Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron Pertanyakan Motivasi Novel dkk Dirikan IM57+

Azhar Bagas Ramadhan - detikNews
Jumat, 08 Okt 2021 17:44 WIB
(Kiri-kanan) Deputi Pencegahan KPK Pahala Nainggolan, Menaker Ida Fauziyah, Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron dan Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto memberi paparan usai pertemuan ketiga belah pihak di Gedung KPK, Jumat (2/10/2020). Ketiga lembaga membahas penyaluran bantuan subsidi/upah.
Wakil Ketua KPK, Nurul Ghufron (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Wakil Ketua KPK Nurul Ghufron mengaku tak paham dengan berdirinya Indonesia Memanggil atau IM57+ Institute yang didirikan Novel Baswedan dan 56 mantan pegawai KPK lainnya. Ghufron mempertanyakan motivasi didirikannya IM57+.

"Saya tidak memahami apa orientasi ataupun motivasi mendirikan IM57," kata Ghufron kepada wartawan di gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Jumat (8/10/2021).

Namun, dia mengatakan, KPK membuka opsi untuk bekerja sama dengan siapa pun dalam memberantas korupsi, termasuk dengan IM57+. KPK, kata Ghufron, tentu akan bekerja sama dengan pihak mana pun asalkan sama-sama memiliki komitmen dalam pemberantasan korupsi.

"Sekali lagi, yang jelas KPK akan terus melakukan pemberantasan korupsi dengan seluruh lapisan masyarakat, termasuk dengan siapa pun termasuk dengan IM57. Kalau memang komitmen orientasi kelembagaannya adalah memberantas korupsi, tentu KPK akan terbuka untuk melakukan kolaborasi dengan setiap apa pun," katanya.

Sebelumnya, Novel Baswedan dan 56 pegawai lainnya setelah dipecat KPK mendirikan Indonesia Memanggil 57+ atau IM57+.

IM57+ Institute memiliki executive board yang terdiri atas Hery Muryanto (eks Deputi Bidang Koordinasi dan Supervisi KPK), Sujanarko (eks Direktur PJKAKI KPK), Novel Baswedan, Giri Suprapdiono (eks Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK), dan Chandra SR (eks Kabiro SDM KPK).

Selain itu juga terdapat investigation board, yang terdiri atas para penyidik dan penyelidik senior, law and strategic research board, yang beranggotakan ahli hukum dan peneliti senior. Selanjutnya ada education and training board, yang terdiri atas jajaran ahli pendidikan dan training antikorupsi.

Wadah ini dideklarasikan secara resmi oleh salah satu pegawai, yakni M Praswad Nugraha, pada Kamis kemarin (30/9) di gedung Dewas KPK. Dia menyebut wadah ini merupakan bentuk nyata dari pemberantasan korupsi yang sebenarnya.

"58 orang yang dinyatakan TMS merupakan orang-orang yang telah membuktikan kontribusi dalam pemberantasan korupsi dalam bentuk nyata. Untuk itu, kontribusi tersebut tidak dapat berhenti hari ini dan IM57 Institute menjadi rumah untuk terus mengkonsolidasikan kontribusi dan gerakan tersebut demi tercapainya cita-cita Indonesia yang antikorupsi," kata Praswad.

Institute ini diharapkan menjadi sarana bagi 58 alumni KPK untuk berkontribusi dalam pemberantasan korupsi melalui kerja-kerja pengawalan, kajian, strategi, dan pendidikan antikorupsi. Praswad menyebut salah satu alasan mendirikan IM57+ Institute ini dikarenakan para pegawai masih merasakan utang kepada rakyat dalam hal pemberantasan korupsi.

Simak video 'Polri Akan Tempatkan 57 Eks Pegawai KPK Sesuai Bidangnya, Termasuk Novel':

[Gambas:Video 20detik]



(azh/zap)