Ratu Kalinyamat Harus Jadi Inspirasi Penguatan Maritim Nasional

ADVERTISEMENT

Ratu Kalinyamat Harus Jadi Inspirasi Penguatan Maritim Nasional

Khoirul Anam - detikNews
Kamis, 07 Okt 2021 09:43 WIB
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat mengatakan pencapaian Ratu Kalinyamat harus dijadikan sebagai inspirasi. Khususnya dalam membangun armada laut demi mempertahankan wilayah Indonesia di masa kini dan mendatang.

"Di abad ke-16 sudah ada jejak-jejak supremasi maritim yang ditorehkan oleh tokoh perempuan yang dikenal dengan Ratu Kalinyamat," kata politisi yang akrab disapa Rerie ini dalam keterangannya, Kamis (7/10/2021).

Hal ini diungkapkan Rerie saat membuka Seminar Internasional secara daring bertema Konstelasi Kekuatan Poros Maritim Dalam Perspektif Ratu Kalinyamat yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (6/10).

Diskusi yang dimoderatori Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR, Dr. Irwansyah ini menghadirkan narasumber Pengamat Militer dan Hankam Dr. Connie Rahakundinie Bakrie, Sejarawan Prof. Ratno Lukito, Catolica Universidade Portuguesa Prof. Vitor Teixeira, dan Wakil Kepala Pusat Kajian Maritim Seskoal
Kolonel Laut (P) Salim.

Selain itu hadir pula Budayawan Sujiwo Tejo dan Staf Khusus Wakil Ketua MPR Dr. Atang Irawan sebagai penanggap.

Berdasarkan kajian para pakar yang tergabung dalam Tim Pakar Ratu Kalinyamat dari Yayasan Darma Bakti Lestari, ungkap Rerie, Ratu Kalinyamat berhasil membangun kedaulatan keamanan dan mampu membangun aliansi strategis untuk mengatasi ancaman kolonial.

Ia menyayangkan jika citra Ratu Kalinyamat saat ini malah dipersepsikan negatif.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu berharap, sejarah Ratu Kalinyamat yang dikaburkan di masa lalu harus segera diluruskan.

Karena, jelas Rerie, berbagai temuan ilmiah dari pakar sejarah membuktikan peran Ratu Kalinyamat sedemikian penting dalam memimpin perlawanan terhadap penjajahan Portugis dengan menerapkan visi poros maritim.

Dalam perspektif poros maritim, tegas Rerie, saat ini Indonesia harus menjadi poros maritim dunia sehingga harus membangun supremasi maritim.

Sementara itu, Kolonel Laut (P) Salim berpendapat Indonesia harus membangun maritim menjadi kuat. Menurutnya, bila saat ini mengedepankan pembangunan kontinental, bangsa akan menuju kehancuran.

Selain itu, ungkap Salim, sejumlah upaya untuk menghancurkan suatu bangsa, antara lain juga bisa lewat pengaburan sejarah dan menghancurkan bukti sejarah.

Ia menegaskan, cara yang sama juga dialami Ratu Kalinyamat, yang berperan aktif melawan penjajah lewat penguatan maritim, tetapi dicitrakan sebaliknya untuk menghilangkan jejak sejarah kepahlawanannya dalam mempertahankan wilayah nusantara.

Saat ini, jelas Salim, menguasai Asia sama dengan mengendalikan dunia. Salim berpendapat, Indonesia harus memiliki strategi pertahanan mariitim nasional yang kuat.

Karena, jelasnya, Indonesia berada di antara perairan utama Asia yang saat ini menjadi perhatian kekuatan maritim dunia, seperti Amerika Serikat, Inggris, Tiongkok, dan Perancis.

Connie Rahakundinie Bakrie berpendapat, membangun kekuatan maritim nasional memerlukan dukungan sektor ekonomi, militer, dan diplomasi yang kuat.

Dalam membangun Indonesia, menurut Connie, harus mampu memperkuat langkah untuk mengontrol laut dalam rangka mengamankan perairan di nusantara.

Salah satu langkah untuk mendukung upaya itu, tegasnya, penguatan industri pertahanan nasional untuk menopang ketersediaan peralatan pertahanan yang diperlukan.

Connie berpendapat, tugas mewujudkan kedaulatan di sektor maritim masih kalah berat dengan bertebarannya hoaks dan mengembalikan marwah perjuangan Ratu Kalinyamat.

Adapun Ratno Lukito yang juga Ketua Tim Pakar Ratu Kalinyamat Yayasan Dana Bhakti Lestari mengungkapkan tantangan dalam riset yang dilakukannya cukup kompleks karena harus melawan mitos terkait Ratu Kalinyamat yang sudah menjadi pengetahuan masyarakat sejak ratusan tahun.

Menurut Ratno, temuan delapan bukti primer terkait perjuangan Ratu Kalinyamat dari hasil riset yang dilakukan tim menunjukkan mitos yang selama ini berkembang adalah salah.

Fakta baru tentang kepahlawanan Ratu Kalinyamat, menurut Ratno, harus segera disebarluaskan agar mitos negatif yang selama ini menyertai Ratu Kalinyamat segera diakhiri.

Peneliti dari Catolica Universidade Portuguesa, Vitor Teixeira mengungkapkan kehadiran Ratu Kalinyamat di abad ke-16 bukan sekadar Ratu yang perkasa dari Jepara, tetapi juga penerus kekuasaan di pesisir Utara Jawa yang merupakan kawasan penting dalam jaringan perdagangan di kawasan Asia.

Selain itu, menurut Vitor, sepak terjang Ratu Jepara di masa itu juga memperlihatkan kuatnya aspek diplomasi yang dilakukan sehingga berdampak pada sisi religi dan budaya.

Pemikiran lain yang juga menjadi perjuangan Ratu Kalinyamat, tegas Vitor, adalah soal gender, hak perempuan, kesempatan kepada perempuan untuk memimpin berhadapan dengan kultur lokal. Ratu Kalinyamat, ujarnya, adalah perintis anti kolonialisme kendati beberapa kali dikalahkan Portugis.

Menanggapi hoaks terkait Ratu Kalinyamat, Sujiwo Tejo berpendapat, temuan ilmiah terkait kepahlawanan Ratu Kalinyamat harus segera disosialisasikan dengan berbagai cara, serta menjadi bahan ajar di sekolah.

Atang Irawan berpendapat, potensi hambatan dalam tahapan proses pengajuan Ratu Kalinyamat menjadi Pahlawan Nasional bisa ditekan apabila prosesnya lebih transparan sesuai peraturan yang berlaku.

(ega/ega)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT