Diabadikan Lewat Patung, Ini Percakapan 3 Jenderal Penumpas PKI

Danu Damarjati - detikNews
Selasa, 28 Sep 2021 16:02 WIB
Diorama di Kostrad. (Dok akun Twitter resmi Kostrad, @Cakra_Kostrad)
Diorama di Kostrad. (Dok akun Twitter resmi Kostrad, @Cakra_Kostrad)

Percakapan

Soeharto terlihat resah mondar-mandir dan memegang kepala. Dia melihat jam tangan di lengan kiri sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB. Tak lama berselang, Sarwo Edhie, yang berseragam loreng dan berbaret merah, masuk ke ruangan Soeharto. Berikut dialog mereka bertiga dalam ruangan Soeharto.

Rombongan mahasiswa mengunjungi ruang diorama patung Soeharto, Sarwo Edhie Wibowo dan AH Nasution di Museum Dharma Bakti, Makostrad, Jakpus. Tampak seorang prajurit TNI memandu rombongan.Rombongan mahasiswa mengunjungi ruang diorama patung Soeharto, Sarwo Edhie Wibowo, dan AH Nasution di Museum Dharma Bakti, Makostrad, Jakpus. Tampak seorang prajurit TNI memandu rombongan. (Foto: dok. Kostrad

- Sarwo Edhie: Bagaimana, Pak Harto? Apa jadi dilaksanakan rencana menguasai Halim, agar jangan kesiangan dan untuk menghindari pertempuran?
- Soeharto: (Mondar-mandir tidak menjawab)
- AH Nasution: Sarwo Edhie, jij mau bikin tweede Mapanget ya (kamu mau bikin peristiwa perebutan Mapanget kedua)?
- Soeharto: Ya. Kerjakan sekarang juga (sambil mengacungkan telunjuk dengan wajah menghadap ke Sarwo Edhie)

Dikutip dari buku 'Suasana 1 Oktober 1965, Setelah Pecah Pemberontakan G30S', yang dimaksud tweede Mapanget adalah kisah sukses Sarwo Edhie dan pasukannya membebaskan lapangan terbang Mapanget di Manado dari Permesta pada 1958.

Cerita selanjutnya, Halim Perdanakusuma dikuasai oleh pasukan Sarwo Edhie dari PKI.

"Tidak ada perlawanan dan Omar Dhani (Laksamana Madya Omar Dhani Panglima AU) sudah lari duluan," ujar Sarwo Edhie, dalam buku terbitan TEMPO Publishing itu.

Sarwo Edhie Wibowo dan istriSarwo Edhie Wibowo dan istri (Foto: Repro: buku Kepak Sayap Putri Prajurit)

Di masa selanjutnya, Sarwo Edhie Wibowo berpangkat terakhir letnan jenderal (letjen), Soeharto menjadi Jenderal Besar, dan AH Nasution dianugerahi Jenderal Besar setelah meninggal dunia. Begitulah percakapan tiga jenderal itu di masa lalu.


(dnu/fjp)