Ahmad Yani dan Kisah Tangis Keluarga Saat Tragedi G30S/PKI

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 01 Okt 2021 13:05 WIB
Bekas Rumah Jenderal Ahmad Yani
Bekas rumah Jenderal Ahmad Yani (Foto: Seysha Desnikia/detikcom)
Jakarta -

Ahmad Yani, pahlawan revolusi ini jadi sorotan di momen peringatan tragedi G30S/PKI. Ada sudut pandang lain dari kisah tragis kematiannya yang dikisahkan oleh pihak keluarganya, termasuk anak-anaknya.

Kematiannya bermula dari penculikan gerombolan PKI pada 1 Oktober 1965. Kala itu ia terbunuh dan jasadnya ditemukan di Lubang Buaya.

Ia dianugerahi pangkat anumerta dan masuk dalam daftar pahlawan revolusi sesuai surat keputusan Presiden RI No III/Koti/Tahun 1965 tanggal 5 Oktober 1965. Setelah berlaku Undang-undang nomor 20 tahun 2009, Ahmad Yani juga masuk dalam daftar pahlawan nasional.

Sosok Ahmad Yani di Mata Anak

Sosok Ahmad Yani di rumah diceritakan oleh putri ketiga dari delapan bersaudara, Amelia Ahmad Yani. Ahmad Yani yang merupakan Panglima Angkatan Darat dikenal kerap bepergian ke luar kota.

Amel menyebut kesibukan ayahnya di AD membuat waktu bertemu dengan keluarga hanya dua kali seminggu. Meski tak lama, Ahmad Yani tetap memaksimalkan momen kebersamaan dengan istrinya, Yayu Rulia Sutowirjo dan 8 anaknya. Salah satunya dengan makan siang dalam satu meja.

"Jadi waktu itu memang ada terasa karena penjagaan, pengawalan Bapak saya ditambah dengan Batalyon Polisi Militer Para, lebih seram gayanya. Kalau makan siang kita sama Bapak Ibu semua jadi satu di ruang makan," kata Amel, dilansir kanal YouTube Ahmad Nowmenta Putra.

Ahmad Yani juga dikenal sebagai sosok ayah yang hangat. Meski tak banyak bicara, ia gemar bercanda dengan anak-anaknya dengan bahasa Jawa.

Ahmad Yani Diculik oleh PKI

Amel juga menceritakan malam di mana Ahmad Yani diculik oleh PKI. Tanggal 30 September malam. Amel mengingat ada telepon dua kali dan mendengar suara orang bermain seruling. Namun tak ada yang menaruh curiga.

"Batalyon polisi disuruh pulang sama Bapak, ajudan disuruh pulang. Jadi kita hanya dengan pasukan Garnisun Jakarta itu 12 orang. Ibu saya lagi enggak ada, ibu saya di Taman Suropati lagi di rumah dinas," kata Amel.

Pada 1 Oktober sekitar jam 4 atau setengah 5 pagi menjelang subuh, ada sekitar 200-an orang mengepung rumah Ahmad Yani di Jalan Lembang. Padahal saat itu Ahmad Yani sedang tertidur.

Saat bangun, Ahmad Yani sempat terlibat dialog kasar dengan orang-yang mengepungnya. Ia diminta menghadap presiden namun Ahmad Yani kesal lantaran mereka meminta untuk tak ganti baju.

Ahmad Yani yang kesal menutup pintu rumah. Para pengepung itu panik dan menembak lewat jendela hingga Ahmad Yani jatuh tertembak.

"Itulah suara halilintar yang pernah saya dengar, sebuah tembakan beruntun yang kemudian saya lihat kakinya (Bapak) sedang diseret oleh mereka, di ruang makan itu. Jadi lihat Bapak itu lewat rumah depan itu, tapi matanya sudah terpejam, saya enggak tahu apakah sudah meninggal atau belum," kata Amel.

"Kami semua mengejar bapak, di belakang orang yang ditonjok tadi, kan digendong sama teman-temannya, karena enggak bisa bangun. Sampai di pintu belakang itu lah, kalau anak-anak tidak masuk semuanya (ke rumah) akan ditembak. Sudah ngokang senjata, Bapak saya diseret kakinya dan dilempar ke truk." imbuhnya.

"Akhirnya kami cari Om Bardi, ajudan yang tinggal di komplek belakang. 'Bapak di bawa kemana?' 'Di bawa ke Pasar Rumput'. Kita enggak pernah tahu kalau dibawanya sampai ke Lubang Buaya. Itu pagi yang mengerikan," ungkap Amel.

Istri Ahmad Yani yang baru datang dari rumah dinas menjerit-jerit melihat darah yang ada di rumah tersebut. Anak-anak Ahmad Yani diminta mencari sang ayah, namun mereka pun tak mengetahui di mana keberadaannya.

Selengkapnya tentang kisah Putri Ahmad Yani dapat disimak di artikel HaiBunda berjudul 'Tangis Putri Jenderal Ahmad Yani Saat Tahu Sang Ayah Telah Tewas'

Lihat juga Video: Saksi Mata Pembantaian Korban PKI di Geyer Grobogan

[Gambas:Video 20detik]



(izt/imk)