Serba-serbi Owa Siamang yang Sempat Dipelihara Bupati Badung

ADVERTISEMENT

Serba-serbi Owa Siamang yang Sempat Dipelihara Bupati Badung

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Kamis, 16 Sep 2021 12:04 WIB
Seekor Owa Lar (Hylobates lar) menaiki pohon usai dilepasliarkan di kawasan hutan taman wisata alam Jantho, Aceh Besar, Aceh, Kamis (26/8/2021). Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh melepaskan lima ekor satwa liar dilindungi yakni tiga ekor Owa Siamang (Symphalangus syndactiylus), satu ekor Owa Lar (Hylobates lar) dan satu ekor Kukang (Nycticebus coucang), sebagai upaya menjaga habitat satwa di alam Aceh.  ANTARA FOTO/Khalis/Lmo/hp.
Foto: Owa siamang (ANTARA FOTO/Khalis)

Bupati Badung Serahkan Owa Siamang ke BKSDA

Setelah viral di media sosial hingga dikecam oleh warganet, Bupati Badung Giri Prasta akhirnya menyerahkan satwa tersebut ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali. Penyerahan bayi Owa Siamang tersebut atas inisiatif Giri Prasta.

"(Inisiatif penyerahan ke BKSDA) oleh warga Bali itu," kata Kepala BKSDA Bali Agus Budi Santosa kepada wartawan di kantornya, Rabu (15/9/2021).

Agus mengatakan kondisi fisik luar dari bayi owa siamang tersebut masih terlihat bagus saat diserahkan. Ia melihat organ bayi Owa Siamang lengkap, dari jari, tangan, mata, sampai gigi dan sebagainya. Hanya, pihaknya tidak bisa melihat kesehatan hanya dari tampilan luar semata.

"Tapi kan kita tidak bisa lihat hanya dari tampilan luarnya, karena sehat dan tidak sehat itu kan ada proses untuk menyatakan sehat dan tidak sehat, tidak bisa dilihat hanya dari luarnya saja," jelas Agus.

Agus mengatakan, jika berbicara mengenai legalitas satwa dilindungi, ada yang boleh dan tidak boleh dimiliki. Satwa yang boleh dipelihara harus berasal dari penangkaran yang mempunyai izin dan diperoleh dengan cara yang sah.

Namun Agus menegaskan bahwa owa siamang yang dimiliki Giri Prasta dipastikan ilegal. Sebab, selama ini belum ada penangkaran resmi untuk satwa owa siamang.

"Nah, kalau begitu, ini kan bukan dari penangkaran yang sah. Tapi apakah dia dari luar Bali atau dari dalam Bali yang kita akan pelajari lebih lanjut," paparnya.

Hingga saat ini, kata Agus, BKSDA Bali masih fokus untuk menyelamatkan binatang tersebut dan secepat mungkin bisa mengembalikannya ke habitat alam. Supaya bisa dilepaskan di alam, bayi owa siamang tersebut sekolah terlebih dahulu.

"Kenapa perlu sekolah, karena dia tidak dididik untuk hidup di alam. (Minimal sekolah) tergantung individunya. Kalau dia individunya masih menampakkan sifat-sifat keliaran itu cepat. (Owa) Siamang itu cepat, mungkin antara 6 bulan sampai 1,5 tahun," jelasnya.

"Kalau orang utan, (sekolahnya) antara 2 tahun sampai 3 tahun. Kalau (owa) siamang lebih cepat. Nanti semakin kecil sebetulnya, semakin cepat dia untuk liar," imbuhnya.


(rdp/imk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT