena dugaan melakukan tindak pidana," kata Usman kepada wartawan, Selasa (12/10/2021).

SA merupakan warga Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar, Sulbar. Usman mengaku pihaknya turut prihatin atas masalah hukum yang dihadapi SA.

Lebih lanjut Usman menegaskan setiap WNI dilindungi hak-haknya dan dijamin oleh UUD 1945, baik yang berada di dalam maupun luar negeri. Dan berdasarkan UU Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri, pemerintah Indonesia melindungi kepentingan warga negara sesuai ketentuan hukum dan kebiasaan internasional.

"Dalam hal inilah pemerintah daerah/provinsi perlu melakukan konfirmasi mengenai permasalahan atau kasus tersebut untuk mengetahui duduk masalah yang sebenarnya dan bentuk fasilitasi yang diperlukan untuk dilakukan," tutur politikus Partai Golkar itu.

Menurut Usman, Pemprov Sulbar perlu proaktif berkomunikasi dengan Kementerian Luar Negeri dan BP2MI (Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia) serta pihak lain yang terkait. Hal ini untuk memperoleh informasi yang jelas mengenai kasus tersebut.

"Selanjutnya, melakukan upaya yang diperlukan WNI yang menjadi pekerja migran dan sedang menghadapi masalah hukum di luar negeri," tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, SA terancam hukuman mati di Malaysia setelah kedapatan membawa barang diduga narkoba ketika hendak pulang ke Indonesia.

Ibu SA, Bicci, mengungkapkan bahwa kabar ini diperoleh melalui sambungan telepon sebulan lalu dari seorang wanita yang mengaku sebagai personel Polis Diraja Malaysia. Hal itu juga dibenarkan sejumlah kerabatnya yang merantau di negeri jiran tersebut.

"Kabarnya saya terima sekira empat minggu lalu. Sempat ditelepon sama perempuan yang mengaku polisi, dia menyampaikan anak saya ditangkap," kata Bicci saat dijumpai wartawan di rumahnya, Senin (11/10) sore.

"Keluarga saya di sana juga bilang, anak saya ditangkap, karena bawa anu (narkoba), barang terlarang," sambung Bicci sambil berurai air mata.

Berdasarkan informasi yang diperoleh Bicci, anaknya tertangkap dalam perjalanan menuju pelabuhan di Malaysia ketika hendak kembali pulang ke Indonesia. SA didapati membawa narkoba sebanyak 1 kilogram.

Kendati demikian, Bicci mengaku barang terlarang tersebut bukanlah milik anaknya, melainkan titipan orang lain. Dia melakukannya dengan iming-iming sejumlah uang. SA diketahui bersedia membawa barang terlarang tersebut lantaran saat itu sedang butuh biaya untuk kembali ke kampung halaman.

"Mau pulang ke sini tidak ada biayanya. Akhirnya ikut sama orang, dibayarkan kapal, dititipi itu barang, bukan punyanya, dititipi sama orang, butuh biaya untuk pulang, " ungkapnya lirih.

(nvl/nvl)