Diundang di Konferensi Penginjil, Menag Belum Terima Undangan

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Senin, 11 Okt 2021 11:53 WIB
Menag Yaqut Cholil Qoumas
Menag Yaqut Cholil Qoumas (Foto: dok. Kemenag)
Jakarta -

Gereja Bethel Indonesia (GBI) mengundang Menag Yaqut Cholil Qoumas untuk berbicara mengenai moderasi agama di Konferensi Penginjil Indonesia ke-2. Namun Menag sampai saat ini mengaku belum menerima undangan.

"Saya belum terima undangan," kata Menag Yaqut saat dimintai konfirmasi, Senin (11/10/2021).

Informasi mengenai Menag di acara Konferensi Penginjil Indonesia ke-2 itu tercantum dalam poster digital yang diunggah di situs Glow Fellowship Centre GBI. Selain Menag, bakal hadir sejumlah pembicara lain, mulai dari Pendeta Rubin Adi Abraham, Tim Hill, Ketua PGI Pendeta Gomar Gultom hingga Ketua PGLII Pendeta Ronny Mandang. Pendeta Gilbert Lumoindong bakal menjadi host dalam acara yang digelar virtual pada 16 Oktober 2021 itu.

Saat dihubungi, Pendeta Gilbert Lumoindong menjelaskan kehadiran Menag dalam acara itu untuk berbicara mengenai moderasi beragama.

"Dalam hal ini salah satu konsep, salah satu visi dari Menteri Agama kan lebih ke arah moderasi beragama, bagaimana beragam secara moderat," kata Pendeta Gilbert Lumoindong saat dihubungi terpisah.

Pendeta Gilbert lantas berbicara tentang syiar agama. Dia juga menyoroti kasus Muhammad Kace dan Yahya Waloni.

"Yang kita lihat dari fenomena Kace dan Yahya Waloni, kan sebetulnya niat mereka baik. Maksudnya Yahya Waloni dari Kristen menuju Islam, merasa mendapat pencerahan. Sementara Kace juga sama dari Muslim masuk Kristen mungkin terus mendapat pencerahan," ujar Pendeta Gilbert.

"Tetapi yang terjadi kan tidak konstruktif, bahasa kita tidak konstruktif, nah jadi akhirnya yang terjadi adalah mungkin niatnya baik tapi cara pelaksanaannya tidak konstruktif. Jadi tidak menjawab kebutuhan yang ada memancing keributan," ujar Pendeta Gilbert.

Pendeta Gilbert mempersilakan penganut agama masing-masing melakukan dakwah atau mengabarkan sesuatu yang baik. Namun dia mengingatkan hal tersebut jangan dilakukan dengan cara-cara yang memancing keributan.

"Karena kita adalah agama dakwah, agama syiar, istilahnya, baik Kristen maupun Islam, silakan berdakwah, bersyiar, mengabarkan sesuatu yang baik kepada orang, istilahnya bersaksi. Silakan-silakan saja sejauh tidak memakai cara-cara yang memancing keributan sehingga tetap sejalan dengan Pancasila, kemanusiaan dan keadilan itu berjalan dengan baik," ujar Pendeta Gilbert.

(knv/fjp)