Suka Duka Kader JKN-KIS, Pernah Disangka Penipu Saat Tagih Iuran

Inkana Putri - detikNews
Sabtu, 25 Sep 2021 21:12 WIB
JKN-KIS
Foto: BPJS Kesehatan
Jakarta -

Menjadi seorang Kader Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) tentu bukan hal mudah. Namun, berbeda dengan Lyli Sumarni (47), seorang warga Kabupaten Sidenreng Rappang yang mengaku sangat menikmati profesinya sebagai Kader JKN-KIS. Sebab, dengan menjadi Kader JKN-KIS, dirinya dapat membantu dan memudahkan peserta JKN-KIS.

"Menjadi kader JKN-KIS, manfaatnya besar sekali bagi saya, karena saya bisa membantu dan memudahkan peserta. Meskipun sebenarnya setiap pekerjaan ada risikonya masing-masing, tergantung kita menyikapinya. Walau kadang ada duka, bagi saya lebih banyak sukanya, karena saya bisa membantu banyak orang," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (25/9/2021).

Wanita yang akrab disapa Lyli ini mengatakan usai menjadi kader, dirinya menjadi lebih paham tentang Program JKN-KIS. Bahkan, ia juga mampu mengedukasi peserta JKN-KIS, terutama soal pembayaran iuran.

Menjadi Kader JKN-KIS sejak akhir tahun 2018 tentu memberi banyak pengalaman bagi Lyli. Di awal menjadi Kader JKN-KIS, Lyli mengaku pernah disebut penipu saat menagih iuran peserta. Meski demikian, hal tersebut menjadi tantangan untuk memberikan pemahaman bagi peserta hingga akhirnya mereka mau melunasi dan rutin membayar iuran.

"Pernah juga pengalaman saya, ketika disangka penipu oleh peserta, mungkin karena saya tidak pandai bercakap menggunakan bahasa daerah, sedangkan keseharian warga di sini, menggunakan bahasa Bugis. Namun dengan pendekatan kekeluargaan yang saya gunakan, peserta yang awalnya mengira saya seorang penipu, akhirnya mau melunasi tunggakan iuran dan rutin tiap bulan membayar iuran," ungkapnya.

Lyli mengungkapkan melakukan pendekatan secara kekeluargaan menjadi hal terpenting saat mengunjungi peserta. Dengan begitu, peserta merasa senang dan dapat membayar iuran secara rutin setiap bulannya.

"Mengujungi peserta yang memiliki tunggakan, tidak dengan cara penagihan yang biasa, tetapi dengan menggunakan konsep kekeluargaan, sehingga peserta yang kami kunjungi juga senang dan pada akhirnya mau membayar dan bahkan mengajak keluarga dan tetangganya untuk rutin bayar iuran. Selain menagih peserta yang iurannya menunggak, saya juga rutin mengingatkan untuk membayar iuran tiap bulan agar terhindar dari denda pelayanan. Ada salah seorang peserta yang mengidap penyakit tumor otak sehingga rutin berobat ke rumah sakit. Peserta tersebut juga rutin membayar iuran tiap bulan karena telah merasakan banyak manfaat dari kepesertaannya," ungkap.

(mul/ega)