Serangan Balik Haji Isam

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 07 Okt 2021 13:13 WIB
Jakarta -

Pengusutan perkara dugaan suap di balik dugaan rekayasa penghitungan pajak memasuki babak baru. Kasus yang ditangani KPK ini memunculkan nama Samsudin Andi Arsyad alias Haji Isam yang dikenal sebagai crazy rich dari Kalimantan Selatan (Kalsel).

Awalnya KPK menjerat 6 orang tersangka dalam perkara ini, yaitu:

1. Angin Prayitno Aji sebagai Direktur Pemeriksaan dan Penagihan pada Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) 2016-2019;
2. Dadan Ramdani sebagai Kepala Subdirektorat Kerja Sama dan Dukungan Pemeriksaan pada Ditjen Pajak 2016-2019;
3. Ryan Ahmad Ronas selaku Konsultan Pajak;
4. Aulia Imran Maghribi selaku Konsultan Pajak;
5. Agus Susetyo selaku Konsultan Pajak; dan
6. Veronika Lindawati selaku Kuasa Wajib Pajak.

Angin Prayitno dan Dadan didakwa menerima Rp 15 miliar dan SGD 4 juta dari Ryan, Aulia, Agus, serta Veronika. Bila dirupiahkan, keseluruhannya Rp 15 miliar ditambah SGD 4 juta atau sekitar lebih dari Rp 42 miliar sehingga total penerimaan suapnya lebih dari Rp 57 miliar.

Disebutkan dalam surat dakwaan itu bahwa Ryan dan Aulia sebagai konsultan pajak dari PT Gunung Madu Plantations (GMP), Veronika sebagai kuasa Bank Pan Indonesia (PaninBank), dan Agus sebagai konsultan pajak dari PT Jhonlin Baratama (JB). Mereka memberikan suap ke Angin Prayitno dan Dadan untuk merekayasa penghitungan pajak pada ketiga perusahaan itu.

Angin Prayitno dan Dadan disebut pula dibantu tim pemeriksa pajak pada Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan Ditjen Pajak, yaitu Wawan Ridwan, Alfred Simanjuntak, Yulmanizar, serta Febrian. Namun keempat orang itu masih berstatus saksi dalam perkara ini.

Rincian Suap

Pemberian suap ke Angin Prayitno dan Dadan ini diambil dari surat dakwaan KPK yang telah dibacakan dalam sidang terbuka untuk umum di Pengadilan Tipikor Jakarta pada Rabu, 22 September 2021. Berikut ini rinciannya:

1. PT GMP

Tim pemeriksa pajak awalnya menemukan potensi pajak dari PT GMP sebesar Rp 5,059 miliar. Ryan dan Aulia selaku konsultan pajak PT GMP disebut meminta pajak itu direkayasa dengan tawaran imbalan uang.

Nilai pajak PT GMP pun diatur menjadi Rp 19.821.605.943 sesuai permintaan. Namun tidak disebutkan jelas berapa sebenarnya nilai pajak PT GMP.

Atas hal itu, Angin meminta suap Rp 15 miliar. Permintaan itu disetujui oleh PT GMP yang uangnya diserahkan PT GMP secara tunai.

2. PaninBank

Bermula dari tim pemeriksa pajak yang menemukan potensi pajak PaninBank pada 2016 sebesar Rp 81,653 miliar. Dari pengusutan lebih lanjut, ternyata disebutkan bahwa PaninBank kurang bayar pajak Rp 926,263 miliar.

Singkat cerita, Veronika, yang disebut sebagai orang kepercayaan pemilik PaninBank Mu'min Ali Gunawan, menemui tim pemeriksa pajak dan melakukan negosiasi. Veronika meminta agar kewajiban pajak itu dihitung hanya Rp 300 miliar dengan janji pemberian suap Rp 25 miliar.

Realisasinya, pihak PaninBank hanya memberikan SGD 500 ribu atau sekitar Rp 5 miliar. Namun disebutkan Angin Prayitno dan Dadan tidak mempermasalahkan dan tetap menerima uang itu.

3. PT JB

Lagi-lagi tim pemeriksa pajak menemukan potensi pajak kali ini PT JB untuk tahun 2016 yaitu sebesar Rp 6,608 miliar dan untuk 2017 sebesar Rp 19,049 miliar. Agus Susetyo, selaku konsultan pajak yang ditunjuk PT JB, disebut meminta tim pemeriksa pajak merekayasa nilai pajaknya di kisaran Rp 10 miliar.

Untuk hal itu, Agus disebut menjanjikan suap Rp 50 miliar. Singkat cerita nilai pajak PT JB pun diatur menjadi Rp 10.689.735.155, padahal seharusnya Rp 63.667.534.805.

PT JB pun disebut memberikan SGD 3,5 juta ke Angin dan Dadan melalui Yulmanizar. Pemberian dilakukan secara bertahap.

Belakangan dalam persidangan terungkap soal Haji Isam. Bagaimana ceritanya?