Bamsoet Ajak Gali Peluang Seni Budaya Indonesia Lewat Inovasi & Kreasi

Inkana Izatifiqa R Putri - detikNews
Selasa, 28 Sep 2021 15:49 WIB
MPR
Foto: Dok. MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengajak masyarakat untuk meningkatkan ketahanan budaya Indonesia, termasuk Bali. Pasalnya, Bali tidak hanya sekadar ikon destinasi wisata kelas dunia, melainkan ikon perdamaian dunia.

Menurutnya, hal tersebut tak lepas dari keberadaan Bali sebagai 'The Island of Tolerance', 'The Island of God', 'The Island of Peace and Love', dan 'The Island of Paradise'. Adapun seluruhnya berprinsip mengukuhkan budaya lokal tanpa menutup diri dari kehidupan dunia internasional.

"Masyarakat Bali juga dikenal dengan ajaran Tri Hita Karana. Secara harfiah dimaknai sebagai tiga sumber kebahagiaan, yang merupakan konsep spiritual dan falsafah hidup masyarakat Bali, yang mengedepankan konsep keseimbangan dan keselarasan hidup dalam menjalin hubungan dengan Tuhan, dengan manusia, dan dengan lingkungan alam," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Selasa (28/9/2021).

Hal ini disampaikan saat menjadi Keynote Speech 'Konferensi Internasional Bali Bhuwana Waskita' yang diselenggarakan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Bali secara virtual dari Jakarta hari ini.

Bamsoet mengatakan kekayaan seni dan budaya Indonesia termasuk yang terbesar di dunia. Berdasarkan laporan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2020, Indonesia memiliki 2.907 cagar budaya dengan 439 museum.

Indonesia juga memiliki 5 daftar warisan dunia kategori budaya yang diakui UNESCO. Adapun kelimanya yakni, komplek Candi Borobudur (ditetapkan UNESCO tahun 1991), komplek Candi Prambanan (1991), Situs Manusia Purba Sangiran (1996), Lanskap Budaya Bali: Sistem Subak sebagai perwujudan filosofi Tri Hita Karana (2012), dan Kota Lama Tambang Batubara Sawahlunto (2019).

"Sementara untuk warisan budaya tak benda dan daftar praktek pengamanan yang ditetapkan UNESCO, hingga tahun 2019 jumlahnya mencapai 10 warisan. Antara lain Tiga Genre Tari Tradisional di Bali, Tas Noken, Tari Saman, Angklung, Batik, Keris, Pertunjukan Wayang, Pinisi, Pencak Silat, hingga Pendidikan dan Pelatihan Warisan Budaya Tak Benda Batik untuk Siswa SD, SMP, SMA, SMK, dan Mahasiswa Politeknik, bekerja sama dengan Museum Batik Pekalongan," jelasnya.

Di kesempatan tersebut, Bamsoet juga menjelaskan soal pentingnya menjaga ketahanan budaya dan memajukan kebudayaan. Dalam hal ini, diperlukan dasar pijakan yang kuat karena diatur dalam UUD NRI 1945 Pasal 32 Ayat (1). Pasal tersebut menyatakan negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya. Ketentuan tersebut mencerminkan pengakuan dua sisi peran penting kebudayaan, yaitu membentuk jati diri bangsa, dan menyikapi modernisasi dan laju peradaban zaman.

"Untuk memastikan kehadiran negara dalam menjalankan mandat konstitusi dalam bidang kebudayaan tersebut, telah diterbitkan Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang dimaknai sebagai serangkaian upaya yang bertujuan untuk meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia. Pemajuan kebudayaan dilakukan dengan melakukan perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan objek pemajuan kebudayaan, serta melakukan pembinaan terhadap sumber daya manusia kebudayaan," katanya.

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini menambahkan seni dan budaya memiliki aspek multidimensional. Bamsoet menyebut keduanya akan selalu terhubung pada kondisi lingkungan, referensi sosial, serta berbagai paradigma yang merepresentasikan perkembangan zaman. Adapun keduanya juga dapat dikembangkan melalui kreasi dan inovasi.

"Seni dan budaya akan selalu menawarkan peluang-peluang pada berbagai sektor kehidupan, yang dapat kita gali dan kembangkan dengan daya kreasi dan inovasi. Seni dan budaya akan senantiasa terikat pada kondisi lingkungan sosial di sekitarnya. Seni dan budaya juga akan menangkap fenomena pergeseran paradigma yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara," pungkas Bamsoet.

Sebagai informasi, dalam acara tersebut hadir pula Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan 'Kun' Adnyana, juru bicara Presiden RI Fadjroel Rachman, pendiri Agung Rai Museum of Arts Anak Agung Gde Rai, perwakilan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Sunardi, dan perwakilan Queen Victoria Museum and Art Gallery Australia Carmencita Palermo.

(akn/ega)