BKKBN Gencarkan Sosialisasi Layanan Kontrasepsi di Masa Pandemi

Khoirul Anam - detikNews
Rabu, 29 Sep 2021 22:23 WIB
young woman holding a birth control pills and a condom
Foto: Getty Images/iStockphoto/itakdalee
Jakarta -

Untuk memberikan sosialisasi dan layanan kontrasepsi, BKKBN menggiatkan program keluarga berencana di berbagai daerah, terutama selama masa pandemi COVID-19. Hal ini karena banyak perempuan usia produktif yang tidak berani datang ke fasilitas keluarga berencana selama pandemi.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan, kehamilan tidak direncanakan dapat bersumber pada dua hal. Yakni pasangan usia subur yang tidak segera melakukan kontrasepsi pasca persalinan atau abortus, serta kehamilan tanpa pernikahan.

"Keduanya bisa terjadi karena mereka tidak memahami kesehatan reproduksi, sehingga perlu diberikan edukasi atau pemahaman terkait masalah ini," ujar Hasto dalam keterangan tertulis, Rabu (29/9/2021).

Adapun BKKBN melakukan tindakan proaktif door to door (pintu ke pintu) untuk penyuluhan kontrasepsi dan mempermudah cara mendapatkan layanan tersebut.

"BKKBN mengubah strategi. Penyuluh kini boleh membawa alat kontrasepsi yang disampaikan ke fasyankes. Kami juga membuka layanan KB di banyak titik, juga meluncurkan Gerakan Sejuta Akseptor dan melakukan pemasangan alat kontrasepsi gratis, mudah diakses dan tersedia," tuturnya.

Selain itu, ia mengatakan, BKKBN juga menyalurkan Dana Alokasi Khusus ke kabupaten/kota. Jika sebelum pandemi dana untuk program KB sebesar Rp 62 miliar, maka pada 2020-2021 ditingkatkan menjadi Rp 400 miliar. Ia juga mengatakan, klaim BPJS untuk pemasangan alat kontrasepsi sudah dipermudah.

"Anggaran bisa diklaim ke dinas Keluarga Berencana kota setempat, terkait jasa bidan dan dokter yang melakukan jasa pemasangan kontrasepsi," imbuhnya.

Terkait edukasi reproduksi, dokter kebidanan ini menjelaskan pentingnya mengubah persepsi tentang pendidikan seksual, mengingat pendidikan ini perlu dilakukan sejak dini, bahkan kepada anak-anak. Pendidikan seksual, menurutnya, tidak sekadar tentang hubungan seksual, melainkan juga perlindungan kesehatan sehingga jangan dianggap tabu.

Karena itu, kepada orang tua dan pendidik, ia menyarankan memulai pembicaraan edukasi seksual dari sisi kesehatan, disesuaikan dengan kebutuhan usia, dituangkan dalam materi yang menarik dan penyampaian yang baik. Agar anak nyaman, pemberian materi oleh guru atau coach sebaiknya yang berjenis kelamin sama dengan anak.

Hasto tidak memungkiri, dalam era globalisasi ini, anak dan remaja cenderung lebih mempercayai informasi dari dunia maya dan teman sebaya, sehingga orang tua memiliki tantangan tersendiri untuk menyampaikan nilai-nilai luhur kepada anak. Karena itu, diharapkan orang tua mau belajar agar dapat mendidik anak sesuai zamannya.

Guna membantu para orang tua dan pendidik, serta mengoptimalkan program-program edukasi tersebut, BKKBN memiliki jejaring penyuluh yang terdidik, termasuk di dalamnya Duta Generasi Berencana (GenRe), yaitu para penyuluh muda yang bertugas melakukan sosialisasi KB kepada rekan sebayanya.

Duta GenRe Indonesia Putra 2021 Fiqih Aghniyan Hidayat menyebutkan, berdasarkan data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, terdapat lebih dari 64 ribu pengajuan dispensasi pernikahan anak bawah umur pada 2020.

"Sebabnya, mungkin karena di masa pandemi anak tidak ke sekolah jadi akhirnya memilih menikah, serta adanya faktor ekonomi keluarga. Selain itu, karena terjadi kehamilan tidak diinginkan, di mana pola asuh keluarga kurang berjalan baik di masa pandemi ini," jelas Fiqih.

Ia memaparkan, dalam menekan lonjakan pernikahan dini, beberapa strategi telah dijalankan oleh Duta GenRe bekerja sama dengan berbagai pihak. Di antaranya, memberikan pendampingan sebagai konselor sebaya, memberikan bantuan logistik supaya meringankan beban keluarga terdampak, serta Gerakan Kembali Ke Meja Makan untuk membangun kembali pola asuh yang baik dan komunikasi keluarga.

Ia juga menjelaskan, BKKBN melalui Duta Genre melaksanakan Program #2125, berupa edukasi usia ideal minimum pernikahan adalah 21 tahun untuk wanita dan 25 tahun untuk pria, dalam rangka meminimalisasi terjadinya pernikahan dini.

"Bersama remaja Indonesia, kami menjadi pelopor remaja yang terencana dan bisa mempersiapkan pernikahan dengan 2125," tandas Fiqih.

Sementara itu, Psikolog Inez Kristanti mengatakan, perencanaan dan persiapan mutlak diperlukan dalam pernikahan, termasuk dari sisi psikologis pasangan dan pertimbangan finansial.

"Punya anak dan berkeluarga itu butuh kesiapan psikologis dan sebaiknya direncanakan dengan matang. Pasangan yang siap secara psikologis akan membantu mereka jadi orang tua yang baik, bisa mendidik dengan benar, lebih bahagia. Setelah menikah, pasangan harus bisa menjadi satu tim dan tidak bersaing.

Sebelum membangun keluarga, menurutnya, diperlukan banyak persiapan seperti pemeriksaan kesehatan, konseling pernikahan, persiapan keuangan, juga menyelaraskan rencana dengan pasangan.

Perencana Keuangan Rista Zwestika menggarisbawahi perlunya penyelarasan rencana dan keterbukaan tentang keuangan sebelum pasangan memasuki jenjang pernikahan.

"Sekarang topik perencanaan keuangan dengan pasangan bukan lagi hal tabu," tegasnya.

Rista juga menyarankan terkait pengaturan keuangan keluarga ketika pencari nafkah kehilangan pekerjaan sebagai dampak pandemi.

"Cek dulu berapa persen pendapatan yang hilang, aset apa saja yang ada, dan pisahkan prioritas pengeluaran menjadi wajib, butuh, dan ingin. Kita lihat peluang pekerjaan atau tambahan penghasilan apa yang bisa dilakukan, aset apa yang bisa dicairkan, serta pengeluaran yang dapat dikurangi. Intinya, harus bangkit sebagai satu tim," tutupnya.

(prf/ega)