ADVERTISEMENT

RS di Pekanbaru Jelaskan Kesalahpahaman Tes Swab Anggota Ormas yang Ngamuk

Raja Adil Siregar - detikNews
Rabu, 29 Sep 2021 17:15 WIB
RS Eka Hospital Pekanbaru
RS Eka Hospital Pekanbaru, Riau (Raja Adil/detikcom)
Pekanbaru -

Salah seorang anggota organisasi kemasyarakatan (ormas) di Pekanbaru berinisial BS ngamuk karena merasa dipermainkan dengan hasil swab PCR yang menunjukkan positif COVID-19. Pihak rumah sakit mengungkap ada kesalahpahaman soal data swab anggota ormas tersebut.

Berdasarkan penuturan BS, awalnya pada Kamis (23/9), dia tes swab COVID-19 di RSMedika Dumai pukul 10.00 WIB. Sembari menunggu hasil tes, BS melakukan perjalanan darat ke Medan. Pukul 22.00 WIB, BS mendapat kabar dari RS Medika Dumai bahwa dia positif COVID. BS lalu putar balik ke Pekanbaru, membatalkan perjalanannya ke Medan.

Merasa ragu dengan hasil positif dari RS Medika Dumai, pada Jumat (24/9), BS kembali melakukan swab PCR di Eka Hospital. Hasil swab PCR ini menyatakan BS negatif COVID.

Lalu pada Minggu (26/9), BS kembali tes PCR di Eka Hospital karena akan berangkat lagi ke Medan. Dia tes pukul 17.30 WIB, namun sudah mendapat hasil pukul 20.00 WIB dan dinyatakan positif. Setelah mendapat hasil tes inilah BS mengamuk, karena merasa ada yang janggal.

Publik Relation Coordinator Eka Hospital Grup, Denny Tan, menjelaskan soal hasil tes yang didapat BS. Dia membenarkan bahwa BS sudah 2 kali swab PCR di Eka Hospital Pekanbaru. Hasil yang benar, kata Denny, dari dua kali swab itu BS negatif COVID-19.

"Tanggal 24 dan tanggal 26 PCR. Kedua tes PCR hasilnya negatif," terang Denny kepada detikcom, Rabu (29/9/2021).

Soal hasil positif yang diterima BS pada Minggu (26/9), Denny menjelaskan bahwa ada kesalahpahaman. Hasil positif yang disampaikan pihaknya pada Minggu (26/9) pukul 20.00 WIB merupakan hasil tes sampel BS rujukan dari rumah sakit sebelumnya, yang diambil pada Kamis (23/9). Sampel rujukan inilah yang kemudian menyatakan positif COVID-19.

Sampel rujukan yang positif itu disampaikan ke BS pada Minggu (26/9), tanpa penjelasan dalam surat hasil swab bahwa itu hasil sampel rujukan. Menurut Denny, di sinilah titik kesalahpahaman yang terjadi.

"Kalau dari kami menerima sampel, di luar wewenang kami untuk memberitahu kalau ada rujukan. Kami sifatnya menerima dan lakukan pengecekan lebih lanjut," katanya.

Denny mengaku tak ada kesempatan untuk menjelaskan dan memang tidak dijelaskan dalam surat hasil sehingga hal itulah yang dinilai sebagai kejanggalan dan memicu amarah BS.

"Kemarin yang terjadi ada kesalahpahaman yang dibaca, jadi yang dibaca hasil rujukan. Kita juga paham karena memang kan ada beliau merasa ada kejanggalan. Swab-nya pukul 17.30 WIB dan 2 jam keluar hasil dan ditulis diperiksa pukul 09.00 WIB," katanya.

"Kami lihatnya begitu (miskomunikasi) ada kesalahpahaman. Kami juga merasa aneh ya kok dalam 2 jam sudah keluar hasilnya. Justru yang swab pukul 17.30-an itu keluar hasilnya malam sekitar pukul 23.30 WIB," katanya lagi.

Denny mengaku saat keributan terjadi di lokasi hanya ada petugas lapangan dan pihak keamanan rumah sakit sehingga tidak ada yang bisa menjelaskan terkait hasil swab positif COVID-19 yang dipertanyakan BS.

"Saat video direkam yang menangani itu dari sekuriti. Jadi mereka juga tidak bisa menjelaskan apa-apa karena ini terkait laporan medis, setelah itu baru ada staf kami menjelaskan," katanya.

Lihat juga video '2 Ormas Bentrok di Perbatasan Cianjur-Sukabumi, Satu Orang Tewas':

[Gambas:Video 20detik]

Simak berita lengkapnya di halaman berikutnya.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT