Yahukimo Ricuh, 1.000 Warga Pendatang Termakan Hoax Mengungsi ke Polres

Wilpret Siagian - detikNews
Senin, 04 Okt 2021 14:41 WIB
Yahukimo - Sekitar 1.000 warga pendatang di Kabupaten Yahukimo, Papua, dikabarkan mengungsi usai kericuhan antara kelompok masyarakat Suku Yali dan Suku Kimyal terjadi di wilayah itu. Warga pendatang mengungsi ke Polres setempat karena termakan berita bohong atau hoax.

"Menurut informasi, awalnya ada 1.000-an masyarakat mengungsi ke Polres, pada umumnya masyarakat pendatang," ujar Direktur Kriminal Umum Polda Papua, Kombes Faizal Ramdhani dalam keterangannya kepada wartawan, Senin (4/10/2021).

Faizal mengungkapkan pihaknya hingga saat ini masih mendalami penyebab kericuhan yang diduga terjadi akibat kematian mantan Bupati Yahukimo Abock Busup. Selain itu, berita hoax yang disebar dan menyebabkan masyarakat pendatang mengungsi sedang diusut.

"Kita sedang dalami. Memang kita menduga ini akibat adanya berita hoax yang disebar melalui media sosial," jelas Faizal.

Hingga kini, polisi menerima laporan 6 warga meninggal dunia dan 43 orang lainnya mengalami luka.

Sementara itu, 56 orang yang diduga menjadi penyebab kericuhan diamankan di Polres Yahukimo. Kondisi di Yahukimo saat ini juga sudah mulai kondusif.

"Ada 56 orang diduga pelaku sudah diamankan dan saat ini masih periksa di Polres," ujar Faizal.

Dari 43 orang yang terluka, 10 orang dievakuasi ke Jayapura dan 33 orang dirawat di RSUD Yahukimo.

"Sampai saat ini yang luka berat ada 10 orang akan dievakuasi ke Jayapura, dan 33 orang yang dirawat RSUD Yahukimo," imbuhnya.

Diberitakan sebelumnya, kericuhan antara kelompok masyarakat Suku Yali dan Suku Kimyal di Yahukimo menewaskan 6 orang dan 41 orang terluka. Polda Papua menduga kericuhan itu dipicu dari kematian mantan Bupati Yahukimo Abock Basup.

"Aksi penyerangan tersebut terjadi terkait berita duka yang diterima oleh masyarakat suku kimyal atas meninggalnya mantan Bupati Yahukimo Abock Busup," kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal, dalam keterangannya kepada wartawan, Minggu (3/10). (nvl/nvl)