Alibi Penyuap Serahkan 'Uang Bansos' Rp 15 M untuk Angin Prayitno dkk

Zunita Putri - detikNews
Rabu, 22 Sep 2021 15:19 WIB
Suasana Sidang Angin Prayitno (Zunita-detikcom)
Suasana Sidang Angin Prayitno (Zunita/detikcom)
Jakarta -

Jaksa KPK mengungkapkan cara pemberian penerimaan suap Rp 15 miliar oleh mantan Direktur Pemeriksaan dan Penagihan Ditjen Pajak, Angin Prayitno Aji dkk. Seperti apa?

Angin Prayitno Aji didakwa bersama-sama mantan Kepala Sub Direktorat Kerja Sama dan Dukungan Pemeriksaan Ditjen Pajak, Dadan Ramdani, menerima uang suap Rp 15 miliar dan SGD 4 juta atau senilai Rp 57 miliar. Jaksa mengatakan Angin dan Dadan merekayasa pajak sejumlah perusahaan bekerja sama dengan Wawan Ridwan, Alfred Simanjuntak, dan Yulmanizar, serta Febrian selaku Tim Pemeriksa Pajak pada Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan Direktorat Jenderal Pajak.

Berikut pemberi suap Angin dan Dadan:

- Aulia Imran Maghribi dan Ryan Ahmad Ronas selaku konsultan pajak PT Gudang Madu Plantations (GMP)
- Veronika Lindawati selaku kuasa PT Bank Panin Tbk
- Agus Susetyo selaku konsultan pajak PT Jhonlin Baratama (JB).

Jaksa mengatakan, awalnya, Angin dan Dadan menerima uang dari PT GMP. Kasus berawal ketika Dadan Ramdani dan Wawan Ridwan selaku supervisor serta tim pemeriksa pajak membuat analisis risiko wajib pajak PT GMP untuk tahun 2016. Hasil analisis tersebut menunjukkan wajib pajak PT GMP saat itu sebesar Rp 5.059.683.828.

Setelah hasil analisis risiko keluar, tim pemeriksa pajak yang terdiri dari Wawan Ridwan, Alfred Simanjuntak, Yulmanizar, dan Febrian memeriksa pajak PT GMP sesuai surat pemberitahuan yang ditandatangani Angin Prayitno. Kemudian, pada 11 Oktober 2017, General Manager PT GMP Lim Poh Ching dan Aulia Imran Magribi bertemu dengan tim pemeriksa Ditjen Pajak untuk melakukan pembahasan awal di mana tim akan melakukan pemeriksaan lapangan.

Pada 6 November 2017, tim pemeriksa, yakni Wawan dkk, tiba di PT GMP yang terletak di Lampung Tengah. Mereka bersama Naufal Binnur selaku konsultan pajak dari Foreisight Consultant mulai melakukan pengecekan ke PT GMP dan pengambilan data. Jaksa menyebut selama pemeriksaan di lokasi PT GMP, Tim Pemeriksa Pajak memperoleh fasilitas akomodasi berupa hotel yang dibiayai oleh PT GMP.

Pada pemeriksaan tersebut, tim pemeriksa pajak memperoleh catatan di ruang kerja Finance Manager PT GMP, Teh Cho Pong yang menginstruksikan untuk dilakukan rekayasa invoice yang dikeluarkan oleh PT GMP. Setelah selesai pemeriksaan, Tim Pemeriksa Pajak kembali ke Jakarta dengan tiket pesawat yang dibiayai oleh pihak PT GMP.

Setelah pengambilan data, Aulia Imran Magribi dan Ryan Ahmad Ronas selaku konsultan PT GMP menemui Yulmanizar selaku PIC tim pemeriksa pajak. Dalam pertemuan itu, Aulia dan Ryan meminta bantuan Yulmanizar merekayasa pajak PT GMP.

Ryan juga berjanji akan memberikan uang Rp 30 miliar untuk pembayaran pajak PT GMP beserta fee pemeriksa pajak dan pejabat struktural (all in) yang membantu proses pengurusan tersebut. Atas penyampaian dari Ryan, Yilamnizar menyampaikan ke Angin Prayitno dan Dadan Ramdani melalui Wawan Ridwan.

Tak puas jika hanya menyampaikan ke Yulmanizar, Ryan pun menemui Wawan, Alfred, dan Yulamanizar lagi pada Desember 2017. Dalam pertemuan itu, Ryan kembali menawarkan Rp 30 miliar itu.

"Dalam pertemuan tersebut, Ryan Ahmad Ronas kembali menyampaikan permohonan untuk merekayasa nilai pajak yang akan diterbitkan oleh Dirjen Pajak atas pemeriksaan PT GMP serta uang Rp 30 miliar sebagai fee pemeriksa pajak dan pejabat struktural serta pembayaran pajak PT GMP (all in). Atas penyampaian itu, lalu Wawan melaporkan kepada Terdakwa I (Angin) melalui Terdakwa II (Dadan)," kata jaksa.

Setelah pertemuan itu, Yulmanizar dan Febrian melakukan perhitungan nilai pajak PT GMP 2016 dengan menyesuaikan arahan PT GMP ditemukan nilai pajak PT GMP Rp 19.821.605.943,51, serta untuk fee pemeriksa dan struktural pajak sebesar Rp10 miliar.

Yulmanizar pun menyampaikan hasil perhitungan pajak PT GMP itu ke Wawan, kemudian dilaporkan ke Angin dan Dadan. Namun, Angin dan Dadan tidak setuju jika fee Rp 10 miliar, mereka ingin fee Rp 15 miliar dan disetujui oleh PT GMP.

"hingga akhirnya fee disetujui sebesar Rp15 miliar. Selanjutnya besaran fee tersebut dilaporkan Wawan Ridwan kepada Terdakwa I (Angin) melalui Terdakwa II (Dadan), dimana Terdakwa I menyetujuinya. Setelah adanya persetujuan dari Terdakwa I, Wawan menyampaikan kepada Yulmanizar dengan mengatakan, 'Pak Dir setuju'," ungkap jaksa.