MPR Akan Gelar Kongres Kebangsaan untuk Peringati Sumpah Pemuda

Eqqi Syahputra - detikNews
Kamis, 30 Sep 2021 17:34 WIB
MPR RI
Foto: dok. MPR RI
Jakarta -

MPR RI dan Aliansi Kebangsaan akan menyelenggarakan Kongres Kebangsaan yang didukung Forum Rektor Indonesia, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, serta berbagai stakeholder lainnya.

Kongres ini akan diselenggarakan pada 28 Oktober 2021, di Gedung Nusantara IV, Komplek MPR RI, bertepatan dengan perayaan momentum Sumpah Pemuda. Acara ini mengundang berbagai rektor perguruan tinggi, cendekiawan, serta peneliti dari berbagai lembaga seperti LIPI, CSIS, dan berbagai lembaga think tank lainnya.

Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo menuturkan Kongres Kebangsaan dapat menjadi pemicu baru dalam memecah kebuntuan atas berbagai masalah kebangsaan. Selain ada diskusi, akan ada juga peluncuran buku Pancasila Memperadabkan Bangsa.

"Berisi hasil kajian dan diskusi yang dilakukan Aliansi Kebangsaan bersama berbagai stakeholders, selama lebih kurang tiga tahun. Salah satu titik tekannya, sebelum mempancasilakan masyarakat, penyelenggara negara harus terlebih dahulu mempancasilakan dirinya sendiri," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Kamis (30/9/2021).

Saat menerima Aliansi Kebangsaan di Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta, Kamis (30/9/21), Ketua DPR RI ke-20 ini menambahkan, melalui Kongres Kebangsaan, MPR RI juga ingin menggerakkan para peneliti dan cendikiawan, sehingga tidak absen dalam pergulatan kehidupan kebangsaan. Khususnya agar tidak ada jurang yang kian lebar antara idealita Pancasila dengan realitas aktualisasinya.

Menurutnya, peran cendekiawan sangat diperlukan agar ketika ada penyelenggara negara yang keluar dari nilai-nilai Pancasila, mereka bisa mengingatkannya.

"Mengingat saat ini sebagai sebuah bangsa, kita belum sepenuhnya mengimplementasikan nilai Pancasila dalam kerangka konseptual, kerangka normatif, dan kerangka operatif. Padahal sejarah membuktikan, sebagai ideologi, Pancasila terbukti memiliki ketangguhan dan teruji dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa," tegas Bamsoet.

Lebih lanjut, Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menerangkan, Pancasila sulit tumbuh dalam lahan keadaban yang tandus karena kebanyakan warga lebih terobsesi cinta kekuasaan ketimbang kekuatan mencintai. Ia menambahkan, sebagaimana disampaikan Aliansi Kebangsaan, kemiskinan terparah suatu bangsa bukanlah kemiskinan sumber daya, melainkan kemiskinan jiwa.

"Yakni manakala warga negara cuma bisa bertanya apa yang bisa didapat dari negara, dan ketika penyelenggara negara cuma memburu kehormatan (noblesse), tetapi tidak mau memikul tanggung jawab (oblige) dari kehormatan itu," pungkas Bamsoet.

Turut hadir dalam acara tersebut yakni Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo, Pakar Aliansi Kebangsaan Yudi Latif, Ketua Tim Perumus Aliansi Kebangsaan Prasetijono Widjojo, dan pegiat Aliansi Kebangsaan Ansel da Lopez.

Lihat juga video 'Mahfud: Ada Gangguan Terhadap Kebangsaan Kita dengan Alasan Demokrasi':

[Gambas:Video 20detik]



(prf/ega)