Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat Bicara Keteladanan Ratu Kalinyamat

Khoirul Anam - detikNews
Minggu, 12 Sep 2021 12:24 WIB
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat mengharapkan nilai-nilai kepahlawanan Ratu Kalinyamat mampu membangkitkan jiwa nasionalisme. Hal ini berguna untuk menjawab tantangan bangsa yang tengah dihadapi saat ini dan di masa mendatang.

"Ide menjadikan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional bermula dari sebuah paradigma berpikir historis untuk menghargai, menghormati jasa, dan perjuangan Ratu Jepara yang pemikirannya jauh mendahului zamannya," kata politisi yang akrab disapa Rerie ini dalam keterangannya, Minggu (12/9/2021).

Hal ini disampaikan Rerie saat menjadi pembicara dalam Temu Pakar yang bertema 'Ratu Kalinyamat: Perempuan Perintis Antikolonialisme 1549 -1579 di Semarang' di Jawa Tengah, Sabtu (11/9). Dalam acara itu, Rektor Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara Dr. Sa'dullah Assa'idi dan Ketua Tim Pakar Ratu Kalinyamat Prof. Ratno Lukito memberikan kata pengantar.

Menurut anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, pemikiran Ratu Kalinyamat mengenai ide poros maritim yang dipraktikkannya saat memimpin Jepara masih relevan untuk diterapkan. Apalagi Indonesia merupakan negara kepulauan.

Di samping itu, lanjutnya, kehadiran Ratu Kalinyamat saat memimpin perjuangan melawan penjajah Portugis juga menunjukkan peran perempuan yang setara dengan laki-laki.

Rerie mengapresiasi atas upaya para pakar dalam menelusuri sejarah Ratu Kalinyamat selama 2,5 tahun hingga menemukan sumber-sumber primer. Menurutnya, kajian sejarah itu bukan akhir dari proses, melainkan babak baru dalam memperjuangkan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional.

Dengan ditetapkannya Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional, ia berharap, nilai-nilai nasionalisme yang ditunjukkan oleh Ratu Jepara bisa menginspirasi dalam menjawab tantangan bangsa di masa mendatang.

Meski demikian, ia menyatakan, diperlukan dukungan baik dalam sosialisasi maupun pemenuhan aspek formal sesuai amanat UU Nomor 20 Tahun 2009 untuk mewujudkan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional.

Sementara itu, Prof. Ratno Lukito mengatakan, penemuan sumber primer mengenai perlawanan Ratu Kalinyamat terhadap Portugis membuktikan keberadaannya bukan sebagai mitos. Bahkan peran Ratu Kalinyamat cukup penting sehingga Portugis pun mengakuinya.

Ratno menjelaskan bahwa di bawah pemerintahan Ratu Kalinyamat, strategi pengembangan Jepara diarahkan pada sektor perdagangan dan angkatan laut. Adapun kedua bidang itu berkembang karena adanya kerja sama dengan kerajaan maritim seperti Johor, Aceh, Maluku, Banten, dan Cirebon.

"Ratu Kalinyamat dipandang sebagai simbol keteladanan dan sumber inspirasi atas tindakan yang tidak hanya sebatas pada ide, tetapi juga aksi nyata dalam melakukan perlawanan terhadap Portugis di Malaka," jelas Ratno.

Selanjutnya, Ratno menyampaikan rasa terima kasih kepada Yayasan Dharma Bakti Lestari (YDBL) karena mendukung kajian mengenai Ratu Kalinyamat. Diketahui YDBL merupakan penggagas sekaligus pendukung kajian dari kolaborasi tim pakar Pusat Kajian Ratu Kalinyamat-Unisnu.

Di sisi lain, Dr. Sa'dullah Assa'idi, mengatakan kemajuan bangsa lebih banyak ditentukan oleh sumber daya manusia.

Ia menyebut, berdasarkan 8 sumber primer penulis Portugis, sebanyak 4 kali Ratu Kalinyamat memelopori dan menggerakkan aliansi Kesultanan Muslim, yaitu Johor, Aceh, Maluku dan Jepara untuk mengusir Portugis dari Malaka dan Maluku, serta menciptakan kesejahteraan bersama di antara anggota aliansi.

"Berdasarkan sumber primer yang dipadu historiografi lokal itu, kami mendukung agar Ratu Kalinyamat layak mendapatkan gelar pahlawan nasional sebagai perempuan perintis antikolonialisme 1549-1579," ujar Sa'dullah.

Dosen sejarah Universitas Diponegoro, Dr. Alamsyah mengatakan sumber primer dan sekunder dari catatan perjalanan dan surat-surat orang Portugis pada abad ke-16 menyebut Ratu Kalinyamat sebagai Rainha da Japara (Ratu dari Jepara). Sementara itu, sumber sekunder dalam historiografi tradisional seperti Babad Tanah Jawi, Babad Serat kandhaning Ringgit Purwa, Sejarah Banten, Hikayat Hasanudin menyebut secara eksplisit nama Ratu Kalinyamat.

Menurutnya, Ratu Kalinyamat telah berperan dan berkontribusi nyata melawan kolonialisme yang menjadi embrio terbentuknya Indonesia.

Presiden Direktur Institute for Maritime Studies, Dr. Connie Rahakundini Bakrie mengungkapkan, Indonesia pernah memiliki tokoh perempuan yang memiliki pemikiran melampaui zamannya. Di samping itu, memiliki keberanian dan wawasan mengenai militer dan maritim.

Di bawah kepemimpinannya pada 1549-1579, ujar Connie, Ratu Kalinyamat berhasil membawa Jepara ke puncak kejayaannya. Kemampuan industri dan kekuatan militer yang dibangun, ungkapnya, mampu memimpin era industrialisasi maritim Asia Tenggara.

Selain itu, tambah Connie, Ratu Kalinyamat tampil sebagai pemimpin aliansi kekuatan di Kawasan Johor, Aceh, dan Maluku.

Dia mengungkapkan, visi Ratu Kalinyamat dalam aliansi adalah mencapai kesejahteraan bersama dan menghilangkan ancaman musuh. Ratu Kalinyamat, jelas Connie, merupakan perempuan pelopor yang merintis Indonesia sebagai negara poros maritim dunia dari abad ke-16 sekaligus perintis antikolonialisme.

"Sepak terjangnya yang dikenal gagah berani, hebat, dan digdaya sehingga Portugis pun memberikan gelar yang sangat menggetarkan kepadanya, yaitu Rainha de Japira, Senhora Poderosa e Rica, yang artinya Ratu Jepara, perempuan kaya dan sangat berkuasa," kata dia.

Dosen sejarah Universitas Diponegoro yang juga anggota Tim Pakar Ratu Kalinyamat, Dr. Chusnul Hayati berpendapat, secara sosial Ratu Kalinyamat berjasa dalam menjaga keamanan bangsa dari ancaman kekuatan asing. Menurutnya, perlawanan terhadap Portugis di Malaka dilakukan sebagai manifestasi perlindungan terhadap pemukiman orang Jawa.

Ia menambahkan, Ratu Kalinyamat juga menjaga keamanan perdagangan dan pelayaran orang Jawa dan pedagang dari wilayah nusantara lainnya.

"Dia menguasai jaringan interaksi sosial yang luas secara internasional pada abad-16," ujarnya

Sementara secara politis, lanjut Chusnul, Ratu Kalinyamat berusaha untuk memperkuat potensi politik dan militer sebagai modal mengusir Portugis. Adapun secara ekonomi, Ratu Kalinyamat mengembangkan wilayah Jepara menjadi industri galangan kapal terbaik dan terbesar di Asia Tenggara, penghasil beras, dan pelabuhan terpenting di Pantura.

"Ratu Kalinyamat berhasil menjadi pemimpin terhebat dari Kerajaan Demak dan Jepara. Ia menjadi puncak kekuasaan di tengah budaya patriarki yang menjadikan laki-laki berkuasa atas perempuan," ujar Chusnul.

Pada kesempatan itu, Wakil Ketua DPRD Jepara, Pratikno mengajak masyarakat Jepara untuk membumikan semangat Ratu Kalinyamat. Ia juga mengajak untuk menghimpun gerakan untuk menjadikan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional Perempuan Perintis Antikolonialisme.

Hal ini, menurutnya, karena di masa pemerintahan Ratu Kalinyamat pada 1549-1579, Jepara menjadi bandar terbesar pesisir utara Jawa dan memiliki peran strategis dalam pengembangan perdagangan antar pulau. Di samping itu, tambahnya, untuk menjaga kedaulatan Jepara, Ratu Kalinyamat membangun armada militer dan hubungan militer, perdagangan, dan budaya.

"Untuk mendukung ekonomi, perdagangan, dan militer, Jepara memiliki industri galangan kapal yang besar," kata dia.

Ia menyebutkan bahwa peran Ratu Kalinyamat dalam syiar Islam dan pengembangan seni ukir juga sangat besar. Pratikno mengungkapkan, pembangunan Masjid Mantingan pada 1559 Masehi menjadi bukti peran Ratu Kalinyamat.

Ketua Pusat Studi Ratu Kalinyamat UNISNU Jepara, Murniati, menilai Ratu Kalinyamat merupakan muslimah keturunan bangsawan dari kerajaan Islam Jawa di Demak. Ia juga merupakan cucu dari pendiri kerajaan Demak Raden Patah.

"Jika kita menelusur gerakan perempuan di Indonesia, Ratu Kalinyamat adalah sosok perempuan Jawa yang mempunyai jiwa nasionalisme sangat kuat," ujar Murniati.

Ia menjelaskan, Ratu Kalinyamat telah mempraktikkan kesadaran gender equal dan equal leadership jauh sebelum istilah tersebut menjadi kata kunci dari pegiat gerakan perempuan.

"Ratu Kalinyamat adalah sosok Ratu Jepara yang yang telah membuktikan mampu menjadi penguasa Jepara dari gender perempuan yang memerintah antara tahun 1549-1579 Masehi ditandai dengan Condro Sengkolo 'Trus Karya Tataning Bumi' yang sekarang dijadikan landasan peringatan hari jadi Jepara," kata dia.

Oleh karena itu, tegas Murniati, Pusat Studi Ratu Kalinyamat UNISNU Jepara mendorong pemerintah Kabupaten Jepara untuk memberikan dukungan baik formal, moral, maupun material atas pengusulan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional.

Sejarawan Universitas Diponegoro, Dr. Agustinus Supriyono berpendapat bahwa Ratu Kalinyamat kurang mendapat perhatian dalam historiografi Indonesia. Hal ini berimbas pada kurangnya penghargaan bagi Ratu Kalinyamat dalam sejarah perjuangan melawan kolonialisme.

Adapun, menurut Agustinus, permasalahan itu terjadi karena pengaruh historiografi Barat, khususnya Belanda yang bersifat Eropa Sentris dan Neerlandosentris.

"Padahal banyak tokoh pemimpin zaman Islam yang melakukan perlawanan terhadap kolonialisme Portugis, yang meskipun pada umumnya gagal, tetapi pada sisi lain berhasil membendung orang-orang Portugis menguasai sebagian besar wilayah nusantara," kata dia.

Ia menilai, penelitian dan pengusulan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional merupakan langkah besar. Terutama dalam mengembalikan jati diri bangsa Indonesia dengan mengambil inspirasi kebudayaan pada zaman Islam.

Kepala bidang Pemberdayaan Sosial, Dinas Sosial Provinsi Jawa Tengah Deni Riyadi mengapresiasi bukti akademis kepahlawanan Ratu Kalinyamat tersebut. Deni berkomitmen, pihaknya menindaklanjuti hasil kajian untuk proses pengajuan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional ke pemerintah pusat.

Sebagai informasi, acara yang dimoderatori Dosen Komunikasi Universitas Indonesia Dr. Irwansyah ini juga dihadiri oleh Dr. Connie Rahakundini Bakrie, Dr. Alamsyah, Drs. Deni Riyadi, Pratikno, Dr. Chusnul Hayati, Murniati, Dr. Agustinus Supriono, dan Pemimpin Redaksi Radar Kudus M. Zainal Abidin.

(ega/ega)