Wakil Ketua MPR Minta Sosialisasi-Edukasi Kanker Payudara Digencarkan

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Sabtu, 02 Okt 2021 16:06 WIB
Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat mengungkapkan museum memiliki kemampuan untuk membangkitkan kembali idealisme dan nasionalisme bangsa Indonesia.
Foto: Dok. MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat (Rerie) menilai perlu adanya peningkatan sosialisasi dan edukasi seputar kanker payudara. Hal ini mengingat risiko kanker payudara yang semakin meningkat di dunia.

Rerie juga mendorong para penyintas ikut berkontribusi aktif dalam kegiatan sosialisasi.

"Data WHO memperkirakan hingga akhir 2020 terdapat 7,8 juta perempuan hidup didiagnosa menderita kanker payudara dalam 5 tahun terakhir, ini menunjukkan kanker payudara merupakan kanker paling banyak diderita di dunia," kata Rerie dalam keterangannya, Sabtu (2/10/2021).

Saat menghadiri diskusi virtual kanker payudara bertema 'Bersama Melangkah, Meraih Harapan' yang diselenggarakan Cancer Information and Support Center (CISC), ia menjelaskan berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2020 ada 2,3 juta perempuan yang terdiagnosis kanker payudara serta ada 685 ribu kematian secara global.

Menurutnya kondisi tersebut melahirkan komitmen global terkini untuk mengurangi angka kematian akibat kanker payudara global sebesar 2,5% per tahun hingga 2040. Sekaligus meningkatkan survival rate para penderita kanker payudara.

Lebih lanjut Rerie menjelaskan, data WHO menunjukkan survival rate kanker payudara lima tahun setelah diagnosis melebihi 80% di sebagian besar negara berpenghasilan tinggi. Namun, untuk negara-negara dengan penghasilan lebih rendah seperti India dan Afrika Selatan survival ratenya masing-masing hanya 66% dan 40%.

Diungkapkannya ada 3 pilar penting untuk meningkatkan survival rate yakni kampanye kesehatan untuk pemeriksaan kesehatan secara berkala (health promotion), diagnosa tepat waktu untuk pencegahan dini dan pengobatan menyeluruh (timely diagnosis and comprehensive treatment), serta perawatan dan dukungan berkelanjutan (supportive care).

"Selama masa pandemi kita belajar dan berbenah tanpa menghentikan gerakan saling menjaga, mendukung dan menguatkan satu sama lain terutama mengupayakan dukungan pemerintah terhadap ragam kebutuhan penderita dan penyintas kanker," terangnya.

Ia menilai upaya kolaborasi semua pihak dalam mengatasi ancaman kanker payudara merupakan salah satu gambaran besar harapan tentang pentingnya merayakan kehidupan bagi para penderita.

Dia mengatakan para penderita maupun penyintas dapat memberikan edukasi kepada masyarakat tentang deteksi dini serta pendekatan medis dalam pengobatan kanker. Hal ini untuk menekan potensi meningkatkan jumlah penderita di masa datang.

"Hidup ini akan lebih berarti jika pada kesempatan kedua dalam hidup para penyintas bisa bermanfaat bagi sesama," pungkasnya.

Untuk diketahui agenda diskusi virtual tersebut dalam rangka peringatan Bulan Peduli Kanker Payudara. Turut hadir dalam diskusi tersebut Aryanthi Baramuli (Ketua Umum CISC), Sri Suharti (Ketua Harian CISC), dr. Farida Briani Sobri, SpB(K)Onk, (Spesialis bedah onkologi), dan dr. Jeffry Beta Tenggara, Sp.PD-KHOM (Spesialis penyakit dalam hemato onkologi medik).

(prf/ega)