Jaksa Ungkap Cara Pemberian Suap Eks Pejabat Pajak: Rp 15 M Diangkut 3 Mobil

Zunita Putri - detikNews
Rabu, 22 Sep 2021 15:44 WIB
Mantan pejabat Ditjen Kemenkeu Angin Prayitno Aji, diperiksa KPK terkait kasus dugaan suap pengurusan pajak di Ditjen Pajak.
Angin Prayitno (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Jaksa KPK mengungkapkan ada sekitar tiga mobil yang membawa uang Rp 15 miliar milik PT Gudang Madu Plantations (GMP) untuk diserahkan ke mantan Direktur Pemeriksaan dan Penagihan Ditjen Pajak, Angin Prayitno Aji. Uang itu merupakan uang suap.

Awalnya, jaksa KPK mengungkapkan deal-deal-an konsultan pajak PT GMP, Aulia Imran Magribi dan Ryan Ahmad Ronas, dengan Angin Prayitno dkk untuk merekayasa pajak PT GMP menjadi Rp 19.821.605.943,51. Jaksa mengatakan nilai pajak itu ditentukan setelah keduanya sepakat ada pemberian fee Rp 15 miliar.

Kesepakatan itu terjadi setelah Wawan Ridwan, Alfred Simanjuntak, dan Yulmanizar, serta Febrian selaku Tim Pemeriksa Pajak melakukan pengecekan langsung ke PT GMP di Lampung Tengah. Tim ini yang menghubungkan PT GMP dengan Angin Prayitno dan Kepala Sub-Direktorat Kerjasama dan Dukungan Pemeriksaan Ditjen Pajak, Dadan Ramdani.

"Akhirnya fee disetujui sebesar Rp15 miliar. Selanjutnya besaran fee tersebut dilaporkan Wawan Ridwan kepada Terdakwa I (Angin) melalui Terdakwa II (Dadan), dimana Terdakwa I menyetujuinya. Setelah adanya persetujuan dari Terdakwa I, Wawan menyampaikan kepada Yulmanizar dengan mengatakan, 'Pak Dir setuju'," ungkap jaksa KPK Takdir Suhan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakpus, Rabu (22/9/2021).

Setelah nilai pajak PT GMP ditetapkan menjadi Rp 19.821.605.943, proses penyerahan uang Rp 15 miliar sebagaimana kesepakatan keduanya pun terjadi. Jaksa mengungkapkan, untuk merealisasikan penyerahan fee itu, PT GMP merekayasa catatan uang pengeluarannya.

"Bahwa untuk merealisasikan kesepakatan pemberian fee kepada para Terdakwa dan Tim Pemeriksa, Lim Poh Ching selaku General Manager PT GMP memerintahkan Iwan Kurniawan selaku Asisten Service Manager PT GMP untuk menyediakan uang sebesar Rp 15 miliar dengan cara membuat pengeluaran yang dicatatkan sebagai form bantuan, yaitu: donation form untuk bantuan sosial Teluk Betung Barat tertanggal 15 Januari 2018 sebesar Rp 5 miliar, kedua donation form untuk bantuan sosial Desa Kedaton tertanggal 15 Januari 2018 sebesar Rp 5 miliar, ketiga donation form untuk bantuan sosial Gunung Sugih tertanggal 17 Januari 2018 sebesar Rp 5 miliar, padahal bantuan tersebut bersifat fiktif," ungkap jaksa.

Kemudian uang itu diantarkan oleh tiga orang karyawan PT GMP, yakni Iwan Kurniawan, Galih Wicaksana, dan Gatot Wibisono. Mereka membawa uang itu dari Lampung Tengah dan diantarkan ke Jakarta. Uang Rp 15 miliar itu diangkut menggunakan tiga mobil yang dibawa oleh tiga karyawan itu.

"Bahwa pada hari Selasa tanggal 23 Januari 2018 Iwan Kurniawan bersama dengan Gakih Wicaksana (Staf Admin Transportasi dan Staf Business Development PT GMP), Teguh Pamuji (Driver PT GMP), Gatot Wibisono (Driver PT GMP), Suitbertus Suhartono (Driver PT GMP), dan Roni Wakasala (Petugas Pengamanan PT GMP) berangkat ke Jakarta dengan membawa uang Rp 15 miliar dengan mengendarai 3 unit mobil yaitu Mitsubishi Pajero Sport warna putih nopol BE 1460 BA, serta mobil Toyota Innova warna silver, dan Toyota Innova warna putih yang telah diisi dengan uang tersebut," tutur jaksa.

Sesampai di Jakarta, uang itu diserahkan ke Yulmanizar dan kemudian diserahkan ke Angin Prayitno melalui Wawan Ridwan dalam bentuk dolar SGD 750 ribu atau setara Rp 7,5 miliar. Sisa uangnya diserahkan ke tim pemeriksa.

Terkait PT GMP ini, Dadan juga mendapat uang Rp 7,5 miliar sama dengan Angin. Namun Dadan mendapatkan uangnya pada Februari 2018.

"Setelah uang ditukarkan dalam mata uang dolar Singapura, Yulamnizar menyerahkan sebesar SGD 750 ribu atau setara Rp 7,5 miliar kepada Wawan Ridwan sebagai bagian untuk terdakwa I dan II. Sedangkan sisanya dibagi rata kepada Wawan Ridwan, Alfred Simanjuntak, dan Yulmanizar, serta Febrian," pungkas jaksa.

(zap/dwia)