Manajer Outlet Holywings Kemang Tersangka Kerumunan!

Yogi Ernes - detikNews
Jumat, 17 Sep 2021 14:52 WIB
Jakarta -

Polda Metro Jaya menetapkan tersangka terkait kasus kerumunan di Holywings Kemang, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Tersangka adalah JA selaku Manajer Outlet Holywings Kemang.

"Dari hasil gelar perkara ditetapkan satu orang tersangka JAS, ini adalah Manajer Outlet Kafe Holywings Tavern Kemang, Jakarta Selatan," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (17/9/2021).

Seperti diketahui, Holywing Kemang digerebek petugas pada 4 September 2021. Kafe Holywings Kemang dirazia karena terdapat kerumunan.

"Dari hasil pendalaman yang didapatkan, tersangka telah diberikan sanksi oleh Satpol PP sebagai tiga kali," katanya.

Di sisi lain, tersangka tidak menerapkan aturan operasional usaha selama masa PPKM level 3.

"Tidak memiliki scan QR barcode Pedulilindungi, yang kewajibannya disiapkan masing-masing kafe, mal, dan restoran. Harus ada barcode QR PeduliLindungi untuk pastikan orang-orang yang masuk itu yang sudah divaksin," jelasnya.

3 Kali Langgar PPKM

Sebelumnya, Satpol PP DKI Jakarta membekukan izin operasional Holywings Tavern Kemang setelah melanggar aturan PPKM level 3. Holywings Kemang tidak boleh beroperasi selama pandemi karena sudah berkali-kali melanggar aturan.

"Berdasarkan data yang kami miliki, tempat ini sudah yang ketiga kali melakukan pelanggaran. Yang pertama pada Februari 2021, Maret 2021, kemudian kemarin tanggal 4 September," ujar Kasatpol PP DKI Jakarta Arifin di Jakarta, Selasa (7/9).

Sesuai Peraturan Daerah No 2 Tahun 2020, Satpol PP memberikan sanksi tegas kepada Holywings yang sudah melakukan pelanggaran berulang. Izin operasional Holywings dibekukan selama pandemi COVID-19.

"Mengacu pada Peraturan Daerah No 2 Tahun 2020, sanksi yang dikenakan kepada Holywings ialah pembekuan sementara izin beraktivitas secara operasional, izinnya kita bekukan," ujar Arifin.

"Ya (pembekuan izin) selama pandemi. Tetap dibekukan (saat Jakarta turun level PPKM)," tambah Arifin.

(mea/mea)