Gerindra Bela Anies: Angan-angan PDIP Formula E Batal Tak Akan Kesampaian!

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 30 Sep 2021 17:20 WIB
Sekretaris Komisi D DPRD DKI, politikus Partai Gerindra Jakarta Syarif.
Politikus Partai Gerindra Jakarta Syarif (Dok. Istimewa)
Jakarta -

Anggota DPRD DKI F-Gerindra Syarif membela Gubernur Anies Baswedan yang dikritik PDIP soal Formula E. Syarif menyebut PDIP sedang bermimpi Formula E batal.

Syarif awalnya menerangkan soal fakta-fakta Formula E yang dijabarkan Pemprov DKI. Dia mengatakan paparan itu merupakan hasil tindak lanjut dari temuan BPK.

"Temuan BPK tidak ada satu kalimat pun yang ingin menghentikan, pihak yang tak setuju Formula E mendasari pada BPK, padahal BPK nggak ingin itu, BPK ingin review, review itu baru selesai 1 minggu lalu," ujar Syarif kepada wartawan, Kamis (30/9/2021).

"Saya nggak tahu detailnya seperti apa, tapi summary-nya, artinya sejak bulan Juli-Agustus sampai pertengahan September itu dilakukan kajian, inspektorat menindaklanjuti. Jadi gambaran Formula E yang disampaikan Pemprov itu bagian dari perintah BPK. Itu kita sih agak lucu aja, itu perintah BPK hasilnya seperti itu, kalau dibantah angan-angan, ngapain ditanggapi. Mereka harus baca audit BPK berikutnya dong," lanjut dia.

Syarif pun menyindir PDIP tak paham soal sistem ketika dokumen Formula E dijabarkan oleh Diskominfotik. Dia mengatakan penjelasan terkait Formula E tak mungkin disampaikan di paripurna karena ilegal.

"Paripurnanya ilegal, cacat. Dia bikin rapat sendiri, bamus, bikin undangan sendiri, absen sendiri, tanda tangan sendiri. Kan harusnya disampaikan depan Gubernur atau anggota lain yang menyetujui dengan adanya rapat, yaitu kuorum. Kalau nggak kuorum itu kan jadinya acara sendiri, yang dengerin diri sendiri," kata dia.

Anies, kata Syarif, sudah berkomitmen tidak mencampuri interpelasi sehingga dokumen yang dipaparkan DKI tidak berkaitan dengan interpelasi.

"Penjelasan 'katanya vs faktanya' itu tidak ada kaitan. Ya kemarin itu tidak ada paripurna, itu mah kongko-kongko aja. Menurut saya kemarin nggak ada rapat. Undangan saja nggak ada paraf wakil ketua, maka itu BK-kan," kata dia.

Syarif lantas menjelaskan soal commitment fee Rp 560 miliar untuk seluruh penyelenggaraan. Syarif mengatakan angka itu juga hasil negosiasi dengan Formula E. Syarif juga mengatakan ada MoU baru antara JakPro dan Formula E.

"Mereka kan kecele kan, kan dalam rekomendasi BPK harus dilakukan negosiasi, review terbaru, itu hasil negosiasinya, tidak ada commitment fee lagi, penyelenggaraannya Rp 150 miliar dibebankan pada mitra, swasta. Kalau dibilang angan-angan, ya, justru itu yang bilang angan-angan bagaimana batalnya Formula E, nggak akan sampai angan-angan itu, terus Formula E itu," jelas dia.

Sebelumnya, anggota DPRD DKI Jakarta, Gilbert Simanjuntak, menilai Formula E dibiayai lewat sponsor hanya angan-angan. Dia mengingatkan Pemprov DKI soal undang-undang.

"Biaya 'akan' dibayarkan oleh sponsor bukanlah fakta, tapi angan-angan. Perhitungan akan dilangsungkan hanya 2022-2024 bila atas negosiasi atau MoU baru menyalahi PP 12 2019, dan harus atas persetujuan DPRD. Semua persetujuan internasional harus melalui DPRD sebagaimana ditulis dalam UU 23/2014. Sepertinya ini semua harus dituntut secara hukum agar tahu dan sadar akan hierarki perundang-undangan dimana kepala daerah wajib tahu hierarki perundang-undangan sesuai UU 30/2014. Ini sungguh kesengajaan yang ditunjukkan," kata Gilbert.

Sementara itu, Ketua Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono menilai seharusnya Formula E dijelaskan oleh Dispora DKI atau JakPro. Gembong juga menilai 12 poin dalam penjelasan Diskominfotik itu tidak cukup.

Dia kemudian menyinggung soal sikap Anies yang belum buka suara soal kontroversi Formula E. Dia pun membandingkan Anies yang memberi penjelasan gamblang di KPK soal kasus Munjul.

"Ketika bicara kasus Munjul begitu PD-nya menjelaskan gamblang dan detail pada KPK, tapi giliran Formula E kok seolah dihindari (interpelasi), seolah-olah menghindar. Sampai hari ini, Pak Anies nggak pernah bicara soal Formula E, kita nggak tahu ada apa. Kalau kita bandingkan pemanggilan KPK dengan soal Formula E kayak bumi dan langit," ujarnya.

Lihat juga video 'DPRD DKI Terbelah Gegara Formula E, Wagub DKI Berharap Bisa Rukun':

[Gambas:Video 20detik]



(idn/tor)