Nadiem Luruskan soal 2,8% Sekolah Jadi Klaster Corona: Banyak Error-nya

Tim detikcom - detikNews
Senin, 27 Sep 2021 18:19 WIB
Kegiatan pembelajaran tatap muka di SDN Malaka Jaya 07 Jaktim
Ilustrasi pembelajaran tatap muka (PTM) (Firda Cynthia Anggrainy Al Djokya/detikcom)
Jakarta -

Mendikbudristek Nadiem Makarim meluruskan kabar 2,8% sekolah menjadi klaster penularan Corona saat pembelajaran tatap muka (PTM) dibuka. Dia mengatakan data tersebut dihimpun sejak awal pandemi Corona terjadi.

"Angka 2,8% satuan pendidikan meskipun itu sudah kecil, tapi itu adalah data kumulatif, bukan data per satu bulan, jadi itu semua dari seluruh masa COVID ini, bukan dari bulan terakhir di mana PTM terjadi," kata Nadiem, Senin (27/9/2021).

Nadiem mengatakan hal itu dalam jumpa pers daring yang disiarkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden bersama sejumlah menteri. Nadiem mengatakan data tersebut banyak kesalahan (error).

"Itu pun 2,8% dari sekolah yang dilaporkan, itu pun belum tentu mereka melakukan PTM. Dan satu lagi, angka yang kemarin disebutkan kemarin 15 ribu murid dan 7.000 guru positif COVID-19 itu berdasarkan laporan data mentah yang ternyata banyak sekali error-nya," katanya.

Nadiem meluruskan data tersebut karena banyak pihak yang menyatakan data tersebut tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

"Banyak sekali yang melaporkan jumlah positif COVID melampaui jumlah murid yang ada di sekolah-sekolahnya," ucap dia.

Nadiem mengaku saat ini berpegang pada data yang dimiliki Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Oleh karena itu, dia tidak terlalu khawatir terhadap pelaksanaan PTM.

Dia mengaku lebih khawatir bila banyak sekolah yang belum bisa melaksanakan PTM. Sebab, pendidikan jarak jauh (PJJ) dinilai kurang efektif bagi para siswa.

2 Kolaborasi dengan Kemenkes

Dia mengatakan akan melakukan dua kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Kerja sama pertama ialah agar sekolah-sekolah mendukung pengecekan secara acak.

"Pertama seperti yang disebutkan Pak Budi tadi untuk memastikan sekolah-sekolah memastikan mendukung fasilitas random testing sampling yang dilakukan dan kita secara spesifik akan menutup sekolah yang sudah melewati 5% positivity rate," ucapnya.

Dia mengatakan kebijakan secara klinis dan didasarkan statistik tersebut lebih valid dan jauh dan tidak merugikan pihak sekolah.

Kolaborasi kedua ialah integrasi dan mengimplementasi aplikasi PeduliLindungi di sekolah-sekolah.

(jbr/tor)