Kisah Komandan Pasukan Gugur di Pelukan Prabowo Saat Operasi Seroja

Khoirul Anam - detikNews
Kamis, 23 Sep 2021 12:40 WIB
Prabowo Subianto menghadiri HUT ke-67 Kopassus di Markas Komando Kopassus, Cijantung, Jakarta, Rabu (24/4). Mantan Danjen Kopassus itu hadir dengan memakai baret merah.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Menteri Pertahanan Prabowo Subianto ternyata memiliki pengalaman mengenai sikap prajurit Kopassus yang berani, loyal, dan selalu menerapkan profesionalisme. Sikap ini ditunjukan Kapten TNI Anumerta Sudaryanto, seorang korps baret merah yang gugur di pelukan Prabowo saat Operasi Seroja, Timor Timur pada 1976

Gugurnya Sudaryanto diceritakan dengan rinci dalam buku Kepemimpinan Militer Catatan dari pengalaman Prabowo.

"Kisah yang ingin saya ceritakan adalah tentang komandan saya pada saat melaksanakan operasi pertama sebagai Letnan Dua di Daerah Timor Timur pada tahun 1976," kenang Prabowo dalam bukunya, dikutip Kamis (23/9/2021).

Prabowo memaparkan, saat itu ia berada di Pasukan Nanggala 10 sebagai Perwira Intelijen, yakni di bawah komando Mayor Inf Yunus Yosfiah. Namun, karena banyaknya perwira yang tertembak, Prabowo kemudian diangkat menjadi Wakil Komandan Unit C.

Pada saat itu, kata dia, Komandan Unit C tak lain adalah Anumerta Sudaryanto. Pria berpangkat letnan satu (lettu) itu memimpin 20 pasukan, terdiri dari dua kelompok yaitu kelompok serbu dan kelompok pembantu.

"Sebagai Wadan Unit, saya memimpin kelompok pembantu yang terdiri dari satu pucuk mortar enam dan satu pucuk rocket launcher," kata Prabowo.

Prabowo menceritakan, saat itu pasukan menyeberangi sungai untuk merebut ketinggian di atas Kota Maubara. Namun, kurang dari 10 menit setelah berhasil melewati sungai, terjadi tembak menembak dengan kelompok gerilya.

Insiden tersebut mengakibatkan Sudaryanto yang berada di garda terdepan tertembak. Bahkan, pasukan Unit C sampai dipukul mundur beberapa meter dan bertahan di Parit.

"Pada saat dia terluka, dia memanggil anak buahnya. Saya yang berada di belakang, ikut dipanggil juga," kata dia.

"Saya putuskan, saya sendiri yang merayap ke depan, walaupun berbahaya karena musuh masih banyak di depan. Tembak-menembak masih terjadi. Waktu itu sudah gelap gulita, tetapi karena beliau tidak diambil, berarti kami mengecewakan komandan dan moril pasukan akan turun," kata Prabowo.

Namun, lanjut Prabowo, upaya penyelamatan tidak membuahkan hasil. Sulitnya medan perang dan berat badan Sudaryanto menjadi penyebab evakuasi tidak dapat dilakukan.

"Saya berusaha untuk menarik Letnan Sudaryanto. Ternyata badannya cukup berat. Saya kewalahan. Akhirnya beberapa anak buah bergabung dan Bersama-sama menyeret Letnan Sudaryanto Kembali ke garis belakang," jelasnya.

Situasi pun semakin rumit tatkala kondisi gelap gulita dan tidak ada helikopter yang bisa turun untuk melakukan evakuasi. Akhirnya, ungkap Prabowo, Sudaryanto tak mampu bertahan dan gugur tepat di pelukannya.

"Dalam posisi luka, saya melaporkan ke pimpinan. Namun, karena gelap, tidak ada heli yang bisa turun. Beliau bertahan sampai pukul 03.00, tetapi akhirnya beliau gugur dalam pelukan saya. Saya tidak bisa lupa komandan saya mengembuskan napas terakhir dalam pelukan saya," kata dia.

(ega/ega)