AH Nasution, Profil Lengkap Sang Jenderal dan Daftar Penghargaan

Arinta Putri Anggraini - detikNews
Kamis, 30 Sep 2021 17:01 WIB
AH Nasution, Profil Lengkap Sang Jenderal dan Daftar Penghargaan
AH Nasution, Profil Lengkap Sang Jenderal dan Daftar Penghargaan (Dok. Buku Jenderal Tanpa Pasukan Politisi Tanpa Partai (Grafitipers))

Masih dalam menghadapi serangan PKI, Nasution menolak gagasan yang disampaikan oleh PKI di berbagai bidang, antara lain:
1. Di bidang pers, membentuk Pemberitaan Angkatan Bersenjata (PAB) dan Harian Angkatan Bersenjata (HAB), Berita Yudha beserta edisi daerahnya.
2. Di lingkungan Staf Angkatan Bersenjata (SAB), membentuk Biro Sejarah yang kemudian berkembang menjadi Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI atau kini bernama Pusat Sejarah TNI.
3. Di bidang budaya, membentuk Konferensi Karyawan Pengarang Seluruh Indonesia (KKPI).
4. Di bidang pertahanan-keamanan, menolak Nasakomisasi ABRI yang hendak diterapkan PKI.
5. Di bidang territorial, membentuk organisasi Pertahanan Sipil (Hansip), Pertahanan Rakyat (Hanra), dan Resimen Mahasiswa di setiap universitas.
6. Di bidang militer, menolak pembentukan Angkatan V dengan mempersenjatai buruh dan tani.
7. Pada 20 Mei 1965, Nasution meresmikan berdirinya pendidikan tertinggi di lingkungan Angkatan Bersenjata atau dikenal sebagai Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) di Jakarta. Siswanya terdiri atas para perwira menengah ABRI.


AH Nasution: Setelah Masa Dinas Aktif

Pada 1966, Nasution dilantik menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Pada saat menjabat, untuk pertama kalinya lembaga tertinggi negara itu menolak pidato pertanggungjawaban Presiden Sukarno yang dikenal dengan nama Nawaksara. Dalam sidang MPRS di bawah pimpinan Nasution, Jenderal Soeharto dilantik menjadi Pejabat Presiden, yang kemudian menjadi Presiden pada 1968.

Sejak 1968, Nasution tidak lagi bertugas dalam jabatan pemerintahan Republik Indonesia. Ia pensiun dari dinas aktif TNI AD pada 1972 saat berusia 53 tahun. Nasution kemudian aktif menulis buku. Buku-bukunya yang terkenal ialah 'Pokok-pokok Gerilya', 'Tentara Nasional Indonesia', 'Sekitar Perang Kemerdekaan', dan 'Memenuhi Panggilan Tugas'.

AH Nasution: Penghargaan dan Tanda Jasa

Karenra kontribusinya yang luar biasa bagi bangsa Indonesia, AH Nasution mendapat penghargaan dari sejumlah sivitas akademika. Gelar doktor honoris causa diterimanya dari Universitas Padjadjaran, Universitas Islam Sumatera Utara, dan dari Filipina ia mendapat gelar doktor honoris causa dalam bidang politik ketatanegaraan.

Selain itu, AH Nasution menerima penghargaan berupa bintang tanda penghormatan, baik dari dalam maupun luar negeri, seperti dari kerajaan Muangthai, Yugoslavia, Republik Persatuan Arab, Filipina, Republik Federasi Jerman, Ethiopia, dan Belanda.

Bintang-bintang dan tanda kehormatan dari negara Indonesia antara lain Bintang Republik Indonesia Klas III dan II, Bintang Maha Putera Klas II, Bintang Sakti, Bintang Darma, Bintang Gerilya, Bintang Sewindu, Satyalencana Kesetiaan, Satyalencana Jasa-Darma Angkatan Laut, Satyalencana Aksi Militer I, Satyalencana Aksi Militer II, Satyalencana Gerakan Operasi Militer I, Satyalencana Gerakan Operasi Militer II, Satyalencana Gerakan Operasi Militer III, Satyalencana Gerakan Operasi Militer IV, Satyalencana Kemerdekaan, Satyalencana Satya Darma, Satyalencana Dharma Pembebasan Irian Barat, Satyalencana Dharma Dwikora, serta Satyalencana Penegak (Operasi Penumpasan G30S/PKI)

Sedangkan bintang-bintang tanda kehormatan dari negara-negara asing antara lain Bintang Gajah Putih dari Kerajaan Muangthai, Bintang Bendera Yugoslavia Klas I, Bintang Republik tertinggi dari Republik Persatuan Arab (RPA) (Grand Gordon of the Order of the U.A.R), Bintang Militer Klas I Yugolasvia, Bintang Kehormatan dari Presiden Filipina (1963), Bintang Jasa dari Republik Federasi Jerman (1963), Bintang Datu Sikatema dari Filipina (1967), Bintang Tertinggi Trimurti dari Ethiopia (1968), dan Grootkruis Oranye Nassau dari Negeri Belanda.

Tidak hanya itu, dari kesatuan Lembaga Pendidikan, ia mendapatkan lencana-lencana kehormatan, baik dari dalam maupun luar negeri, seperti Korps Kapal Selam Angkatan Laut Republik Indonesia, Korps Kapal Selam Amerika Serikat, Korps Kapal Selam Uni Soviet, Sekolah Artileri dan Missile di Amerika, Frunze Akademi Uni Soviet, Divisi I Jerman, Korps Berlapis Baja Jerman, Akademi Angkatan Udara Republik Persatuan Arab (Mesir-Suriah), Korps Kavaleri TNI-Angkatan Darat, dan lain-lain.


AH Nasution: Menerima Pangkat Kehormatan Jenderal Besar TNI

Pemerintah Republik Indonesia menganggap Nasution layak dianugerahi pangkat kehormatan. Penganugerahan pangkat dirinya menjadi Jenderal Besar TNI kehormatan kepada Abdul Haris Nasution dituangkan dalam Keppres No 46/ABRI/1997, tanggal 30 September 1997.

Setelah tiga tahun dianugerahi sebagai Jenderal Besar TNI, Nasution meninggal dunia di Jakarta pada 6 September 2000 karena sakit. Melalui pernikahannya dengan Ibu Yohana Soenarti, putri dari R.P. Gondokoesoemo, Nasution ini dianugerahi dua orang putri, yaitu Hendrianti Zaharah dan Ade Irma Suryani.

Ade Irma Suryani meninggal pada usia 5 tahun dalam peristiwa G30S/PKI 1965. Selain memberikan pangkat kehormatan Jenderal Besar TNI, Pemerintah RI menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional untuk Jenderal Abdul Haris Nasution melalui Surat Keputusan Presiden No 073/TK/Tahun 2002, tanggal 6 November 2002.

Demikian informasi seputar Jenderal AH Nasution, dari profil lengkapnya hingga penghargaan yang diterimanya. Semoga bermanfaat.


(imk/imk)