Testing Rate Meningkat Capai 4,22/1.000 Penduduk Diperiksa/Pekan

Eqqi Syahputra - detikNews
Rabu, 22 Sep 2021 23:35 WIB
Puskesmas Menteng melakukan jemput bola tes swab COVID-19. Bagi anda yang ini tes swab yuk datangi lokasi Seruling (swab seru keliling).
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, memaparkan secara nasional terjadi penurunan kasus mingguan COVID-19 sebanyak 40% dan penurunan jumlah kematian sebesar 48% dibandingkan pekan sebelumnya. Terkait testing rate nasional, ia menegaskan hal tersebut terus ditingkatkan menjadi 4,22 orang diperiksa per 1.000 penduduk per pekan.

"Ini di atas standar WHO atau Badan Kesehatan Dunia yaitu 1 orang diperiksa per 1.000 penduduk per pekan sebagai parameter surveilans yang komprehensif. Kami juga memastikan, seluruh provinsi telah mencapai standar minimal tersebut dengan beberapa provinsi mencatatkan testing rate yang cukup tinggi yaitu di Bali, Riau, Kalimantan Timur dan DKI Jakarta," ujar Nadia dalam keterangan tertulis, Rabu (22/9/2021).

Dalam acara penyampaian update terkait situasi penanganan COVID-19 secara nasional dari Media Center Forum Medan Merdeka Barat 9, hari ini, Nadia menyebut, untuk positivity rate, secara nasional telah mencapai angka 4% atau lebih kecil dari standar WHO, kurang dari 5%. Parameter lainnya adalah menurunnya penggunaan tempat tidur rumah sakit yang diukur dengan Bed Occupancy Rate (BOR).

"Saat ini tidak ada provinsi yang mencatatkan BOR di atas 80%, baik untuk BOR total maupun BOR ICU. Hal ini juga menjadi salah satu target vaksinasi untuk mencegah keparahan jika seseorang yang telah mendapatkan vaksinasi terinfeksi COVID- 19," tambah Nadia.

Pada kesempatan ini, Nadia juga membandingkan masa PPKM Darurat pada Juli lalu atau masa PPKM level 4 pada awal Agustus kemarin dengan kondisi saat ini dimana mobilitas masyarakat sudah meningkat jauh.

"Tampak di semua provinsi menunjukkan peningkatan pergerakan bahkan beberapa sudah melampaui level sebelum pandemi seperti di Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Timur," ujar Nadia.

Nadia juga menyebut adanya beberapa kasus klaster sekolah terkait dengan kegiatan sekolah tatap muka, menurutnya, hal ini harus bisa diambil pelajaran dari adanya beberapa klaster tersebut.

"Perlu kerja sama yang baik antara pihak sekolah, orangtua dan siswa. Protokol kesehatan sangat penting ditegakkan untuk menghindari penularan di komunitas termasuk sekolah," kata Nadia.

Hal yang harus diperhatikan di sekolah adalah cara menerapkan protokol kesehatan yang esensial, seperti menjaga jarak minimal satu meter, mengharuskan semua orang memakai masker, dan memastikan siswa dapat mencuci tangan dengan sabun dan air secara teratur.

Terkait dengan persebaran informasi pada masa pandemi ini, berdasarkan dashboard perilaku COVID-19 dari Johns Hopkins Center for Communication, didapatkan hasil bahwa sumber informasi COVID-19 yang dipercaya oleh masyarakat Indonesia adalah tenaga kesehatan, tenaga ahli, Centers for Disease Control (CDC), World Health Organization (WHO), dan Pemerintah yang rata-rata persentasenya lebih dari 90 persen.

(akn/ega)