Bamsoet Ungkap Tantangan Membangun Wawasan Kebangsaan di Era Digital

Erika Dyah - detikNews
Rabu, 22 Sep 2021 21:37 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo
Foto: Dok. MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menilai tantangan membangun wawasan kebangsaan di era digital lebih kompleks. Menurutnya, perkembangan teknologi informasi yang pesat harus diikuti dengan adaptasi dan inovasi.

Bamsoet menjelaskan, perkembangan media informasi, media sosial dan komunikasi yang berkembang pesat telah mendorong percepatan proses diseminasi informasi yang nyaris tanpa batas. Ia mengatakan derasnya arus globalisasi akibat pesatnya kemajuan teknologi informasi telah mengantarkan masyarakat pada era disrupsi, era digital, era 'the internet of things'. Tak cuma itu, ia pun menilai kemajuan teknologi turut menghadirkan berbagai tantangan kebangsaan yang muncul dengan berbagai dimensinya.

"Lompatan kemajuan teknologi informasi ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi menawarkan efisiensi dan simplifikasi dalam berbagai bidang kehidupan. Namun, di sisi lain juga berpotensi menghasilkan residu dan dampak negatif pada dimensi kehidupan kebangsaan kita," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Rabu (22/9/2021).

"Fenomena ini dapat dirasakan dalam bentuk melemahnya rasa toleransi dalam keberagaman, demoralisasi generasi muda bangsa, tergerusnya kearifan lokal dan nilai-nilai luhur adat budaya bangsa, serta hadirnya paham-paham dan produk-produk yang dikemas menarik, khususnya bagi generasi muda. Padahal sesungguhnya bertentangan dengan jati diri ke-Indonesiaan kita," tambahnya.

Dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKBM) Universitas Insan Cita Indonesia yang berlangsung virtual, Bamsoet mengatakan bahwa perkembangan teknologi ialah suatu keniscayaan. Ia pun mengatakan tingkat adaptasi teknologi informasi di Indonesia yang berkembang cepat patut disyukuri.

Merujuk pada data Digital Report 2021, Bamsoet mengatakan pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 diperkirakan mencapai 202,6 juta jiwa. Ia mengatakan data tersebut menunjukkan akses publik terhadap layanan koneksi internet jangkauannya semakin luas, walaupun dari aspek pemerataan belum optimal.

"Namun sayangnya, besarnya angka pengguna internet tersebut tidak diimbangi dengan tingkat keadaban yang memadai. Hasil riset Digital Civility Index (DCI) yang dirilis tahun ini, menyebutkan bahwa etika dan tingkat keadaban warganet di Indonesia kian rendah. Indonesia berada di peringkat ke-29 dari 32 negara yang disurvei," ungkapnya.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menerangkan rendahnya etika berinternet tersebut ditandai dengan maraknya berita bohong (hoax) dan penipuan di internet (47 persen), ujaran kebencian (27 persen) serta diskriminasi (13 persen). Menurutnya, tingkat literasi digital bangsa Indonesia saat ini masih dalam tahap 'dapat menggunakan' dan belum sampai pada tahap 'bijaksana menggunakan'. Ia mengatakan minimnya pemaknaan literasi digital berdampak negatif pada banyak aspek, salah satunya membuat maraknya kasus pidana.

"Sebagai gambaran, data dari SAFEnet menunjukkan, hingga 30 Oktober 2020, sebanyak 209 orang telah dijerat dengan pasal tentang pencemaran nama baik. Sebanyak 76 orang tersandung dengan pasal tentang ujaran kebencian. Di mana 172 kasus yang dilaporkan berasal dari unggahan di media sosial," terang Bamsoet.

Guna menyikapi perkembangan dan dinamika zaman, Bamsoet berpesan dua hal yang dapat dilakukan, yaitu adaptasi dan inovasi. Menurutnya, era digital telah 'memaksa' semua pihak untuk hidup berdampingan dengan lompatan kemajuan teknologi.

Di masa pandemi, masyarakat pun dituntut untuk memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai bagian proses adaptasi dan inovasi tersebut.

"Pandemi tidak boleh menjadi penghalang bagi kita untuk tetap berkarya dan berkinerja. Pandemi tidak boleh memasung daya kreasi, termasuk untuk memikirkan berbagai persoalan kebangsaan. Dalam konteks inilah, pelaksanaan tugas konstitusional MPR RI untuk melakukan vaksinasi ideologi berupa memasyarakatkan Empat Pilar MPR RI juga disesuaikan format penyelenggaraannya secara virtual atau hybrid," pungkasnya.

Sebagai informasi, kegiatan ini juga turut dihadiri oleh Rektor Universitas Insan Cita Indonesia, Prof. Dr. Laode M. Kamaluddin beserta jajaran Pimpinan Rektorat Universitas Insan Cita Indonesia. Hadir pula Sivitas Akademika serta Keluarga Besar Universitas Insan Cita Indonesia, khususnya para mahasiswa baru Tahun Ajaran 2021/2022.

(akn/ega)