Polisi Tes DNA Keluarga Wanita Dibunuh-Ditemukan Tinggal Tulang di Kaltim

Suriyatman - detikNews
Senin, 27 Sep 2021 16:38 WIB
Gadis cantik di Kaltim hilang selama 16 hari. Korban ditemukan dalam kondisi sudah menjadi kerangka dan tengkorak. (dok Istimewa)
Jenazah Juwana saat ditemukan tinggal tulang. (dok Istimewa)
Samarinda -

Polisi memeriksa DNA dari kedua orang tua Juwana (25), wanita yang dibunuh oleh teman sendiri dan jasadnya ditemukan tinggal tulang di jalan poros Samarinda-Tenggarong, Kalimatan Timur (Kaltim). Polisi ingin memastikan bahwa tulang yang ditemukan benar jasad Juwana, meski pelaku berinisial RA telah mengakui bahwa jasad tersebut adalah Juwana.

"Kita harus lakukan tes DNA untuk memastikan jenazah tersebut adalah jenazah Juwana, meski telah ada pengakuan dari pelaku, dan barang bukti yang ditemukan di TKP," kata Kasubnit Inafis Polresta Samarinda Aipda Harry Cahyadi dalam keterangannya kepada wartawan, Senin (27/9/2021).

Ditegaskannya, polisi melakukan tes DNA melalui pemeriksaan darah dan contoh rambut. Kedua orang tua korban dihadirkan di kamar jenazah RSUD AW Sjahranie pada pagi tadi.

"Tes DNA ini juga bagian dari penyidik untuk menjawab keragu-raguan publik, karena saat ditemukan jenazah korban sudah berupa tengkorak dan tidak bisa dikenali fisiknya," tegasnya.

Setelah polisi melakukan tes DNA, jenazah yang diyakini sebagai Juwana dimakamkan di kuburan muslim di Sungai Keledang, Samarinda.

"Jenazah dimakamkan di pemakaman muslimin di Samarinda karena tidak bisa dibawa ke kampung halamannya, karena lokasinya jauh di Muara Ancalon yang saat ini juga sedang banjir," kata Harry.

Hasil tes DNA tersebut baru akan keluar pada 2 pekan ke depan.

Sementara itu, ayah Juwana, Subani, mengaku sedih dan terpukul atas kematian anaknya. Sebab, putrinya itu selama ini telah menjadi tulang punggung keluarga.

"Hukumannya setimpal sesuai dengan perbuatannya (pelaku). Kalau perlu dipenjara seumur hidup," kata Subani sembari berharap pelaku dihukum berat.

Dengan mata berkaca-kaca, Subani mengatakan, sejak lulus sekolah, Juwana memang sudah menjadi tulang punggung keluarga. Putrinya itu berangkat ke Samarinda untuk bekerja.

"Dari lulus sekolah bekerja dan sudah membantu perekonomian keluarga. Anaknya baik dan nurut, saya masih bekerja namun dia mengatakan ingin membantu perekonomian keluarga," kata Subani.

Sebagai anak satu-satunya, dia kerap memberi kabar, menyapa orang tua, dan meminta doa agar pekerjaannya lancar.

"Namun sejak 6 September lalu kami sudah tidak mendengar kabar dari almarhumah. Keluarga dari Tenggarong mengatakan bahwa Juhana hilang, kami langsung ke Samarinda untuk mencari bahkan kami laporkan kehilangan Juhana ke pihak kepolisian," kata Subani.

"Saya sempat ikut mencari selama 3 hari di Samarinda ke rumah teman, ke rumah kerabat, hingga ke rumah nasabah namun gagal. Kami akhirnya memutuskan kembali pulang ke kampung dan akhirnya diberi tahu korban ditemukan meninggal dunia," pungkasnya.

(nvl/nvl)